
Dean membawa mobilnya memasuki gedung pencakar lain, yang Dinda tau adalah hotel berbintang itu, dan membawa Dinda memasuki Hotel mewah itu, Dinda menatap ngeri kearah suaminya yang sejak tadi seakan engga untuk melepas tangannya itu.
"Apa yang akan ia lakukan pada? ya Tuhan matilah aku, apakah dia akan menyentuhku lagi?" ucap Dinda dalam hati dengan wajah pasrah dan tegang.
Dia takut untuk bertanya, karena tak ingin Dean tambah marah padanya, mengingat suaminya itu masih cuek padanya saat itu.
Dan alhasil dia menuruti kemana Dean membawanya dengan masih menerka nerka kemanakan Dean akan membawanya itu.
Dean mengajak Dinda memasuki lift dengan tangannya masih setia mengenggam erat tangan Dinda, seakan Dinda bisa kehilangan bila dia melepaskannya saat itu.
Dinda memandang Dean yang saat itu masih mengenggam tangannya erat.
Sedangkan tangan Dean yang satunya tengah menenteng sebuah bingkisan berbentuk kado.
Dinda hanya diam tidak berani bertanya, meskipun dia sangat penasaran, tapi rasa takutnya lebih besar dari rasa penasarannya saat itu.
Sehingga dia hanya diam dan pasrah mengikuti kemana Dean membawanya saat itu.
Terlihat Dean membawanya ke sebuah pintu utama, disana sedang berdiri dua pria tegam dangan badan besar dan kekar, yang tlah menyambut mareka dengan senyum ramah saat itu.
Dean mengajak Dinda masuk sambil melepas genggamannya dan menyuruh Dinda untuk mengandeng lengannya saat itu.
Dinda hanya menurutinya sambil bernafas lega karena ternyata mareka tengah menghadiri sebuah pesta.
Dinda jadi merasa bersalah karena sudah berpikir buruk tentang suaminya saat itu.
Dean mulai memasukin aula dengan Dinda yang tengah mengandeng lengannya.
Karena kerlambatan mareka sehingga menjadikan mareka pusat perhatian saat itu.
Dinda merasa sangat terganggu dengan tatapan para tamu undangan yang mulai saling berbisik seakan sedang mencemuhnya, sehingga membuat Dinda teringat saat hari dimana Arenof mencampahkannya, lebih tepatnya empat bulan yang lalu, sehingga membuat dadanya terasa nyeri mengingat kejadian memalukan itu.
"Ada apa?" bisik Dean saat merasa tubuh Dinda bergetar saat itu.
__ADS_1
Sambil membawa Dinda duduk, dimeja dimana Chalvin dan Remi berada.
Dinda hanya menggeleng, sambil tersenyum canggung kepada suaminya itu.
Ya ini adalah hari jadi Moren dimana pada malam ini ia bertambah usia, menjadi 28 tahun itu.
Chalvin dan Remi yang melihat kedatangan Dean menyapanya dengan memberi salam sambil memeluk sahabatnya itu.
kemudian mareka menyapa Dinda ramah, dan disambut ramah oleh wanita cantik itu.
"Cih istri mu cantik banget?" Remi sambil menatap lekat penuh kagum pada Dinda saat itu.
Dean menatap Dinda yang terlihat canggung,
kemudian ia memeluk pinggang ramping Dinda posesif sambil mencium pipi istrinya itu pelan.
Membuat Chalvin dan Remi yang melihatnya tersenyum geli, karena melihat tingkah Dean yang selama ini belum mareka tau.
Dinda sangat malu karena bukan hanya kedua teman Dean yang melihatnya,
"Tumben terlambat?" bisik Chalvin sambil memandang Dean dengan senyum mengoda.
"Biasa wanita!" jawab Dean sambil menarik bibirnya menunjuk Dinda, kemudian dianggukkan oleh kedua sahabatnya itu.
Dinda hanya diam mendengar ucapa suaminya itu, karena memang benar adanya.
Tapi tidak bisa disalahkan dong, siapa suruh tidak memberi tau lebih dulu.
"Mana Moren?" tanya Dean lagi sambil memperhatikan sekeliling, dan melihat sahabatnya itu tengah berjalan kearah mareka dengan wanita cantik dengan pakai seksi disampingnya saat itu.
yang tidak lain, dan tidak bukan adalah Siska adik dari Cesya wanita yang pernah punya tempat dihati Dean dulu dan sampai sekarang tidak Dean pungkiri perasaan itu masih ada.
Dean berdiri untuk menyalami sahabatnya itu dan mengucapan selamat dengan tulus, dan disambut hangat penuh suka cita oleh sahabatnya itu.
__ADS_1
Dan diikuti oleh Dinda juga yang walaupun sedikit canggung dengan situasi saat ini.
Karena bagaimanapun juga dia tak terlalu mengenali para sahabat suaminya itu.
"Ehm, happy birthday ya?" ucap Dinda tulus sambil berdiri disamping Dean saat itu.
"Terimakasih Dinda, Tapi kadonya mana?" tanya Moren dengan wajah penuh harap.
Dean memberikan Bingkisan yang dari tadi ia pegang, itu
"Ini!"
gumannya sambil menatap Moren yang tersenyum senang.
"Cih...umur udah berapa Ren? masih mengharapkan kado?" cibir Chalvin sambil memandang Moren tak percaya, tampa sengaja ia beradu pandang dengan Siska kekasih dari sobatnya itu yang hanya diam disamping sobatnya itu dari tadi.
"Bilang aja loe pasti gak bawa kadokan?" cebir Moren lagi sambil membawa Siska duduk disamping Remi, kebetulan disetiap meja disediakan enam kursi, jadi pas sekali untuk mareka malam ini.
"Siapa bilang?" jawab Chalvin sambil memperlihatkan bingkisan ditangannya.
Sehingga membuat Moren tersenyum seperti anak kecil melihatnya.
Ya Moren memang seperti akan kecil, karena selama hidupnya dia tak pernah merasakan kasih sayang dari seorang ibu, ibunya meningga paska melahirkannya saat itu.
Sedangkan ayahnya, tidak terlalu memperhatikannya, karena ketika umurnya enam bulan ayahnya sudah menikah lagi,
Dan Moren hanya dirawat oleh kedua kakek dan neneknya, orang tua dari ibunya Moren.
Makanya Moren selalu meminta kado dari ketiga sahabatnya itu,
Walaupun isinya sederhana namun bagi Moren itu sangat bermakna.
💐💐💐💐💐
__ADS_1
Kini