My sister - in- law my husband

My sister - in- law my husband
Pulang


__ADS_3

Sekitar jam Sembilan, Dinda mengejapkan manik lezelnya, saat merasa perutnya yang mulai kelaparan.


Iya mengeliat malas, saat merasakan sekujur tubuhnya yang terasa remuk, akibat ulah dari suaminya tadi pagi, namun rasa lapar mampu mengalahkan rasa lelah yang ia rasakan..


Dinda melempar pandangan, diseluruh ruang kamar yang tidak terlalu luas itu.


Mencari keberadaan suaminya disana, yang tidak terlihat batang hidungnya itu, Dinda tidak mau ambil pusing, dan beranjak dari tempat tidur, sambil membalut tubuh telanjangnya dengan selimut saat itu, ia memutuskan untuk membersihkan tubuhnya yang terasa sangat pegal itu.


....


Dan saat bertepatan dengan ia keluar dari kamar mandi, ia melihat suaminya juga baru masuk kekamar dengan mampa dikedua tangannya.


"Yank sini sarapan?" perintahnya sambil meletakan mampan berisi roti dan segelas susu itu dimeja rias.


Dinda hanya diam sambil mendekat, dan tampa menunggu ijin ia mendudukkan dirinya, dan langsung melahap roti itu dengan lahap.


Dean hanya tersenyum, sambil menyerka rambut Dinda yang keluar dari gulungan handuk yang ada diatas kepalanya.


Sehingga menimbulkan percikan air yang mengalir membasahi leher dan dadanya, yang saat itu masih berbalut handuk sepaha itu, sehingga memperlihatkan kaki jenjang nan mulus miliknya.


"Glek" Dean manelen Salivanya kasar, saat melihat tubuh Dinda yang selalu membuatnya candu itu.


Dinda yang tak sengaja melihat tatap mesum suaminya, menghentikan kunyahannya, sambil memicing curiga.


"Jangan mesum!" Teriaknya panik, saat melihat manik coklatnya itu menatapnya dengan liar.

__ADS_1


Dean hanya tersenyum geli melihat wajah panik di wajah cantik istrinya itu.


"Siapa yang mesum? aku hanya mau membantu mengeringkan rambutmu?" elaknya sambil melepaskan handuk yang saat ini membungkus rambut Dinda yang basah, dan mulai mengusap-usapnya pelan, penuh perasaan itu.


"Kecuali kamu yang minta?" bisiknya dengan seringan mesum.


Membuat wanita hamil itu, tersendak mendengarnya. "Uhuk"


"Pelan-pelan dong?" ucap Dean panik, sambil menyerahkan susu ibu hamil yang ia buatkan tadi.


Dinda menyambut susu itu tampa menjawab. sungguh ia kesal dengan suaminya itu yang terkesan tidak tahu malu itu.


"Kenapa dia jadi sangat mesum gini?" pikirnya sambil mengedik ngeri saat membayangkan betapa ganasnya permainan suaminya tadi, yang membuat tubuhnya menjadi remuk begini.


Dean meraih hair dryer dan mulai mengeringkan rambut sebahu istrinya itu dengan telaten, dan sesekali memberi pijitan lembut dikepala istrinya itu, sehingga mampu membuat Dinda merasa rileks dibuatnya.


"Hmm, terimakasih!" jawab Dinda gugup, saat manik mareka saling berpadu, melalui cermin yang ada dihadapan mareka saat ini.


"Cantik!" ucap Dean lagi sambil tersenyum menggoda, membuat Dinda menjadi tersipu malu dibuatnya, dan reflek menunduk kepalanya malu.


Membuat Dean jadi semakin gemas melihatnya, sungguh ia sangat suka melihat rona merah dikedua pipinya istrinya itu, sehingga membuatnya makin genjar menggoda istrinya itu.


Canda tawa memenuhi ruangan kala itu, membuat kedua insan itu, melupakan rasa yang bercampur aduk yang beberapa waktu lalu mareka rasa. Kini hanya ada rasa bahagia dan legah, karena sudah berhasil menyelesaikan, selisih di antara mereka.


....

__ADS_1


Beberapa hari kini sudah berlalu.


Dan tibalah waktu Dean untuk pulang, karena sudah hampir satu Minggu ia disana, menemani istrinya itu, sebenarnya ia tidak tega meninggalkan Dinda yang sedang hamil muda itu sendirian di negeri orang.


Namun apa daya, ia pun tidak mungkin mengabaikan tanggung jawabnya terhadap perkerjaannya.


Dan disinilah Dean saat ini, ia sedang membujuk istrinya itu yang seakan enggan untuk melepaskan pelukannya saat ini.


"Jangan cemberut dong?" pinta Dean sedih, sambil mengelus pipi istrinya lembut.


Dinda hanya diam, dan malah menenggelamkan wajahnya didada bidang suaminya itu.


Rasa sedih, takut, yang tiba-tiba muncul dibenaknya saat ini, yang entah mengapa membuatnya merasa tidak tenang.


"Tidak apa-apa, nanti bila ada waktu luang aku kesini lagi ok?" hibur Dean sambil mengecup pucuk kepala wanitanya sayang.


Sungguh sebenarnya Dean pun sedih namun mau bagaimana lagi, ia tidak mungkin mengabaikan tanggung jawabnya, apa lagi sebentar lagi ia akan menjadi seorang ayah.


Memikirkannya saja sudah membuat dadanya memuncak, Tampa sadar ia mengelus sayang perut istrinya itu.


"Pintar-pintar yang sayang, jangan nyusahin mama?" ucapnya sayang.


"Iya papa?" jawab Dinda dengan meniru kan suara anak-anak itu.


Membuat keduanya serampak tersenyum bahagia, sungguh Dinda ingin menghentikan waktu saat ini juga.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2