
Sebenarnya Dinda, tidak yakin dengan keputusannya ini, namun memberi suaminya itu kesempatan ia pikir pun tidak ada salahnya.
"Seandainya didalam hatimu sekarang masih tidak ada diri...?" ucapan Dinda terhenti saat Dean menyentuh bibir mungil miliknya dengan jari telunjuknya.
"Tidak ada seandainya, disini memang hanya ada dirimu?" jawab Dean yakin, sambil meraih tangan mungil Dinda, dan meletakkannya didadanya yang masih berdetak tidak beraturan itu.
"Kau bisa merasakannya?" tanya Dean lagi.
"Hmm" jawab Dinda saat tangannya sudah berada di dada bidang suaminya itu.
"Hanya kamu...Hanya kamu yang bisa membuatnya seperti ini?" ucapnya lagi, sambil membelai lembut pipi mulus istrinya, yang masih ada sisa cairan bening disana.
"Maafkan aku, aku janji, tidak akan membiarkan cairan bening membasahi pipimu lagi!" ucapnya sambil menatap manik lezelnya istrinya dalam.
Dinda hanya diam terpaku, entah mengapa, manik coklat itu bagaikan magnet yang bisa membuatnya, tidak tersedut oleh daya pikatnya.
Dean memeluk tubuh Dinda lagi sayang, sambil sesekali mencium kening istrinya itu penuh cinta.
__ADS_1
.....
Saat ini Dinda dan Dean sedang mengistirahatkan tubuhnya di kasur empuknya, dengan nyaman.
Rasa kantuk mulai menghampiri Dinda saat ini, kala pelukkan hangat suaminya itu, tak pernah terlepas dari tubuhnya saat ini.
Sungguh sebenarnya Dinda sangat lelah, Ingin rasanya ia merentangkan tubuhnya, merubah posisi tidurnya saat ini, namun ia urungkan kala melihat wajah Dean yang tidak ada puasnya memeluk dirinya itu, Dan akhirnya iapun hanya merelakan tubuhnya untuk dipeluk suaminya itu semalam suntuk.
.....
"Hoek...hoek...hoek..." pagi menjelang, Dinda mengejap kedua manik lezelnya, saat merasa terganggu kala mendengar suara suaminya yang sedang muntah.
Dilihatnya suaminya itu tengah terduduk lemas, tepat didepan closed saat itu, dengan cairan bening membasahi kedua pipinya, akibat terlalu lama muntah itu.
Dinda menjungkukkan tubuhnya dihadapan suaminya itu, sambil menyentuh dahi suaminya itu.
"Cape!" Adu Dean sambil membuka manik coklatnya, saat merasakan kehadiran istrinya itu.
__ADS_1
"Ayu aku bantu bangun?" tawar Dinda lembut, sambil meraih tangan kokoh suaminya itu.
Dean hanya menurut saja, saat tubuhnya dituntun oleh istrinya itu ketempat tidur.
Dinda mengelus rambut suaminya sayang, merasa kasian melihat wajah lemah itu.
Dean hanya diam sambil memejamkan manik coklatnya, menikmati belaian lembut istrinya, yang memang sangat ia rindukan beberapa hari terakhir ini.
"Istirahat dulu ya?" ucapnya hendak pergi meninggalkan Dean disana, namun ia urungkan, kala tangan kekar Dean sudah menarik tubuhnya, sehingga kini sudah masuk didalam pelukkannya saat itu.
"De...lepas, aku mau bikin teh hangat untuk kamu!!" pinta Dinda saat merasakan sensasi geli, disekitar lehernya, saat bibir sensual suaminya tengah bermain-main dikulit lembutnya, membuat Dinda harus menggigit bibir bawahnya agar tidak mengerang geli.
"Panggil aku sayang, atau mas!" pinta Dean, Tampa menghentikan aktivitasnya saat ini.
Entah mengapa aroma tubuh istrinya itu mampu membuatnya merasa sangat nyaman.
"Aaakkkkhhhh" suara Dinda pelan, tak mampu ia kontrol, kala tangan nakal suaminya sudah masuk dan m*rem*s dadanya lembut.
__ADS_1
"Kamu hari ini masih siang kan?" tanyanya sambil mulai membuka kaosnya istrinya kenakan saat itu, Tampa menunggu jawaban, dan injim dari si empunya.
Bersambung