My sister - in- law my husband

My sister - in- law my husband
Memaafkan


__ADS_3

Kecewaan terpancar jelas diwajah Dinda kala itu. Bagaimana tidak, siapapun yang ada diposisi dia saat ini, pasti akan merasakan hal yang sama.


Adinda adalah anak yatim, ayah dan ibunya meninggal 2 tahun yang lalu, akibat kecelakaan. Ketika mareka berangkat keluar kota, untuk melakukan perjelanan bisnis.


"Renof, Maaf lah dia?," ucap papa Bima sambil menatap Dinda yang saat itu ada dipelukan mama Chinta.


Dinda yang mendengar nama Renof disebut, spontan melepaskan pelukannya dari sang mertua, yang dari tadi memeluk dirinya sayang.


"Papa mengerti, bila kau kecewa, sebab, papapun merasakan hal yang sama." lanjut papa Bima, sambil menatap sedih Dinda.


Sebenarnya sang papa mengetahuin alasan dari sisulung untuk pergi. Tapi, dia tak bisa mengatakannya.


Mama Chinta yang melihat kesedihan sang menantu, membelai rambutnya sayang. Sebenarnya dia sangat bahagia mendengar ketika Renof akan menikahi Dinda dulu.


Dinda anak yang baik, cantik dan ramah, itu lah yang membuat dia jatuh hati kepada menantunya itu. Kini diapun ikut merasakan patah hati, atas perbuatan Renof.


"Sini mama antar kekamarmu, kau pasti lelahkan," kata mama chinta , mengalihkan pembicaraan sambil menarik Dinda pergi menggalkan Suami dan anak bungsunya.


Sedangkan Dean hanya diam.... sebenarnya dia enggan melibatkan diri pada masalah seperti ini, tapi permintaan papa dan mamanya, membuatnya tak bisa menghindar dari drama yang Renof ciptakan.


Deanpun berniat untuk pergi menyusul mama dan istri, dia sangat lelah hari ini, ketika dia mau melangkah kan kakinya, suara papa Bima lebih dulu menghentikannya.


"Mari kita bicara empat mata Dean," ucap sang papa, sambil berlalu, menuju ruang pribadi.


Ardean memutar matanya males, dia paling gak suka bicara serius versi orang dewasa. Apa lagi jika papa Bima yang bicara pasti semuanya menjurus kearah yang serius tentunya.


Β 

__ADS_1


πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’


Sementara dikamar Dinda sedang melepaskan gaun dan aksasoris yang melekat padanya, dibantu oleh mama Chinta.


"Maaf, mama? mama tak tau setan apa yang telah merasuki Renof sehingga...? "ucap mama chinta terhenti oleh isaknya.


"Tolong maafkan, atas kebodohan yang dia perbuat, Dean...? dia anakku yang baik, dia pasti bisa memberimu kebahagiaan kelak." lanjutnya dengan suara bergetar oleh isak tangisnya sendiri.


Dinda hanya diam membisu mendengarkan sesal sang mertua. "Dean? tak seharusnya dia melibatkan diri, mengorbankan masa lajangnya untukku." pikir Dinda sedih.


"Yakinlah nak, kau tak akan menyesal telah menikah dengan Dean." lanjut mama Chinta lagi, Dinda tak menjawab. dia tak yakin dengan apa yang mama mertuanya itu katakan, dia sendiri tak mengenal sosok Dean, karena Dean tinggal dirumah yang berbeda dari Renof dan orang tuanya.


Selama ini dia hanya beberapa kali bertemu, itupun tampa bertegur sapa, Dinda enggan untuk menyapa, menatapnya saja dia takut.


Karena Dean selalu bersikap dingin kepadanya.


"Saya mau mandi dulu, saya ingin membersihkan diri ma," pamit Dinda, tampa menjawab ucapan mama Chinta.


Setelah masuk kamar mandi diapun menguci pintu itu...Isaknya yang tlah ia tahan pecah seketika....ingin rasanya dia berteriak untuk melepaskan rasa sesak yang seakan menghimpit dadanya itu, namun dia urungkan mengingat mama Chinta yang berada dalam kamar saat ini.


πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’


ditempat lain


"Kau telah melakukan tugasmu dengan baik," Itulah kalimat yang papa Bima utarakan saat mareka sudah ada diruangan pribadinya.


Kalimat itu terdengar sumbang ditelinga Dean yang kala itu duduk disofa yang berhadapan dengan sang papa. Ada sesuatu yang tak Dean suka dengan nada bicara sang papa. papanya itu selalu menganggap dirinya orang luar. Hanya Renof anak kebanggaan dirumah ini, sisulung yang telah mencoreng nama keluarga anggara.

__ADS_1


Ardean menatap papanya dingin, baginya semua ucapan yang keluar dari mulut papa Bima, semua menjerumus dia didalam kesensaraan. Seperti saat ini, dia terpaksa melepas masa lajangnya demi memenuhi keinginan sang papa.


Dean tersenyum miring, "Ya setidaknya aku lebih baik, dari anak emasmu itu," ucapnya dengan nada menyindir.


"Dean....?! Bentak sang papa nyaring.


"Aku rasa percuma kita bicara," ucap Dean sambil berdiri dari duduknya, meninggalkan sang papa.


"Terima kasih nak," suara papa Bima berhasil menghentikan langkah Dean. Ada sedikit kehangatan didadanya mendengar kata langka yang keluar dari bibir sang papa.


"Renof, dia memiliki alasan, atas tindakannya itu." jelas papa Bima


Membuat Dean tidak habis pikir, bahkan disaat Renof telah mencoreng mukanya saja, laki laki ini masih membelanya?


"lucu sekali," ucap Dean dalam hati, tampa sadar mengebal tangannya sehingga membuat orat oratnya menyembul keluar.


"Tidak masalah, dan jangan lupakan janjimu? sekarang aku sudah menuruti perintahmu, jadi jangan pernah lupakan janjimu itu!," ucap Dean sebelum hilang dari depan pintu ruangan sang papa. Sementara sang papa, hanya menatap sedih kepergiannya, kata kata Dean seperti tamparan keras untuknya "Papa salah nak?," ucapnya lirih.


.


.


.


Bersambung


Hay jangan lupa likenya❀

__ADS_1


__ADS_2