
Sudah tiga hari berlalu semejak hari itu, kini Dinda dan Dean menjalani hari mareka dengan tenang.
Walaupun Cesya masih sering menghubungi suaminya itu, namun Dinda mencoba untuk tidak mempermasalahkan lah itu kepada suaminya itu.
Karena Dinda tak ingin membebani pikiran suaminya itu, walaupun didalam hatinya ingin sekali Dean lebih mengutamakan dirinya.
Namun dia tak mau egois melarang suaminya itu menolong sahabatnya sendiri, walaupun Dinda tau bila Dean punya perasaan lebih kepada sahabatnya itu, namun dia tak mau ambil pusing, bukannya tidak perduli, hanya saja dia ingin percaya dengan apa yang Dean ucapkan padanya.
Ya walaupun hati Dean bukan sepenuhnya untuknya, namun raga Dean masih bersama dengannya itu sudah cukup bagi Dinda.
Karena Dinda tau dirilah, dan dia tak ingin terlalu banyak menuntut suaminya itu, setidaknya bagi Dinda Dean adalah pria yang bertanggung jawab, meskipun dia tak mengenal sebelumnya Dinda namun dia mau menikahinya, bahkan berjanji tidak akan meninggalkannya.
Sungguh jauh berbeda dengan seseorang yang Dinda kenal, siapa lagi kalau bukan Renof.
Dibibir berkata, "semenit saja aku tidak melihatmu aku akan mati?" itu lsh kata kata yang selalu Renof ucapkan dulu, namun apa buktinya? dihari pernikahan dia malah menghilang entah kemana? apakah semudah itu dia melupakan apa yang diucap.
Apakah itukah yang namanya cinta? itulah kalimat yang ada dibenak Dinda selama ini, sehingga membuatnya hanya bisa tersenyum miris meratapi nasifnya itu.
Namun beda halnya dengan Dean, pria pemaksa namun dia perduli dengan orang disekitarnya, terkadang Dinda merasa iri dengan wanita yang bernama Cesya itu.
Ya Dinda tau bila Cesya juga memiliki rasa terhadap suaminya itu, namun Dinda tak tau apa alasan dua insan yang memiliki rasa yang sama itu tidak bisa bersatu.
Namun satu yang Dinda ketahui, mencintai itu bukan berarti bisa memiliki.
Sama halnya dengan dirinya dan Renof, saat ini, sehingga membuatnya hanya menutup mata? akan hal itu, Dinda berjanji dalam hatinya bila dia pasti akan memperjuangkan Dean, karena entahlah bila dibilang cinta, mungkin pasti banyak yang meragukannya.
Namun, itulah yang kini Dinda rasakan, walaupun tidak dia pungkiri perasaannya teradap Renof masih ada, namun rasa kecewa dibenaknya membuat Dinda ingin membuang jauh jauh perasaan itu.
💐💐💐💐💐
Dinda membuka matanya, sambil mengucek matanya dengan jarinya karena masih merasa buram karena baru bangun tidur.
Dinda menatap malas jam yang ada dimeja, yang sudah menunjuk pukul 7 pagi itu.
Dan sekali lagi Dinda mengucek matanya sambil mengeliatkan badanya yang terasa remuk itu.
Bagaimana tidak? selama seminggu ini tugas kampus sungguh sangat sangat melelahkan baginya.
Sehingga membuatnya merasa lelah jiwa dan raga jadinya.
Dan Dean yang melihat kesibukan Dinda beberapa hari ini pun merasa kasihan, dan mengusulkan untuk memperintah mbak Sari untuk masuk setiap hari, Dinda sich ok ok saja, karena selama beberapa hari ini dia tak sempat memasak untuk suaminya itu.
Karana padatnya tugas tugas yang sedang mareka jalani, karena mau menghadapi masa magang dirumah sakit singapure dua bulan mendatang.
Dinda mendudukkan dirinya sambil melirik samping ranjang, dimana suaminya itu berada.
Dinda tersenyum manis melihat wajah tidur Dean saat itu yang begitu polos, seperti anak kecil dimatanya saat itu.
Dinda mendekatkan wajahnya kewajah Dean sampai dia bisa merasakan nafas teratur suaminya itu.
__ADS_1
Dinda menyentuh pelan hidung mancung Dean sambil mencium kening Dean lembut, entah mengapa Dinda merasa bahagia kala menatapnya.
Setelah puas menatap wajah tampan Dean, Dindapun memutuskan untuk mencuci wajahnya, karena dia ingin melakukan joging pagi ini.
.
.
.
Setelah hampir 30 menit berlari kecil mengelilingi taman yang memang disediakan untuk penghuni apartemen itu, Dinda menududukkan dirinya disebuah bangku kosong yang tak jauh dari dirinya saat itu.
Dinda menatap jam yang melilit dipergelangan tangannya saat ini yang menunjukkan hampir jam 8 pagi itu.
Namun Dinda tak menemukan Wina disana.
Ya dia dan Wina barjanji untuk melakukan joging hari ini namun Wina malah tidak datang, dan kebetulan hari ini Dinda tak membawa ponselnya, jafi dia tidak bisa menghubungi sahabatnya terebut.
Saat Dinda melihat kerumunan orang yang sedang berlari, manik lejelnya tak sengaja melihat seseorang yang sangat dia kenal.
Seorang pria dengan celana terening biru, dan baju kaos putih ketat sehingga menbuat dada bidangnya tercetak sempurna saat itu.
Dinda masih diam menatap pria itu dengan maniknya, yang semakin mendekat dan mendudukkan dirinya disamping Dinda saat itu.
"Koq, joging gak ngajak-ngajak?" tanya pria itu sambil cemberut kearah Dinda saat itu.
Dinda hanya diam masih terpana melihat pemandangan sempurna yang ada disampingnya saat itu, yang membuat banyak wanita yang ada ditaman itu, menatap iri kepadanya.
Sehingga membuat Dinda tersenyum kikuk olehnya, karena tertangkap basah sedang menatapnya kagum.
"Ah, sorry? apa katamu tadi?" tanya Dinda sambil menggaruk hidung mancungnnya untuk membuangi rasa gugup yang dia rasakan saat ini.
Dean hanya menghela nafas dalam sambil mengandeng bahu Dinda pelan.
"Kata ku, mengapa joging tidak mengajakku?" bisik Dean pelan sehingga membuat bulu kuduk Dinda merinding dibuatnya.
"Oh, tadi kamu tidurnya nyenyak sekali sehingga membuatku tak tega untuk membangunkanmu?!" ucap Dinda jujur sambil berusaha melepaskan tangan Dean dari bahunya yang sungguh membuatnya tidak nyaman, karena menjadi pusat perhatian disana.
Namun bukannya melepaskan, Dean malah semakin mengeratkan tangannya yang kini sudah berubah posisi menjadi dipinggang, entah mengapa melihat banyak pria yang mencuri pandang kepada istrinya itu membuatnya merasa tak suka.
Dinda yang saat itu memakai celana pendek selutut, dan kaos warna hijau tua, dengan topi warna hitam dengan tulisan BOY diatasnya.
Rambut pendeknya diikat sehingga membuat tenggunya yang mulus terekspos dengan jelas saat itu, bukan hanya tenggu, bahkan kakinya pun terekspos dengan sempurna, sehingga membuat Dean merasa kesal melihatnya.
"Dean lepas?" pinta Dinda denga wajah memelas dan merona dibuatnya.
"Sebutkan alasan, mengapa aku harus melepaskanmu?" ucap Dean sambil tersenyum miring kearah Dinda.
"Apakah kau tidak sadar? bila kita menjadi pusat perhatian?" bisik Dinda sambil menujuk dimana banyak pasang mata yang sedang memperhatikan mareka saat ini.
__ADS_1
"Biarkan saja!" jawab Dean sambil berdiri dan menarik tangan Dinda agar mengikuti langkahnya saat itu.
"Mau kemana?" tanya Dinda heran.
"Cari air mineral, aku haus?" jawab Dean sambil memegangi koasnya yang sudah basah karena keringat itu.
.
.
.
Dean membawa Dinda ke mini market yang tidak jauh dari disana.
Kemudian membeli dua botol air mineral dengan ukuran tanggung itu, untuknya dan Dinda saat itu.
Dan meneguknya sampai kadas tak tersisa, Dinda hanya menatap diam suaminya itu yang terlihat sangat seksi kala meminun air tersebut.
Dean yang sadar sedang diperhatikanpun menatap balik Dinda sehingga membuat Dinda jadi gelabakkan dibuatnya, dan alhasil dengan cepat mengalihkan pandangannya saat itu.
"Hmm, gerah sekali ya?" ucap Dinda sambil menyirami sisa air mineral itu kewajahnya yang merona kerena malu
Dean hanya tersenyum tipis melihat wajah salting Dinda saat itu, sehingga ada niat untuk menggoda istrinya itu di dalam benaknya.
Dinda menggerutu didalam hati, menyesali sikap bodohnya saat ini, yang sungguh tidak pernah lakukan selama ini.
"Apakah nyonya Anggaraku ini sedang malu?" Ucapnya sambil mendekatkan wajahnya kewajah Dinda saat itu.
Sehingga hanya tersisa jarak beberapa sentik diantara mareka saat ini, yang membuat wajah Dinda semakin memerah dibuatnya.
"A-ku tidak malu, ini panas sekali, makanya wajahku memerah!" bantah Dinda dengan gagap, sambil memalingkan wajahnya dari Dean yang kian mendekat itu.
"Tapi...?" belum sempat Dean menyelesaikan ucapanya, Dinda lebih dulu memotong ucapan Dean saat itu.
"Sudahlah, ayu kita pulang saja, harinya semakin panas?!" potong Dinda sambil menujuk matahari yang semakin tinggi saat itu, Sehingga membuat Dean berhenti menggoda istrinya itu.
.
.
.
Bersambung
.
.
.
__ADS_1
Hay guys, jangan lupa Votenya dan jompolnya ok?