My sister - in- law my husband

My sister - in- law my husband
Tolong Jelaskan


__ADS_3

"Apa yang kau lakukan diluar, sendirian?" tanya seseorang yang ternyata adalah salah satu perawan dirumah sakit itu.


Dean menatap dingin perawat yang sedang tersenyum ramah kearahnya itu, sambil sesekali merapikan rambutnya canggung.


Dean tak menjawabnya, dia lebih memilih pergi meninggalkan perawat yang masih menatapnya penuh kagum itu.


"Cakep banget?!" ucapnya dengan pandangan penuh kagum.


...


Didalam ruangan


Kini Dinda sudah mulai tenang, namun sesekali cairan bening itu terjatuh lagi.


Saat ia membayangkan nasip Renof selama ini, bertahan tampa ada kedua orang tua yang mendampinginya, sehingga membuat dadanya sesak.


Sinta masih berusaha menghibur Dinda dengan cara mengelus punggung wanita itu lembut penuh kasih sayang.


Sedangkan mama Chinta hanya diam sibuk dengan pemikirannya sendiri.


Berbeda halnya Dean papa Bima yang sangat merasa bersalah, kepada dua orang wanita yang sangat penting dalam hidupnya itu.


Ya papa Bima sangat menyayang Dinda, dia sudah menganggap Dinda anaknya sebagai anaknya sendiri.


Namun yang paling membuatnya menyesal saat itu, adalah terhadap putra bungsunya itu.


Baru pertama kalinya papa Bima melihat wajah frustasi putranya itu.


Disaat dia lebih memperhatikan Renof, bahkan bisa dibilang lebih menyayanginya, namun papa Bima tak pernah melihat wajah Dean seputus asa ini.


Bahkan saat dia meminta untuk Dean menikahi wanita yang tidak dicintainya pun dia tidak melihat wajah putus asa sang putra.


Baru kali ini, papa Bima melihatnya, dan itu sukses membuat salah satu yang ada di dirinya terasa sakit, entah apakah itu, papa Bima sendiripun tidak tau.


Sehingga membuatnya menitikkan air matanya, membuat sikap tegas yang selama ini ia terapkan hancur sekitika, bersamaan dengan jatuhnya cairan bening tersebut.

__ADS_1


"Apakah aku melakukan kesalahan?" pikirnya sedih sambil mengelus pelan pucuk kepala mama Chinta yang saat itu duduk disampingnya itu.


"Kasian Renof pa, dia masih sangat muda?" mama Chinta menghentikan perkataannya karena isaknya saat itu hatinya begitu hancur.


Ibu mana yang tidak hancur menyaksikan kehancuran ketiga anaknya sekaligus.


Itulah yang menjadi beban pikirannya saat itu.


Melihat perhatian Dinda pada si Sulung, hanya orang buta yang tidak bisa melihat tatapan penuh cintanya.


Namun hal itu membuat Mama Chinta sedih, karena Dia tau, semua itu pasti membuat si bungsu terluka.


Namun bagaimana pun Renof juga anaknya walaupun Renof terlahir bukan dari Rahimnya.


Namun Renof tumbuh dengan kasih sayangnya.


Walaupun awalnya hanya keterpaksaan, namun mama Chinta tulus mengasihi Renof selama ini.


"Kitalah yang membuat mareka terluka pa?" ucap mama Chinta lagi.


"Tidak ma, ini semua adalah ide papa, dan Arenof lah yang memintanya, jadi jangan menyalahkan dirimu?" ucapnya dengan suara bergetar dan berat.


Mama Chinta menungak kepalanya keatas untuk menatap sang suami saat itu.


"Jadi papa sudah tau?" tanya mama Chinta sambil melepaskan pelukan papa Bima saat itu.


Papa Bima hanya mengangguk lemah.


Sehingga membuat mama Chinta menutup mulutnya dengan mata menatap tajam papa Bima saat itu.


"Mengapa papa tidak memberi tauku?" tanya mama Chinta marah, ia tak mampu menyembunyikan rasa kecewanya saat itu, terhadap suaminya itu.


"Jangan marah ma, ini bukan kehendak papa, namun Renoflah yang memintanya."


"Lagi pula bila aku memberi taumu, kau tak akan mendukungku untuk menyakinkan Dean saat itu?!" lanjut papa Bima pelan sambil menatap Dinda yang entah sejak kapan sudah ada dihadapannya saat itu.

__ADS_1


"Dan lagi pula ini adalah satu satunya keinginan Renof ma?" papa Bima menghentikan ucapanya ketika mendengar suara?


"Tolong jelaskan?" pinta Dinda saat itu, yang entah sejak kapan berada disana.


Membuat papa Bima tak punya pilihan lain selain menjelaskannya sampai keakar akar permesalahannya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sementara Ditempat lain


Dean tengah duduk ditaman yang ada di RS tersebut.


Dia sangat menyesali karena telah menuruti ucapan papa Bima untuk menikahi Dinda saat itu.


Dia tak pernah membayangkan rasa iri dihatinya kedapa sang kakak.


Berakhir manis malah menyakiti dirinya sendiri saat itu.


Ya tak bisa Dean pungkiri dilerung hatinya sudah ada Dinda disana.


Namun haruskan ia egois?


Pura pura tidak mengetahui penderitaan orang lain? maaf Dean tidak sekejam itu.


Seberapapun ketidak sukaannya terhadap Renof, itu tidak membuatnya seolah menutup mata dan telingnya saat itu.


Bersambung


Hayo???


Ada yang mewek gak nie?


Jujur saat menulis ini authornya lebih dulu mewek๐Ÿ˜ข๐Ÿ˜ข๐Ÿ˜ขmungkin karena terlaku menghasati, Cie?๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚


jangn lupa Like Vote dan komennya ok๐Ÿ˜‰

__ADS_1


__ADS_2