
Dinda tengah berbaring, ditempat tidur, berupaya untuk mengistirahatkan tubuh lelahnya sejenah.
Namun kedua maniknya lezelnya tak mau tepejam, pikirannya berkelana entah kemana, sesekali ia menggeleng tidak yakin dengan apa yang ia rasa saat ini.
"Tidak...!! tolong pergi dari benakku...!!" teriak Dinda frustasi, sambil mendudukkan tubuhnya, dan memukul-mukul pelan kepalanya.
"Mungkin ini efek berpisah terlalu lama, jadi begini...!!" isaknya. Bagaimana mana tidak, sejak pulang dari RS tadi, ia mencium aroma parfum dari suaminya yang menyuak masuk memenuhi panca indera sejak tadi.
"Apakah aku mulai gila? kenapa aromanya ada dimana?" pikirnya sambil memeluk kedua lututnya sedih.
"Hiks...hiks...hiks..." tangisnya pecah!! tak tampu memendung rasa rindu yang sejak lama ia tahan. "Kangen! tapi kamu jahat, tega sama aku!" gumannya dalam sela-selah isaknya itu.
Entah berapa lama ia menangis, menangisi Nasib cintanya, cinta yang mulanya indah dan sempurna, dimana ia selalu menjadi pemeran utamanya, diutamakan, dan selalu dinomor satukan layatnya sang ratu.
Bisa dibayangkan apa yang saat ini ia rasakan, sebenarnya harga dirinya sangat terluka, bisa-bisanya ia dengan mudah jatuh cinta kepada pria semudah ini.
Dulu Dinda tidak pernah jatuh cinta sedalam ini, termasuk terhadap Renof sekalipun, tega memang tapi itulah kenyataannya.
Dinda selalu menjaga hatinya, agar tidak mencintai seseorang secara berlebihan, karena ia sangat takut terluka, dan seperti ini! inilah yang selalu ia takutkan .
"Jika jatuh cinta semudah ini, mengapa melupakanmu sesulit ini?!" tanyanya kepada hatinya, ingin sekali ia meluapkan rasa sakit yang sudah lama ia tahan sejak lama, namun ia tak tau caranya, sehingga ia hanya mampu menangis tersedu-sedu, sampai alam mimpi menghampiri diri.
...
__ADS_1
paginya Dinda bangun dengan kelupak matanya yang sembab, diliriknya samping tidur tidak ada sahabatnya.
Ia beranjak malas, namun rasa lapar diperutnya tidak mampu ia tahan, sehingga ia memutuskan untuk membasuh wajahnya terlebih dulu, ditatapnya pantulan dirinya di cermin, sungguh sangat mengenaskan, melihat wajahnya yang bengkak, akibat terlalu lama menangis semalam.
Setelah selesai membasuh muka dan menggosok gigi, ia memutuskan untuk keluar kamar, namun perhatiannya teralihkan, kebenda yang terlihat sangat menyolok.
Diraihnya benda tersebut, sebuah kertas Katon berwana muda, yang berbentuk hati.
"DEG" jantung Dinda berdegup kencang melihat tulisan dikertas tersebut.
"I'M SORRY" manik lezelnya, berkaca-kaca membaca tulis tersebut.
Ia memandang ke sekeliling kamar, seakan mencari seseorang, iapun melangkah keluar kamar, saat akan membuka pintu, ia terdiam seakan tak percaya dengan apa yang terjadi saat ini.
Bagaimana tidak, ruang tamu sederhana apartemen itu sudah disulap menjadi sangat indah, dimana bunga mawar putih dan lilin, bertebaran dijalan yang akan menuntunnya kepada pria yang saat ini sedang memandang intens dirinya, dengan sebuket bunga mawar putih ditangannya.
Dan dekorasi mawar putih memenuhi ruangan yang tak terlalu luas itu, dengan lilin-lilin kecil, sehingga membuat suasana menjadi begitu romantis.
Dinda membekap mulutnya tak percaya, dalam diam, tak percaya, sungguh ia sekarang seperti orang linglung.
Pria yang memakai tuxedo berwarna crem, sehingga membuat aura tampannya semakin terpancar, berlahan ia berjalan menghampir Dinda yang masih diam tak bergerak itu.
"Happy anniversary my honey" ucapnya sambil menyerahkan buket mawar putih itu, dan menekuk satu lututnya, berlutut dihadapan Dinda saat ini.
__ADS_1
Cairan kristal jatuh tak tertahankan, dari kelupak manik Dinda saat ini.
Terharu, kaget, bahagia, dan rasa kecewa, berkumpul menjadi satu saat itu, sehingga membuatnya hanya diam membisu.
Dean yang melihat wanitanya hanya diam pun beranjak dari posisinya saat itu, pelan ia melangkah mendekati istrinya yang terlihat sangat syok, hingga menjadi sejajar.
"Maaf...! bila dalam satu tahun pernikahan kita, aku sering membuat mu sedih, dan kecewa..." ucap Dean tulus, sambil menggenggam tangan Dinda pelan, diciumnya dalam-dalam tangan lembut istrinya itu sayang.
"Adinda Putri istriku, kesayanganku, maukah kamu menemaniku, untuk menjalani hari-hari bersamaku?!" tanyanya sambil memandang lekat, manik lezelnya, Dinda dalam.
Dinda hanya diam, dengan kedua tangan yang dingin bagaikan es, dan bergetar hebat.
Dean menarik tubuh bergetar istrinya itu kedalam pelukannya, sungguh ia tak sanggup melihat wajah cantik Dinda yang berlinang air mata itu.
"Maaf atas sikapku ya selalu membuat mu kecewa?!" ucapnya tulus.
Dinda hanya diam, namun tidak dengan tangannya, kedua tangan lembut itu sudah membalas pelukan suaminya, yang tidak bisa ia kontrol.
Dihirupnya dalam-dalam aroma tubuh yang beberapa hari ini ia rindukan itu.
"Hiks.." isaknya, ingin sekali ia mendorong tubuh tegap dihadapannya itu menjauh.
Namun ia tak bisa untuk melakukannya tubuhnya malah memeluk tubuh tegap itu semakin erat, seakan tidak ingin untuk terlepah, barang sedetik saja, sungguh otaknya tak sinkron dengan tubuhnya.
__ADS_1
Bersambung