
Sore ini Dean baru saja pulang keapartemennya yang terlihat sepi itu bagai tak berpenghuni, yang karena Mbak Sari sedang cuti pulang kampung saat itu.
Dean mendudukkan tubuhnya disofa ruang tamu sambil melunggarkan dasi yang masih melilit manis dilehernya saat itu.
Dean baru saja habis dari RS, dia mengira Dinda berada disana tadi.
Namun ternyata istrinya itu tidak ada disana, "mungkin dia kuliah,,, "pikir Dean. saat itu.
Dean sangat merasa lelah, dia pun memutuskan untuk pergi kekamarnya untuk beristrirahat saat itu.
Namun Dia bingung karena pintu kamar tidak bisa dibuka, Dean mencoba membukanya lagi namun tetap tidak bisa.
Dan akhirnya Dean pun mengetuk pintu kamar itu.
"Tok....tok....tok...." ketuk Dean namun masih tidak ada jawaban.
"TOK...TOK...TOK..." Kali ini Dean mengetuk pintu Lebih keras.
Membuat Dinda yang saat itu tidur sambil bersandar dipintu kamar tersentak kaget, spontan membuka pintu kamar tersebut.
Alhasil dia melihat Dean yang sedang berdiri didepan pintu.
__ADS_1
Dinda mengucuk matanya yang masih buram, namun Dean mencegahnya dengan memegang tangan Dinda spontan.
"Kau habis menangis?." tanya Dean dengan wajah bersalahnya.
Dinda hanya diam sambil menundukkan kepalanya, entah mengapa perkataan Dean sukses membuatnya merasa sedih lagi dan alhasil air matanya jatuh seketika.
Dean menarik tubuh Dinda ke pelukannya Dean bisa merasakan tubuh Dinda yang bergetar hebat saat itu.
Sebenarnya Dinda ingin menolak, tapi dia seakan tidak punya tenaga untuk menolak pelukan hangat suaminya saat itu.
Yang seakan sudah menjadikan dia candu itu.
"Bukankah aku pernah bilang, bila kau tak perlu mendengarkan perkataan orang lain, karena tak satupun perkataan mareka yang bisa membunuhmu..? ucap Dean sambil mempererat pelukannya saat itu.
"Jangan dengarkan ucapan Cesya...?" perkataan Dean menggatung saat menyebutkan nama sahabatnya itu.
"A...ku ti...tidak memikirkannya, aku sudah mengetahuinya sejak dulu!." balas Dinda dengan terbata bata, sambil mencoba melepaskan dekapan Dean dari tubuhnya saat itu.
Dean hanya membungkam, karena memang apa yang Cesya ucapan adalah sebuah kenyataan, tapi itu dulu, sebelum dirinya jatuh cinta kepada istrinya itu.
Ya Dean sudah mencintai Dinda saat ini, entah sejakkan perasaan yang mulanya hanya kagum, itu berubah menjadi cinta Dean pun tidak tau.
__ADS_1
Namun yang pasti Dean sangat mencintai istrinya itu.
"Itu memang benar, tapi sekarang berbeda, karena sekarang aku sudah jatuh cinta kepada kakak ipar?" ucap Dean sambil menangkup kedua pipi Dinda dengan tangannya yang besar.
Sehingga membuat manik lejel Dinda terpaut dengan manik coklatnya saat itu.
Dinda hanya diam dengan suara jantung yang mengebu gebu saat itu.
"Adinda Putri, maukan kau menikah lagi Denganku?" pinta Dean dengan sungguh sungguh saat itu.
Dinda masih menatap manik coklat itu, seakan mencari sebuah kebenaran disana.
Saat tidak menemukan kebohongan disana Dindapun mengagukkan kepalanya mantap.
Dean tersenyum senang melihat jawaban Dinda saat itu.
Deanpun mencium kening Dean kilas, tapi tidak hanya itu.
Dean mencium mata, pipi, dan terakhir Dean mengecup lembut bibir merah Dinda dengan penuh cinta, Dinda hanya diam dia seakan masih terpaku dengan perlakuan Dean saat itu.
Sampai Dean menbukung tubuhnya membawanya kekasur mareka yang menjadi saksi dua insan yang memadu cinta itu.
__ADS_1
Bersambung
minta Vote dan Likenya ok😘