
Pernahkan kalian merasa, hati menjadi gundah gulana, langit cerah namun tertutup oleh awan.
Mungkin itulah yang Dinda rasakan malam ini, melihat keakraban Dean dan wanita yang baru saja datang itu.
"Perasaan apa ini?" tanyanya heran dalam hati, karena yang ia rasakan sekarang lebih sakit dari pada ditinggal oleh calon suaminya Arenof Anggara waktu itu.
Ia pun memegagang dadanya yang kian sesak.
"Dean? aku mau ketoilet?" katanya tampa menunggu jawaban dari pria itu, dan langsung pergi dari tempat yang membuatnya merasakan tak nyaman dan sesak itu.
Dean yang melihat kepergian Dinda, Dengan cepat menyusuli wanita itu, seakan baru tersadar akan keberadaan istrinya itu.
"Dean? mau kemana?" teriak Cesya namun Dean tak mendengarkannya dan terus mencari keberadaan istri dikerumunan banyak manusia itu.
Sudah lebih 20 menit Dean mencari istrinya tersebut, namun belum melihat keberadaan sang wanita.
Iapun menghubungin hape wanita itu namun tidak aktif, diapun memutuskan untuk meminta bantuan dari ketiga temannya yang masih asyik menggoyangkan tubuhnya menikmati musik yang sedang DJ mainkan.
Ditempat lain.
Dinda binggung mau kemana, ia bukannya menemukan toilet, tapi malah nyasar?.
Mana hape lowbat, iapun binggun mau gimana sekarang.
"Ada apa nona apakah kau butuh bantuan?" suara seseorang pria mengaget kan Dinda saat itu yang sedang menunduk pasrah.
Ia menatap arah sumber suara dan melihat seorang pria Dewasa yang mungkin berusia 30 lebih.
"Aku nyasar?" jawab Dinda polos, membuat pria dihadapannya itu hanya tersenyum seakan tak percaya dengan apa yang diucapkan wanita didepanya saat itu.
"Mau aku bantu?" kata pria itu dengan matanya yang liar memandangin setiap lengkuk tubuh Dinda saat itu.
__ADS_1
Dinda yang sadar Dipandang penuh nafsu pria itupun dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Tidak perlu!" tolak Dinda halus.
"Tapi kamu membutuhkannya nona?" jawab pria itu sambil mengenggam tangan kanan Dinda kasar.
"Tidak, lepaskan? aku takut?" jawab Dinda gemetar ketakutan.
Namun pria itu tetap menariknya kasar, kearah pintu keluar.
Belum sampai mareka keluar, suara seseorang menghentikan mareka.
"Mau kau bawa kemana istriku?" kata orang tersebut sambil mengepalkan tangannya melihat isak ketakutan Dinda saat itu.
Sontak pria asing itu melepaskan genggamannya ditanggan Dinda.
"Aku hanya berniat membantunya, karena aku melihatnya kebingungan tadi?" jawab pria itu tampa sedikitpun berbohong.
"Oh...terima kasih atas bantuanmu sekarang kau bisa pergi?" jawab Dean dingin sambil berjalan menghampiri Dinda yang saat itu masih gemetar ketakutan.
"Kamu tak apa apakan?" tanya Dean saat sudah ada Dihadapan Dinda sambil memeluk wanita itu menyesal. Jika ia terlambat sedikit saja, entah apa yang akan terjadi kepada wanita dihadapannya saat itu.
"Aku takut?" jawab Dinda sambil bernafas lega.
Dean melepaskan pelukannya dan melihat pergelangan tangan kanan Dinda memerah, tanda bila pria tadi menariknya dengan kasar.
"Ayu kita pulang!" kata Dean pelan, tak lupa iapun berpamitan kepada ketiga teman, Siska dan Cesya yang berdiri tak jauh dari sana.
Kemudian Dean menarik istrinya pelan membawanya pergi dari tempat itu, sementara Dinda hanya menurut, ia masih shock dengan apa yang terjada padanya tadi.
Cesya hanya memandang Dean yang kian menjauh dari pandangannya saat ini.
Terbesis rasa iri dan cemburu yang menyinggahi hatinya kala itu.
__ADS_1
Bagaimana tidak, perhatian yang selama ini hanya dia yang dapatkan.
Malam ini didapatkan wanita lain, entah kenapa ada rasa sakit dan terluka yang menghinggapi dirinya kala melihatnya.
.
.
.
.
Bersambung
.
.
.
.
Hay guys jangan lupa,
Like❤ n komentarnya.
Ada yang Baper gak?.
kalau ada, sama karena author juga
Baper😢😢😢
__ADS_1