
Diruangan rawat dengan nuansa putih, dan kental dengan aroma obat obatan itu, Tempt yang pernah menjadi tempat paling mengerikan bagi Dinda dulu. Dimana dirinya kehilangan kedua orang tua beberapa tahun silam.
Entah mengapa filing Dinda mengatakan bila tragedi itu akan terulang.
Karena itu Dinda bersekukuh meminta Dean untuk menginap di RS tersebut, Sehingga Dean hanya bisa mengiyakan permintaan istrinya itu.
Mama Chinta dan papa Bima sudah pulang keapertemen mareka, Dean meminta Mama Chinta untuk beristirahat karena tidak tega melihat wajah lelah mama Chinta, mulanya mama Chinta menolak, namun dengan sedikit paksaan dari putranya itu iapun akhirnya menyerah.
Karena mama Chinta sudah hapal dengan watak Dean, yang tidak akan berhenti bila keinginannya tidak dituruti itu.
Sementara Sinta, ia sudah pamit lebih dulu, karena Sinta berkerja disalah satu Caffe sebagai waitress disana, membuatnya harus meninggalkan sepupunya itu demi untuk menyambung hidup.
Dan kini tinggallah Dinda dan Dean saja yang ada diruangan itu, menemani Renof yang masih belum membuka matanya itu.
Dean sudah tertidur, dikasur lipat, yang memang Sinta bawa dari rumahnya itu, khusus untuknya beristirahat sewaktu waktu lelah, karena sebelumnya Sinta hanya menjaga Renof sendirian saja, jadi wajar bila ia sangat kelelahan.
Sedangkan Dinda saat ini masih terjaga, sambil menatap tubuh tegap Renof yang berbaring tak berdaya itu.
Dinda mengelus punggung tangan Renof pelan,
"Hey, bangunlah? apakah tidak ada yang ingin kau bicarakan?" tanya Dinda dengan suara sedikit serak.
__ADS_1
Namun Renof hanya diam tidak ada respons darinya saat itu.
Membuat Dinda hanya tersenyum kecut saat itu.
Dinda memandang wajah Renof yang terlihat pucat, dan lingkaran hitam diarea kelupak matanya, akibat dari sinar Raser yang dilakukan untuk mematikan akar dari sel sel kankernya itu.
"Tok...tok...tok." terdengar suara pintu diketuk dari luar, dan masuklah salah satu perawat yang bertugas pada malam itu.
"Malam bu?" sapa perawat itu ramah.
Yang disambut ramah pula oleh Dinda saat itu.
Dinda hanya mengangguk pelan, dengan masih menatap lekat Renof saat itu.
"Sama kapan?" ucap Dinda tiba tiba, membuat perawat, yang sedang menjalankan tugasnya itu menatap kearah Dinda saat itu.
"Sampai kapan semua ini terpasang ditubuhnya sus?" tanya Dinda dengan wajah datar.
Perawat cantik itu hanya tersenyum pelan, sambil meneruskan pekerjaannya, yang sempat terhenti oleh ucapan Dinda tadi.
Setelah selesai, iapun menghampiri Dinda, dan menepuk pundaknya pelan.
__ADS_1
"Aku, tidak tau bu, tapi yang diatas, pasti tau?" ucapnya sambil tersenyum.
Dinda tersenyum mendengar perkataan perawat itu.
"Yakinlah Bu, bila Tuhan tidak akan memberi kita cobaan, melebihi dari kemampuan kita!" ucapnya lagi, sambil berjalan meninggalkan Dinda yang masih kalut dengan pemikirannya sendiri saat itu.
Dinda hanya menghela nafasnya, ia membenarkan apa yang perawat itu, katakan tadi.
Dinda pun memutuskan untuk menyerahkan segala beban yang ia rasa kepada sang pencipta, yang entah mengapa membuatnya merasa lebih baik saat itu, hingga rasa kantuk melanda, wajar memang karena jam sudah menujukkan jam 2 dini hari saat itu.
Dinda pun memutuskan untuk beristirahat disamping suaminya itu.
Namun saat ia hendak beranjak dari kursinya, tampa sengaja Dinda melihat pergerakan dari tangan Renof saat itu.
Membuat mengurungkan niatnya saat itu.
"Renof?!" ucapnya dengan jantung berdetak kencang.
Namun tidak ada respons dari Renof saat itu, membuat Dinda memanggil namanya berulang kali saat itu, sehingga membuat Dean ikut terjaga oleh teriakan dari istrinya itu.
Bersambung
__ADS_1