
Tak terasa kini usia pernikahan Dinda sudah menginjak 2 minggu.
Menang tak ada kemajuan, namun malam ini mareka berjanji mau Dinner, dan kini Dinda sudah bersiap Dengan gaun hitam selutut, wajahnya yang cantik ia oleskan blas on tipis, dan lipstik warna pink, rambut pendeknya diblow semakin menambah kesan anggunnya dia malam ini.
Namun sudah pukul 18:00 WIB Dean tak jua datang.
Membuat Dinda jadi gelisah mengingat sang pria yang kemaren pergi keluar kota, dinda berjalan mondar mandir dengan pikiran resah dan diapun memutuskan untuk menelepon sang suami untuk memastikannya, namun tak ada jawaban.
Berkali kali Dinda menelepon namun tak ada jawaban.
"Sudahlah lebih baik aku berangkat ketempat janjiannya?" pikirnya sambil meraih tas tangannya.
.
.
.
.
Sementara di tempat lain
Kini Dean tengah menemani Cesya yang tiba tiba memintanya datang, dan betapa terkejutnya Dean melihat keadaan wanita itu yang penuh dengan luka lebam dan memar.
"Apakah dia memukulmu lagi?" tanya Dean kesal, sementara Cesya hanya menangis didalam pelukan hangat Dean saat ini.
"Aku sudah gak sanggup, mungkin kami memang harus berpisah?!" ucap Cesya lirih tak melepaskan dekapannya dari sang pria sedikitpun.
Dean hanya diam mendengar keputusan sang sahabat, namun dia tak mengerti mengapa dia tak senang mendengarnya, Bukanlah ini yang ia harapkan?
tapi dengan cepat dia mengubis pikirannya itu dan tersenyum kaku dihadapan sang Wanita.
"Baguslah, tak perlu kau tunggu pria yang suka main tangan begitu?!" jawab Dean lirih.
"Aku akan mengambil air hangat dan salap?" ucapnya sambil melepasan pelukannya dari Cesya.
Semantara Cesya hanya menganggukkan kepalanya pelan.
Beberapa menit kemudian Dean sudah kembali dengan air hangat ditangannya.
Diapun mengompres wajah, tangan, memar wanita itu dan terakhir mengoles salap.
__ADS_1
.
.
.
Direstoran
Kini sudah pukul 22:00 WIB Dinda sudah lelah menunggu, bahkan dia tak tau sudah berapa kali dia menghubungi sang suami dari via telepon dan via Chat, namun tak ada jawaban.
"Kau sungguh keterlaluan?" ucapnya dengan mata berkaca kaca.
Semetara dari tadi ia menjadi pusat perhatian semua pengujung dan kariawan restoran tersebut.
Dinda pun memutuskan untuk memesan sesuatu dan iapun memesan Stik daging dan Jus Alpokat, tak enak karena sudah terlalu lama disitu. Sudah 3x pelayan menanyakannya pesanannya namun Dinda selalu menolak dengan alasan temannya belum datang.
.
.
.
Dinda terbanggun dari tidur dengan tangan melingkar dipinggangnya. Ditatapnya wajah pulas suaminya itu.
Membuatnya teringat akan kejadian tadi malam. Dia pun menepis tangan sang suami kasar membuat Dean terbangun dari tidur nyenyaknya.
"Ada apa?" tanya Dean sambil mengucek matanya ngantuk.
Dinda hanya diam tampa menjawab sang pria, sambil beranjak pergi.
Membuat pria itu menyengit heran.
.
.
.
Dinda melihat Mba sari sedang membersihkan ruang tamu. Ya Mba sari adalah asisten rumah tangga yang Dean maksud tempu hari.
"Pagi non?" sapa mba Sari ramah
__ADS_1
Dinda hanya tersenyum masam, dikarenakan moodnya yang sedang tak baik saat itu, membuat mba Sari menyingit bingung.
Karena tak biasanya istri majikannya itu begitu.
.
.
.
Dinda tengah sibuk didapur ia sedang memasak nasi goreng sosis, namun ia tersentak kaget ketika ada tangan melingkar manis memeluknya dari belakang, "Maaf?" ucap Dean dengan wajah memelas dan menyesal.
Dinda hanya diam sambil mengaduk aduk nasi gorengnya melihat Dinda tak mengubis ucapanya Dean pun mencium leher sang istri membuat Dinda mengijing kegelian dibuatnya
"Apa kau bisa diam?" teriak Dinda kesal sambil menepis tangan Dean dari perutnya.
"Maaf, tadi malam Hape ku tertinggal dimobil makanya aku tak tau bila kau menghubunginku sebanyak itu."
ucap Dean jujur.
Tapi Dinda enggan meladeninya dan memilih pergi meninggalkan Dean yang berteriak memanggil namanya Dinda tak menghiraukannya. Dia masih kecewa dengan sang suami kala itu.
.
.
.
.
Bersambung
.
.
.
Hay guys jangan lupa like❤ n komentarnya ya?
Makasih
__ADS_1