
Sore harinya, Dinda baru saja selesai membersihkan tubuhnya.
Tiba tiba ucapan Wina tadi teriyang-iyang di benaknya, yang entah mengapa tingkat keingin tauannya meninggi.
Bukannya dia suka Ferry, cuma penasaran saja, karena Ferry pernah bilang akan menunggunya, namun ini sudah 3 tahun lebih sudah berlalu, apakah janji itu masih berlaku?.
Dinda menggeleng kepalanya sambil tersenyum kecil.
"Tidak! itu tidak mungkin?!" ucapnya sambil tersenyum cerah, namun beberapa saat kemudian senyumannya itu seketika sirnah begitu saja.
"Bagaimana kalau itu aku?!" ucapnya lagi dengan wajah takut dan gelisah, sehingga tampa sadah dia berjalan mondar-mandir seperti orang linglong saat itu.
"Tidak!! mana mungkin?!" ucapnya lagi sambil mengeringkan rambutnya menggunakan handuk itu.
💐💐💐💐💐💐
Ditempat lain
Kini Dean baru saja pulang kerumah, yang sudah disambut hangat oleh mama Chinta saat itu.
"Sayang apa kabar?!" tanya mama Chinta sambil memeluk hangat putra bungsunya itu.
"Baik ma, mama Sendiri, baik?" tanya Dean sambil memperhatikan lekat mama Chinta saat itu.
__ADS_1
"Puji syukur nak, mama juga baik!!" jawab mama Chinta dengan senyum cantiknya.
"Sayang sekali istrimu tidak bisa ikut ya?" ucapnya lagi dengan wajah sedih.
"Iya mah, Dinda sangat sibuk akhir akhir ini." jawab Dean lagi.
"Dean kekamar dulu mah, mau istrirahat, badan Dean sangat lelah!" ucapnya sambil menggerakkan otot-otot tangannya yang terasa pegal saat itu.
"Iya, silakan sayang?!" jawab mama Chinta yang merasa prihatin melihat putranya tersebut yang terlihat sangat lelah itu.
Dean pun berjalan ke arah kamarnya.
Sesampainya dikamar, bukannya istrirahat Dean malah mengambil ponsel miliknya sambil sibuk mengutak atik ponselnya tersebut untuk memanggil seseorang dengan panggilan suara.
"Hallo?" jawab Dinda dengan suara hasnya yang sudah sangat Dean rindukan itu.
"Sedang apa?" tanya Dean sambil merebahan dirinya keranjang size king miliknya saat itu.
"Baru selesai mandi, nanti mau tugas lagi jaga malam?!" jawab Dinda dengan suaranya yang terdengar sangat merdu sehingga membuat Deannya medengarnya berdebar-debar meski hanya mendengar suaranya.
"Hmm, jangan lupa makan ok?!" ucap Dean dengan nada khawatir, mengingat kebiasaan Dinda yang sering telat makan itu.
"Iya, gak lupa koq, gimana kamu sudah sampai? apakah urusannya sudah beres?" tanya Dinda tampa jeda, sehingga membuat Dean bingung mau menjawab yang mana dulu.
__ADS_1
"Satu-satu dong cyank, nanyanya?" Ucap Dean gemas, namun tidak dengan Dinda, yang saat ini merasakan berbunga-bunga walau hanya mendengar kata-kata sederhana itu.
"Aku sudah nyampai, dan urusannya belum selesai...?" Dean sengaja menjeda kelanjutannya membiarkan Dinda menebak sendiri kelanjutannya, karena Dean sangat penasaran dengan reaksi Dinda saat itu.
"Jadi gak bisa pulang?" tebak Dinda dengan suaranya yang berubah sedih.
Entah mengapa hatinya terasa sedih memdengar bila suaminya akan lama pulang.
"Hmm," jawab Dean sambil tersenyum senang, Dean sangat senang mendengar nada suara sang istri yang terdengar sangat berharap dirinya cepat pulang itu.
"Koq cuma? Hmm?" cibir Dinda dengan kesal.
"Kenapa? kangen?" tebak Dean dengan suaranya yang menggoda.
"Iihh...siapa juga yang kangen?" bantah Dinda keras.
"Ya udah, aku pulangnya bulan depan aja, nunggu kamunya kangen aja?" goda Dean yang sukses membuat Dinda dongkol mendengarnya.
"Mengapa tidak usah pulang selamanya saja?" teriaknya kesal, namun sukses membuat Dean tertawa terbahak-bahak mendengarnya.
Bersambung
Minta votenya dan likenya juga.
__ADS_1
Makasih.