My sister - in- law my husband

My sister - in- law my husband
Gagal Romantis


__ADS_3

"Aaàgrrhh!" pekik Dinda kaget, ketika tubuhnya sudah berada digendonganDean, tampa sadar Dinda pun menarik rambut Dean kasar.


Sehingga membuat Dean tampa sadar melepas tangannya.


Dan alhasil Dinda jatuh tersungkur kelantai dan tampa sadar menarik handuk yang melilit dipinggang Dean alhasil handuk itu pun terlepas.


Manik lejel Dinda terbelalak, melihat apa yang ada didepan matanya saat ini.


sedetik....dua detik...tiga detik....?


"Aaaarrrgggkkkkkhhhh.....?! teriak Dinda histeris sambil menutup matanya dengan kedua tanggannya.


Sontak Dean melihat kearah pandang Dinda tadi, dan melihat handuk yang ia gunakan sudah terjatuh akibat ditarik wanita itu tadi.


"Dasar mesum?" teriak Dinda dengan pipi merah seperti tomat.


Bagaimana tidak, ia baru pertama melihat punya orang dewasa dan itu sungguh membuatnya sangat malu.


Dean meraih handuknya dan langsung ia kenakan kembali, tampa merasa malu sedikitpun berbanding terbaling dengan Dinda yang masih menutup matanya rapat rapat kala itu.


"Sorry kata Dean dengan wajah menyesal karena sudah melepaskan tubuh Dinda tadi.


Dinda yang mendengar permintaan maaf Dean baru sadar bila bokong sakit luar biasa.


"Aduh....sakit...?!" keluhnya sambil memegang bokong dengan mata berkaca kaca.


Dean pun menjungkukkan tubuh untuk menyamai tinggi istrinya saat itu.


"Sorry, kamu juga, yang salah, coba jangan menarik rambutku pasti kamu gak akan jatuh?" kata Dean lagi sambil tersenyum geli


Membuat Dinda memicing matanya tak suka, "Rambutmu hilang?" cuap Dean lagi sambil membelai rambut Dinda yang pendek, disisipkannya rambut yang menutupi wajah Dinda ketelinga.


Sehingga ia bisa melihat wajah cantik istrinya itu dengan jelas.


Wanita itu hanya menggunakan daster tipis, tampa menggunakan bra, sehingga Dean dengan jelas melihat bukit indah wanita itu.

__ADS_1


Hanya pria munafik yang tak tergoda melihat keindahan yang adapada Dinda malam ini, dan Dean selaku pria normal berusahan dengan susah payah menahan gairahnya saat itu.


"Sini ku bantu?" tawar Dean sambil menggendong tubuh Dinda dan meletakannya diatas tempat tidur.


Kemudian diapun beranjak ke lemari mencari baju yang bisa ia kenakan.


Dinda menatap gerak gerik pria itu dengan seksama.


"Pantas lemarinya terkunci!" gumannya pelan ketika melihat Dean mengambil kunci diatas lemari pakaian tersebut.


Seketika Dinda mengarahkan pandangan ke seluruh penjuru kamar itu, iapun menepuk kepala panik dan malu.


"Astaga, mengapa aku baru sadar, bila ini kamar pria ini?" gumannya panik.


Dean sudah menggunakan baju tidur sambil berjalan kearah Dinda kala itu.


Membuat wanita itu panik melihatnya.


"Mau apa?" teriak Dinda sambil menutupin dadanya panik.


"Kenapa kau takut sekali?" tanya Dean dengan wajah tak senang.


Diapun memilih keluar meninggalkan Dinda yang masih diam membisu saat itu.


"Apakah salah bila aku takut? bagaimanapun juga dia orang asing bagiku!" ucap Dinda dalam hati.


.


.


.


Lima menit kemudian Dindapun mengganti bajunya dengan piama panjang tidak lupa iapun mengenakan bra, ya walaupun risih, karena ia sudah terbiasa bila tidur tak mengenakkan bra, itu sudah kebiasaan seorang Adinda purti. Jadi agak sulit emg untuk mengubahnya.


Dindapun keluar dari kamar dan melihat suaminya itu sedang duduk diruangan kerja yang tarletak didekat ruang keluarga.

__ADS_1


Dindapun berjalan menghampiri suaminya tersebut.


"Apa kah kau sudah makan?" tanya Dinda yang kini sudah ada disamping suaminya itu.


Dean hanya diam tampa mengubis pertanyaan istrinya itu, dia masih kesal melihat tinggah istrinya yang terkesan sok jual mahal padanya.


(ya karena para pria itu bisa melakukan hubungan intim walau tampa dasar cinta)


Membuat Dinda jadi merasa bersalah melihat sikap bungkam suaminya.


"Mogok Ngomong nie, ceritanya?" tanya Dinda kesal sambil memutar kedua matanya jengah.


Tapi Dean masih kekeh dengan aksi bungkamnya, "ya udah aku makan sendiri aja?" kata Dinda cuek dan pergi meninggalkan suaminya itu dengan muka masam,


Karena Dinda tak membujuknya lagi


Deanpun memilih menyusul sang istri karena panggilan alam. Perutnya sudah keruncungan karena siang tadi dia lupa makan akibat menemani Cesya tadi siang.


Dinda tersenyum senang melihat Dean sudah duduk manis dihadapanya saat ini, iapun mengambilkan nasi dan lauknya untuk diserahkan kepada suaminya itu.


Mareka makan dengan diam Dinda hanya tersenyum geli melihat aksi bungkam Dean kala itu


.


.


.


Bersambung


.


.


.

__ADS_1


.


Hay guys, jangan lupa like, ❤ n komentarnya ya? makasih


__ADS_2