
"Dinda?" teriak Dean namun Dinda tak mengubisnya dan semakin mempercepat langkahnya saat itu.
Sehingga Dean hanya bisa menghela nafas pasrah melihat kelakuan istrinya itu.
Sementar Siska hanya diam dengan hati gembira senang karena berhasil membalas Dinda kala itu.
"Dean sebaiknya kamu pulang, biar aku dan Siska yang akan menjaga Cesya disini?" perintah Moren mengingat karena dari kemaren malam sahabatnya itu belum pulang.
"Tapi...? Belum selesai Dean bicara namun Moren sudah terlebih dulu memotongnya.
"Dean!! ingat, kamu sudah memiliki keluarga? aku tau Cesya adalah sahabatmu, tapi Dinda istrimu?" Ucap Moren tegas, sambil memandang manik coklat Dean serius.
Sehingga Dean hanya bisa mengiyakan perintah sahabatnya itu.
"Baiklah aku pulang!" jawabnya sambil berlalu pergi.
Sehingga membuat Siska memandang Moren dengan sangat kesal.
Saat merasa Dean sudah jauh Siska pun berbicara kepada kekasihnya itu.
"Kenapa loe usir Dean?" tanyanya dengan nada sedikit membentak.
Moren menatap Siska seksama, bisa dia lihat kemarahan dimata kekasihnya itu untuknya saat itu.
"Gue gak ngusir Cyank? cuma bagaimanapun Dean sudah punya keluarga, apa loe mau Dean kena masalah hanya karena Cesya? aku yakin pasti Cesya pun tak akan senang?" kata Moren lembut sambil mengelus pelan pucuk kepala Siska saat itu.
"Ya..kau be-nar!" jawab Siska gugup, mana mungkin dia mengatakan bila dia senang kalau Dean dan Dinda ada masalah bukan.
Jadi ia hanya bisa mengiyakan ucapan kekasihnya itu sambil bergulat manja ditangan kekasihnya itu saat ini.
Para perawat masih menatap mareka dengan saling berbisik satu sama lain, karena mareka yang menyaksikan sendiri kelakuan gadis yang bertingkah sok manis kepada kekasihnya itu tadi.
Sehingga membuat mareka menggelang tak percaya melihatnya.
πππππ
Kini Dinda baru sampai ruangannya dengan perasaan kacau dan lelah.
Dia tidak menyangka bila Siska tega memfitnah dirinya dihadapan suaminya dan kekasihnya tadi sehingga membuat Dinda yang membayangkannya menjadi sangat kesal.
"Sebenarnya apa sech yang aku perbuat? sehingga Siska sebegitu tak sukanya padaku?" pikirnya bingung sambil memdudukkan diri dikursi yang memang disediakan untuk para kariawan di UGD saat itu.
__ADS_1
Tampa sepengetahuan Dinda Yudis tengah memperhatikannya sejak tadi, dengan dahi berkerut.
Melihat wajah cantik Dinda yang terlihat sedih itu.
πππππ
Sedangkan Ditempat lain Dean sudah ada diapartemennya, dia merasa bersalah kepada istrinya itu tadi, dan ia l baru saja melihat ponselnya yang dari kemaren tertinggal dimobil itu.
Penuh dengan panggilan dari Dinda pesan Chat, semuanya dari sang istri, sehingga membuatnya menyesali kebodohannya karena pergi tampa pamit kepada Dinda saat itu.
Dean tidak menyangka bila istrinya sangat memperhatikannya, sehingga tampa sadar bibirnya tersenyum tipis saat membaca pesan Chat yang dikirimkan Dinda untuknya.
Saat sudah puas membaca pesan dari sang istri Dean pun melempar ponselnya kesofa kamarnya, sambil berjalan kekamar mandi untuk membersihkan dirinya yang sejak kemaren belum tersentuh air itu.
Tapi belum sempat ia melangkah, ponselnya sudah berdering dengan nyaring.
Dean pun meraihnya dan melihat bila papah Bima yang sedang memanggilnya.
Dean merasa malas, namun tetap menjawabnya walaupun tidak suka.
πππππ
Malamnya Dinda bersiap untuk pulang bersama Wina, Selva dan Yudis.
Selva melambaikan tangannya kearah Dinda dan Wina, sambil menaiki motor Vario merah punyanya. Dinda dan Wina membalas lambaian Selva
sambil menaiki mobil punya Wina saat itu, meninggalkan Yudis yang masih berdiri memandang mareka.
Dinda membuka kaca mobil Wina kala sadar bila temannya masih berdiri diluar, sambil menatap Yudis, "Kamu! perlu tumpangan?" tanya Dinda sambil menatap mata hitam kelam Yudis lekat.
"Tidak!! aku hanya sedang melihat kepergian kalian!." jawabnya sambil menaiki ninja CBR Hitam miliknya, yang memang hanya beberapa meter dari tempat berdirinya saat itu.
Dinda hanya ber oh ria saat mendengarnya sambil melambaikan tangannya berbasa basi kepada pria itu.
Dengan Wina yang mulai melaju mobilnya meninggalkan Yudis yang masih menatap mobil Wina sampai mobil itu hilang dari pandangan matanya saat itu.
πππππ
Dinda dan Wina berhenti di sebuah rumah makan Kaki lima yang tak terlalu jauh dari arah apartemen Dinda saat itu.
Mareka memesan lalapan Goreng ayam dan nasi pecel, sambil menunggu makanan datang Wina pun menanyakan tentang masalah yang tengah menimpa sahabatnya itu, yang belum Dinda jelaskan padanya.
__ADS_1
Dindapun menceritakan semua kepada sahabatnya itu, saat ia yang bertemu Dean dirumah sakit dan tentang Siska yang sudah memfitnahnya tadi.
Dan entah mengapa membuat hatinya terasa sakit saat membayangkan kejadian tadi.
sehingga air mata yang sejak tadi ia tahan , jatuh menetes membasahi pipinya saat itu.
Sehingga membuat Wina yang melihat dengan sigap memeluk sahabatnya itu, untuk menenangkannya.
Saat Wina merasa Dinda sudah tenang dia pun berlahan melepas dekapannya sambil memberi selembar tissue ke arah sahabatnya itu.
"Aku heran Din? mendengar ceritamu?" kata Wina sambil memandang Dinda lekat.
"Maksudmu?" tanya Dinda sambil membuang ingusnya pelan.
"Iihh, Jorok?" teriak Wina sambil mengedik ngeri melihat kelakuan sobatnya itu.
"Biar!!." jawab Dinda cuek sambil melempar Tissue itu ke tong sampah yang tak jauh dari tempat mareka berdua duduk.
Sehingga membuat Wina hanya menghela nafas dalam, melihat kelakuan sobatnya itu.
"Dari cerita kamu? kok bisa si Siska itu sangat membemcimu?" tanya Wina lagi sambil menyantap makanan yang sudah ada dihadapannya itu dengan lahap.
"Aku juga tidak tau Win? seingatku aku tak pernah berbuat salah ke dia!!." jawab Dinda sambil berpikir.
Kali aja emang dia pernah melakukan kesalahan kepada Siska tampa sengaja, sehingga dia mencoba mengingatnya kembali.
ππππ
Bersambung
.
.
.
.
Hay jangan lupa.
Likeπ
__ADS_1
Loveβ€
dan komentarnya okπππ