
Jam kini telah berganti menjadi hari, dan hari kini telah berganti menjadi minggu.
Tak terasa Dinda sudah seminggu berada di Singapore, ia sudah mulai terbiasa dengan aktivitasnya, dan itu mampu, mengalihkan rasa sedih yang ia rasakan.
Walaupun tidak sepenuhnya, namun mampu membuatnya sedikit terhibur.
Bohong bila ia tidak merindukan Dean suaminya itu, ia sangat rindu, malah pake bangett, namun ia tetap teguh dengan pendiriannya, bila ia tak akan menghubungi suaminya itu terlebih dulu, entah mengapa rasa gengsi, untuk melakukannya, walaupun rasa rindu didada sudah mengebu-ngebu, namun masih kekeh dengan pendiriannya, dan sampai saat ini pula ia tak mengaktifkan ponselnya.
Rasa sakit, kecewa, masih terasa sampai detik ini, Sungguh sikap Dean sangat membuatnya kecewa, mungkin dengan berjauhan seperti ini, Dean akan menyadari akan kesalahannya, itulah yang Dinda harapkan.
Ia selalu berdoa setiap malam, agar Dean juga merindukan dirinya, agar Dean menyadari, bila sikapnya selama ini membuatnya sakit.
Walaupun ini akan membuat ia dan suaminya itu berjauhan, dan kemungkinan Dean dan Cesya bersama akan lebih leluasa.
Apalagi beberapa hari ini, ia sempat mendengar bila Cesya dan suaminya akan segera berpisah, ia mendapatkan kabar itu dari Wina, dan sikapnya ini pun, atas saran dari sahabatnya itu.
Sungguh Dinda menjadi was-was mendengarnya, namun setiap kali ia mengingat suaminya itu, semakin pula harga dirinya terluka karenanya.
Dinda saat ini sedang mengunjungi para pasien nya satu persatu, dengan diteman beberapa perawat disampingnya.
__ADS_1
Dinda mengecek kondisi mareka dengan serius dan sekali-kali ia tersenyum, memberi semangat kepada mareka. Patah hati tak ayal membuatnya mengabaikan tugas-tugasnya, karena itu bukan sifatnya.
Karena Dinda sangat menikmati pekerjaannya saat ini, karena merupakan cita-citanya sejak kecil, jadi pasti ia akan menjalaninya dengan sukacita.
Pagi ini ia menggunakan rok spam, dengan kemeja hitam lengan pendek, tidak lupa seragam kebesaran, warna putih polos, menambah kesan anggunnya.
Rambutnya yang sebahu ia biarkan tergerai, sungguh sempurna memang, tapi tak tersempurna kisah cintanya.
....
Dilain tempat Dean kini tengah ada dibandung, menyelesaikan rapat akhir bulan yang selalu diadakan, diperusaan papa Bima itu.
Walaupun ia tidak aktif dikantor Papa Bima, namun setiap akhir bulan ia pasti akan datang untuk mengecek pekerjaan kariwan disana.
Padahal Chalvin juga cukup dekat dengan Cesya dulu, tapi entah mengapa, semenjak, Dean dicampakkan oleh Cesya dulu, membuat Chalvin kurang menyuka dengan wanita itu.
Chalvin tidak menyukai tingkah Cesya yang pura-pura tidak menyadari perasan sahabatnya itu, yang sekan memampaat pria tersebut.
Ia menurut saja, karena hanya Chalvin yang bisa ia tanya, tentang kabar istri nya saat ini, entah dari mana sumber info sobatnya itu, iapun tak tau, yang penting ia tau bila istrinya disana baik-baik saja.
__ADS_1
Meskipun sampai saat ini, ia tak bisa menghubungi sang istri, setiap hari ia selalu mengirimkan pesan, permintaan maaf, menanyakan sudah makan ataupun belum, pun menanyakan kabar dll, ya walaupun tidak ada satupun pesannya yang masuk, terbukti, chatnya itu hanya centang satu.
Namun itu tak menyurutkan niat dari seorang Ardean, ia berharap bila disesuatu-waktu, Dinda akan mengaktifkan ponselnya, dan berharap dengan perhatiannya ini, bisa membuat sang istri agar tidak terlalu marah kepadanya.
Dean saat ini tengah memeriksa laporan bulanan, terlihat wajah tampannya, semakin tampan, bila sedang serius, sungguh sangat bercahaya.
Membuat siapa saja yang melihatnya pasti akan kagum oleh pesonanya.
"DRETT...DRET...DRET..." suara ponsel disampingnya memecahkan keheningan dan fokus Dean, diraihnya benda pipih itu, dan melihat nama yang tertata disana, membuatnya tersenyum tampan.
Bersambung
Visual sicantik Wina nih, cantikkan?😍😍😍masih polos ya😊😊
Dan ini visual Chalvin, sahabat Dean, ganteng kan?😍😍😍
__ADS_1
Dan ini Cesya, cantik dan seksi 😘😘😘