
Dean pun sudah selesai dengan ritual mandinya, saat dia keluar, dia melihat wanita yang kini menyandang sebagai istrinya. Telah tertidur pulas diatas sofa.
Dean menghampiri wanita yang bestatus istrinya itu, dia berniat untuk membanggunkan Dinda, tapi tak tega karena melihat wajah lelah istrinya tersebut.
Diapun mengambil inisiatif untuk mengendong tubuh mungil istrinya itu, dan membaringkannya dikasur king size yang ada dikamarnya itu.
Diapun meletakkan tubuh Dinda pelan agar tak membangunkan sang empu dari tidur lelapnya.
Dean diam sambil memperhatikan wajah polos Dinda yang kala itu tampa riasan sama sekali. "Cantik" guman Dean kagum akan keindahan yang ada dihadapannya saat ini. Bibirnya yang merah walau tampa polesan lipstik, dan kulit wajahnya yang putih halus, sehinga entah setan apakah yang merasukin Dean saat ini, wajah Dean kini sudah ada dihadapan wajah Dinda hingga membuat Dean bisa merasakan nafas teratur Dinda saat ini. "Cup" Dean mengecup bibir mungil itu, tak cukup dengan kecupan Dean pun melumat bibir istrinya lembut, tanganya mulai meraba masuk mengelus perut rata Dinda, kulit Dinda yang halus semakin menambah gairah yang sedang Dean rasakan saat ini. sehinga membuatnya ingin merasakan wanita itu lebih. Bibir Dinda yang manis nan lembut semakin membuat Dean tak bisa mengontrol dirinya sendiri. "Ah...." suara lembut lolos dari bibir Dinda dikala tangan Dean meremas payudaranya kasar, sehingga membuat sang empu terbanggun kaget melihat, apa yang terjadi dihadapanya saat ini.
"Apa yang kau lakukan?" Teriak Dinda kaget, bagaimana tidak dia saat ini tidak mengenakan sehelai bajupun. Refleks ia mendorong Dean menjauh darinya.
"Dinda kau boleh marah saat ini, tapi aku sungguh sangat menginginkan mu? jadi bolehkah?" tanya Dean dengan mata berkabut karena gairah.
"Maafkan aku, tapi aku belum siap menyerahkan diriku untukmu!" jawab Dinda gugup.
"Kau menolakku?" Teriak Dean marah. "Sudahlah!" lanjut Dean lagi sambil berjalan meninggalkan Dinda yang mematung saat ini. Entah mengapa melihat wajah kesal Dean membuatnya merasa bersalah, telah menolak permintaan suaminya tersebut. "Damn" bantingan pintu keras membuat Dinda jadi takut akan kemarahan Dean kala itu
💐💐💐💐💐💐💐💐💐
Paginya Dinda sudah bergulat di dapur membantu bibi Sri asisten rumah tangga untuk menyediakan sarapan pagi ini. Tadi malam Dean tak kembali kekamar, Dinda tak ambil pusing dia masih canggung dan dia takut Dean menyerangnya lagi. Makanya dia tak berniat mencari suaminya itu. Belum kenal, masa dia harus melayani gairah suaminya itu. Itulah pikir Dinda.
__ADS_1
Dean sudah duduk dimeja makan dengan menggunakan baju kerjanya.
"Non, itu suaminya, gak dibikin minum dulu?" tanya bi Sri. heran melihat sikap acuh Dinda, Sebenarnya bi Sri tau bila Calon suami Dinda adalah sisulung,
"Mmm, bibi aja yang bikin, Dinda gak tau minum apa yang biasa Dean minum!" jawab dinda sambil memotong wortel. Sebenarnya Dinda masih canggung, dan tak tau mau bersikap gimana didepan Dean, ciuman semalam masih bikin dia kesal dengan pria itu, bagaimana tidak Dean sudah menciumnya tampa seijinnya.
Bi Sri pun berlalu untuk membuat kan kopi untuk majikanya itu. Selesai membuat kopi iapun mengantarnya untuk Dean. Dean melirik kearah bi Sri yang mengantarkan kopi untuknya.
"Non Dinda lagi masak tuan muda!" ucap bi Sri seakan tau apa yang dicari Dean saat itu.
"Hmm!" jawab Dean singkat. Selesai memasak Dinda pun ikut menyusun masakannya dan bi Sri tadi. Sedangkan mertuanya udah berkumpul dimeja saat ini.
"Pagi sayang?"sapa mama Chinta sambil mencium sayang pipi Dinda.
Mama Chintapun berlalu menghampiri anak bungsunya dan menciumnya sayang.
"Pagi Dean sayang?" ucap mama Chinta dimana hanya mendapatin anggukan dari si empu.
Papa yang melihat tingkah istrinya hanya tersenyum, dia sudah biasa dengan tingkah laku istrinya itu. Dinda duduk disamping Dean marekapun sarapan dalam diam, tak ada satupun yang mengeluarkan suara, hening sampai sarapan pagipun selesai.
Selesai sarapan Deanpun pamit untuk berangkat kerja , ia berjalan keluar tampa menoleh ke Dinda. dia masih kesal dengan penolakan Dinda tadi malam, Dinda yang melihat Dean berlalu hanya menghela nafas sambil mengikuti sang suami, mengantarnya sampai pintu.
__ADS_1
"Maafkan aku, aku tak bermaksud untuk menolakmu, tapi menurutku terlallu cepat kalau kita melakukan itu?" ucap Dinda sambil menunduk.
"Tidak apa apa, kakak ipar!" ucap Dean dingin, ia masih kesal dengan penolakan dinda.
Dinda tersetak kaget dengan apa yang baru saja Dean ucapkan, sehingga membuat kedua pipinya merah padam.
"Sama sama adik ipar!?" saut Dinda membalas perkataan Dean sambil merengut kesal. Dean masuk mobil dengan muka ditekuk kesal, karena Dinda membalas ucapanya.
"Hati hati adik ipar, semoga hari mu menyenangkan!" ucap Dinda dengan nada meledek. Dean hanya diam dan berlalu dari pandangan dinda saat itu.
.
.
Bersambung
.
.
Hay guys jangan lupa likenya ok?
__ADS_1
Makasih