
Sebelumnya
"Makan dong Din?" perintah Dean melihat Dinda hanya mengaduk aduk makanannya .
"Atau mau aku suapi?" Godanya sambil tersenyum genit, membuat Dinda merinding melihatnya.
"Tidak perlu, aku bisa makan sendiri!" tolak Dinda Cepat.
Dean hanya tersenyum tampan melihat tingkah istrinya itu.
Ia pun mecolek colek pipi tirus Dinda yang kala itu masih cemberut itu.
"Hentikan?" cuap Dinda jutek, tapi justru membuat Dean kian makin suka menggodanya.
"Jangan cemberut, apa kamu tau ? kemaren anak tetangga kena stroke karena cemberut?!"
kata Dean asal dengan wajah sok serius.
Sambil merapatkan duduknya sehingga hanya tinggal beberapa senti dari sang istri.
Dinda bisa dengan jelas mencium aroma maskulin sang pria saat itu, yang kian menyengat di indra penciumannya, bahkan Dinda bisa merasakan nafas teratur pria disampingnya itu.
Namun Dinda mengubisnya dan membuang jauh jauh rasa gugupan.
Dia pura pura memutar bola matanya males mendengar candaan Dean yang sok jayus abis itu.
Bukanya membuat Dean berhenti mengganggunya, malah membuat Dean yang melihatnya semakin gemes dibuatnya dan...?
"Cup." Dean mengecup bibir Dinda singkat namun mampu membuat Dinda melayang.
Ketika bibir mareka saling bersentuhan, menciptakan getaran aneh nan asing yang merasuki jiwa dan raga keduanya saat ini.
Dinda
memandangi sekitar ruangan resto itu, dan bernafas lega, karena tak ada yang melihat tindakan Dean saat itu.
"Apa yang kau lakukan? apakah kau tak malu mencium wanita ditempat terbuka seperti ini?" ucap Dinda kesal melihat sikap semenang menang Dean saat itu.
"Abis siapa suruh kamu imut? kan aku jadi gemes?" jawab Dean santai tampa rasa bersalah.
Membuat Dinda mati matian menahan diri agar tak meneriaki sang suami yang asli nyebelin kala itu dimata Dinda.
__ADS_1
Dinda menghela nafas berat untuk menenangkan diri menghadapi tingkah laku suaminya itu yang sulit ditebak.
"Minggu depan kita akan menghadiri ultah temanku Moren!" ucap Dean tegas tak menerima penolakan dari dang istri.
"Jadi pastikan kau tak ada acara minggu depan?" lanjut Dean.
Sehingga Dinda engga untuk berdebat, karena melihat sikap Dean yang diluar nalar baginya.
Bagaimana tidak? kemana hilangnya dikap Dingin, jutek, dan cool pria itu saat ini?
Yang ada hanya Dean yang usil yang suka menggodanya dan Cerewet mengalahkan ibu ibu tetangga.
Sehingga membuat Dinda males meladeninya.
.
.
.
.
.
Sebenarnya bukan itu yang Dean lihat, tapi ia penasaran karena sang istrinya kini tengah menggunakan masker.
Jadi iapun memutuskan untuk menghampiri Dinda kala itu.
"Kamu sakit?" tanya Dea khawatir sambil menaruh tangannya dikening sang istri.
Sementara Dinda mencibirkan bibirnya dibalik masker tersebut.
"Gak panas?" kata Dean sambil menyengit kening heran.
Namun Dinda masih membisu, ya karena Dinda masih kesal dengan pria itu saat ini.
Siapa yang tak kesal coba? Dinda hampir saja mati krem karena kelamaan duduk hanya untuk menunggu pria tengil sok perhatian ini?
Sungguh Dinda masih tak terima, apa salah bila dia marah? tidakkan?.
Dean yang sadar bila wanita yang ada dihadapannya ini masih marah.
__ADS_1
"Ehm?" katanya "Apakah ada orang?" lanjutnya
dengan mimik lucu, sehingga membuat Dinda mati matian menahan tawanya agar tak pecah.
Bagaimana pun ia mau balas denda dengan cara mengabaikkan pria ini.
Agar dikemudian hari dia lebih bisa menghargain janji.
Karena janji itu hutang.
Walaupun ada rasa iba sih melihat mimik frostasi Dean, namun Dean tetap berusaha untuk membuat lelucuan yang bisa dikata gorikan bukan bidang pria itu.
.
.
.
.
Bersambung
.
.
.
.
Hay guys, jangan lupa likeβ€ komentar dan bintang limanya ya?
Karena itulah yang semakin membuat
author semangat menulis
Novel ini.
Terimakasih sudah mampir.
ππππ
__ADS_1