My sister - in- law my husband

My sister - in- law my husband
Bolehkah aku marah


__ADS_3

Sebelumnya


Yang terlihat jelas di wajah cantiknya saat itu.


Ya siapa yang tidak marah dan kecewa melihat pria yang kita cintai memeluk wanita lain.


Walaupun wanita itu adalah sahabatnya sendiri. Ya wanita itu adalah Cesya, yang Dinda tau adalah sahabat dari suaminya sendiri.


"C...yank, sedang apa kau disini?" tanya Dean binggung dan sedikit kaget, melihat tatapan Dinda yang seakan ingin menerkam mangsanya itu.


"S... seharusnya aku yang bertanya, apa yang kau lakukan disini?" jawab Dinda ketos, dengan suara bergetar sambil menatap Cesya dan Dean secara bergantian.


Terlihat ada luka lebam diwajah Cesya saat itu.


"Tenang, ini tak seperti yang kau pikirkan?" jelas Cesya tak enak hati, melihat tatapan Dinda yang seakan mencurigainya, sambil mengusap cairan kristal yg membasahi kedua pipinya itu.


Dinda menghela nafas berat mencoba menenangkan diri nya sendiri.


"Maafkan aku, mungkin aku memang salah paham, tapi bukan kah tak pantas bila pria dan wanita yang sudah berumah tangga berpeluk mesra ditempat umum seperti ini?" ucap Dinda sambil tersenyum sinis kepada dua manusia dihadapan tersebut.


"Cukup Dinda, bukankah sudah aku jelaskan bila Cesya itu adalah sahabat ku. tolong lah, jangan dibuat rumit?" pinta Dean yang sudah pusing.

__ADS_1


"Dan tolong simpan pikiran negatifmu itu ok?" sambung Dean lagi.


Dinda menatap Dean jengah, bisa -bisanya suaminya itu berpikiran seperti itu.


Bagaimana ia tida berpikir negatif coba, bila mengingat sikap Dean selama ini terhadap Cesya yang menurut Dinda terlalu berlebihan itu.


Saat Dinda mau menjawab perkataan suaminya itu, tapi lebih dulu dipotong oleh Cesya.


"Maaf, ini semua salahku, seharusnya aku tidak memintanya untuk menemaniku!" ucap Cesya sambil beranjak dari tempat duduknya, namun segera di cegah oleh Dean. Dengan menarik tangan nya, erat.


"Ini bukan salahmu, sudah sewajarnya aku membantu mu!" jawab Dean tulus, sambil menatap Cesya iba.


Sedangkan Dinda saat semakin marah dan terbakar rasa cemburu, saat mendengar bila Cesyalah yang membuat suaminya tadi pergi terburu-buru meninggalkannya.


Sehingga membuat tangan itu terlepas dengan kasar.


Dean tersentak kaget dibuatnya . karena jujur ia baru pertama melihat tingkah istrinya yang seperti ini, seperti bukanlah Dinda yang ia kenal.


Kerena Dinda yang Dean kenal adalah wanita sabar dewasa, dan pendiam, setidaknya itulah yang Dean tau selama ini.


"Maaf Dean aku tak tau bila masalahku, akan membuatmu sulit, jadi lupakan saja permintaanku tadi!" ucap Cesya tak enak melihat aura Dinda yang seakan tak bersahabat itu.

__ADS_1


Hening tak ada sahutan dari Dean, ia masih menatap Dinda dengan tatapan tak percaya.


Begitupun sebaliknya Dinda menatapnya penuh kecewa, dengan tangan bersedepak didada.


Cesya yang melihat itu, memutuskan untuk pergi, karena tak enak melihat sudah banyak pengunjung yang mulai memperhatikan mareka.


"Aku pamit duluan!" ucapnya sambil meraih tas jinjingnya dan berlalu pergi, meninggalkan Dean dan Dinda yang masih saling tatap dalam diam itu.


"Mengapa tak kau kejar sahabatmu itu?" cibir Dinda karena milihat Dean yang masih menatapnya tak berkedip.


Dean yang tersadar, bila sudah tak melihat keberadaan Cesya disana, Jadi gelabakan.


"Kamana Dia?" pikirnya sambil menatap pintu keluar yang masih memperlihatkan punggung Cesya disana.


Tampa berpikir panjang Dean pun berlari mengejarnya.


Meninggalkan Dinda yang saat ini memandanginya dengan tatap penuh kecewa.


"Seginikah arti diriku bagimu?" gumannya pelan sambil mendudukkan dirinya lemah, ia tak kuasa menahan cairan kristal yang mengalir bagaikan hujan itu, sakit perih itulah yang ia rasa saat ini.


"Bodoh! apa yang aku harapkan dari pria yang seperti itu? sadarlah Dinda ia hanyalah pengganti!" ucapnya sambil tersenyum hambar, ia meraih

__ADS_1


ponsel nya dan mulai mengetik pesan disana, entah hanya ia yang tau.


Bersambung


__ADS_2