My sister - in- law my husband

My sister - in- law my husband
Sedih


__ADS_3

Kini Wina dan Dinda tengah duduk disalah satu Restoran yang ada di Mall tersebut.


Dinda mengambil es batu yang ada pada minuman cocacolanya dan membalut es batu itu menggunakan tissue lalu meletakkannya di dahi Wina yang terlihat benjol dan membiru itu.


"Aauuwwhh, sakit?" rintih Wina sambil memelototkan matanya sehingga membuat matanya menjadi bulat seperti kalereng itu.


Bukannya membuat Dinda takut, malah membuat sahabatnya tersenyum geli melihat mimik Wina saat itu, yang sumpah manis seperti coklat.


"Iihh...gak lucu!" teriak Wina kesal melihat Dinda tersenyum diatas penderitaannya saat itu.


"Lucu?" jawab Dinda sambil terkekeh


"Nggak?" bantah Wina sambil menggelengkan kepalanya kesal.


"Mentang mentang ditraktir semangat banget, masih untung nabrak orang, kalau nabrak tembuk gimana?" omel Dinda dengan nada meledek, dan sok bijak itu.


Sehingga membuat Wina yang melihatnya sontak mengembungkan kedua pipinya pura pura kesal.


"Kamu manis dech Win seperti itu, manis sekali seperti anak kucing!" puji Dinda gemas, sambil mengoleskan salap Bioplasnton ke Dahi Wina dengan hati hati agar bisa mengurang rasa sakit yang Wina rasakan.


"Manis apanya Din? aku sedang sakit ini?" jawab Wina sambil memakan kentang goreng yang mareka pesan tadi.


"Nach, selesai." ucap Dinda tak menghiraukan ucapan sahabatnya itu, karena Wina paling kesal bila dikatain manis.


Dinda juga gak tau alasannya, karena menurutnya itu tidak terlalu penting, jadi selama ini Dinda tak pernah menanyakan alasannya.


🍁🍁🍁🍁


Beberapa jam kemudian Dinda mengajak Wina ke Swalayan untuk membeli beberapa bahan pokoknya mulai habis dirumahnya.

__ADS_1


Selesai berbelanja Wina mengantar Dinda pulang ke apartemennya, kemudian iapun melajukan mobilnya meninggalkan kawasan bangunan megah tersebut.


πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’


Dinda memasukin apartemennya yang terlihat sepi dan gelap itu. Iapun menyalakan lampu dan berjalan kedapur untuk menyiman belanjaannya dilemari pendingin.


Selesai menyimpan belanjaannya Dinda pun memutuskan untuk memasuki kamarnya, belahan ia menjatuhkan tubuhnya, sehingga membuat tubuhnya terlentang.


"Sepi sekali!" ucapnya pelan, karena saat ini hanya dia sendiri diapartemen mewah dan besar itu.


Entah mengapa hatinya menjadi sedih, mungkin karena beberapa hari ini selalu ada Dean yang menemani harinya, ditambah dengan kehadiran kedua mertuanya menambah kehangatan yang beberapa hari ini ia terima.


Tiba tiba Dinda teringat sesuatu, iapun mendudukan diri dan berjalan kearah paket yang tadi pagi ia terima.


Dinda membuka kotak itu dengan belahan lahan.


Sehingga menambah kesan anggunnya gaun itu selutut itu ditamba.


Dinda mengangkat alisnya berpikir, siapa yang telah mengirim paket itu.


Kemudian ia melihat ada surat yang diselipkan didalam kotak tersebut.


"Pakailah jam tujuh aku akan menjemputmu!"


Dan tertulis nama Ardean Anggara dibawahnya.


Dinda memandang jam dinding yang ada dikamarnya sudah hampir jam tujuh malam, hanya kurang beberapa menit saja itu.


Dengan panik dia menghambur masuk kamar mandi, dengan cepat ia memcuci wajah, tangan, dan kakinya, karena waktu yang tidak memungkinkan untuknya mandi.

__ADS_1


Saat ia baru saja memakai gaun tersebut, pintu kamar tiba tiba terbuka, Dean berdiri disana, dengan menenakan kemeja putih dengan jas hitam, dan dasi kupu kupu.


Tampan sekali itulah kata yang terlintas dipikiran Dinda melihat penampilan suaminya tersebut.


"Koq belum siap?" tanya Dean heran.


"Iya aku baru lihat isi paketnya!" jawab Dinda jujur sambil mengoles bedak di wajah tampa menatap Dean yang sedang memperhatikannya.


Dean tak menjawab, ia memasuk kamar dan mendudukkan diri ditepi ranjang yang berada tepat dibelakan Dinda.


Sejenak Dinda memperhatikannya dari kaca, sambil memasang maskara di matanya.


Agak risih memang namun Dinda tak mengubisnya karena melihat wakutnya terus berjalan.


Dean menatap punggung Dinda, sebenarnya Dean masih enggan menegur Dinda, namun dia tak tega mendiamkan istrinya itu, bukannya menyiksa Dinda. malah hati Dean yang sakit ketika mencuekin istrinya itu.


Apa lagi Dean sudah terbiasa memeluk Dinda saat tidur, ketika tak memeluk istrinya itu, seakan ada yang kurang pada dirinya itu.


(Bagaikan HP tampa kuota) tau sendirikan rasanya?.


Dinda memblow rambut sebahunya itu, sakali kali ia mencuri pandang dengan suaminya itu, yang masih terlihat cuek padanya.


"Aku sudah siap!" ucap Dinda sambil meraih tas tangannya sambil beranjak keluar meninggalkan Dean disana.


Bersambung


πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’


Hay guys jangan lupa like❀ n komennya oke😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2