My sister - in- law my husband

My sister - in- law my husband
Dilema


__ADS_3

Siang ini disebuah cafe, tengah berkumpul Dean dan ketiga sahabatnya.


Mareka tengah asyik menikmati makan siang dicaffe tersebut.


Namun tidak halnya dengan Dean, pria itu masih terlihat murung, dan enggan meladeni candaan sahabatnya itu.


Disela lamunannya tiba-tiba handphone Dean berdering nyaring memecahkan semampu dari lamunannya.


Dean meraih benda persegi itu, Sehingga ia dapat melihat siapa yang menghubunginya tersebut.


"Mama?" ucap Dean sambil menyengit keningnya bingung.


"Hallo?" ucap Dean saat handphone itu sudah ada didaun telinganya.


"Dean kamu dimana? apa kau sedang bersama istrimu?" tanya mama Chinta was was.


"Sekarang Dean lagi makan, bersama teman Dean ma, dan disini tidak ada Dinda, karena tadi ia pamit untuk Ke kampus." jawab Dean panjang lebar.


Karena memang Dinda mengirimkan ia pesan, pamit kepada dirinya tadi, sehingga membuat hati Dean terasa membaik, ya walaupun isinya sederhana, tidak ada kalimat yang istimewa yang tertera diisi pesan tersebut, namun itu mampu membuat Dean merasa dihargai.


"Syukurlah?!" ucap mama Chinta bernapas kegagalan

__ADS_1


"Kamu bisa ke RS sekarang gak Dean?" ucap mama Chinta lagi.


Dean melirik ketiga sahabatnya secara bergantian seakan meminta persetujuan, sehingga membuat mareka bertiga serentak menganggukkan kepala mereka.


"Bisa, ada apa ma?" tanya Dean dengan jantung terpacu lebih cepat.


"Iya ini Renof sudah sadar, kamu cepat ya kesininya?" jawab Mama Chinta pelan.


Jantung Dean seakan berhenti berdetak saat mendengar ucapan mama Chinta itu.


Ia tak tau harus bagaimana mana, sekarang ini menyikapi ini semua.


"Hallo Dean kamu dengarkan omongan mama?" teriak mama Chinta nyaring karena mendengar tak sautan dari putranya itu.


Sehingga membuat Dean terbangun dari memikirkan hatinya sendiri.


"Iya ma, Dean dengar koq, satu jam lagi Dean kesana ya?" jawab Dean lemah sambil mematikan handphone sepihak.


Dean menghela nafas berat, pikirannya sekarang sedang berkecamuh, sehingga membuat ketiga sahabatnya mengerti dengan apa yang sedang pria itu rasakan.


"Hey, aku harus bagaimana sekarang? Renof sudah sadar, seharusnya aku senang bukan? tapi mengapa aku malah tidak senang? cih...benar benar jahat?" ucap Dean mengutuk dirinya sendiri, sambil tersenyum miris.

__ADS_1


"Apa Renof sudah sadar?" teriak Remy ikut kaget mendengarnya.


Dean hanya mengangguk pelan, dengan ekspresi yang sulit untuk diartikan.


Sementara Chalvin dan Morren hanya diem mareka tidak tau harus berkata apa sekarang, mau mareka sadar. mareka harus mengucapkan sesuatu untuk menghibur sahabatnya itu.


"Kamu tidak jahat, stop untuk berpikiran begitu, semua, orang pasti dilema bila ada di situasi kamu sekarang, jadi stop mengutuk dirimu sendiri ok?!" jawab Morren mantap.


"Iya Dean, aku yakin Dinda pasti akan bersamamu, dan pasti akan lebih memilihnya, dia hanya merasa kasihan saja pada Renof, aku yakin itu!" balas Chalvin yang diiyakan oleh Remy dan Morren bersamaan.


Dean hanya diam mengingat Dinda hatinya bertambah hancur, ia akui memang ia takut menerima kenyataan, takut bila Dinda akan lebih memilih Renof dan kembali kepada Renof, hidup tampa Dinda? Dean tidak bisa membayangkannya.


"Aku yakin Dinda bukan wanita plin-plan, yang akan meninggalkanmu." Remy menghentikan ucapan karena bingung untuk ngelanjutinya.


Dean hanya tersenyum getir, justru itu yang ia takutkan sekarang.


Bersambung


Maaf ya pendek, author bingung ama konfliknya dan cara menyelesaiinnya. jadi sabar ya?


Hay guys mohon dukungannya ya dengan cara vote dan likenya oke.

__ADS_1


__ADS_2