My sister - in- law my husband

My sister - in- law my husband
Seharusnya Memang Seperti Ini


__ADS_3

Sementara itu, Dean hanya diam, sambil menatap wajah cantik istrinya dari layar ponsel miliknya itu.


"Kok...diam?" tanya Dinda, salting melihat suaminya menatapnya tampa berkedep.


"Kangen?" jawab Dean manja.


"Kalau kangen ya kesini, dong?" protes Dinda sambil mengerucutkan bibirnya sebel.


Dean tersenyum geli melihatnya.


"Kan lagi sibuk yank?" jawabnya dengan ekspresi penuh sesal.


Dinda tersenyum manis, "Bercanda kok!" jawabnya lagi, tidak enak hati melihat wajah sedih suaminya itu.


"Oh iya yank? bilangin sama teman kamu tuh si Chalvin, buat hubungi sahabat aku, kasian dia, galau terus sudah tiga hari loh?" kata Dinda saat teringat akan sahabatnya itu.


Dean menyengit dahinya nampak berpikir, karena sudah tiga harian ini juga ia tidak bertemu dengan sahabatnya itu.


"Iya nanti aku bilangin!" jawabnya, sukses membuat istrinya itu tersenyum sumringah dibuatnya.


"Et...Tapi cium dulu?" pintanya sambil menunjuk bibirnya menggoda.

__ADS_1


Membuat kedua pipi Dinda jadi merah merona dibuatnya, namun tetap ia turuti dan "Cup" Dinda mengecup kilas layar ponselnya, layatnya Dean, membuat ia tersenyum geli sendiri, dibuatnya.


"Gak kena yank?" protes Dean gak terima karena dia belum siap, dengan ciuman dadakan istrinya itu.


"Ulangi lagi ya?" pintanya sambil memasang wajah sok imutnya.


Namun harus kecewa, saat melihat Dinda menggeleng dengan tegas, sambil berkata "Tidak ada suara ulang?!"


Cukup lama mereka bertukar kabar, dengan obrolan ringan, dan terkesan tidak penting, namun mampu mengurangi rasa rindu yang mareka rasa beberapa hari ini.


...


"Cesya?" sapanya melihat wanita itu, yang tengah duduk diruang tunggu showroom miliknya itu.


Cesya yang mendengar namanya disebut, lantas mengalihkan pandangannya ke sumber suara tersebut.


"Dean...?!" Ucapnya dengan manik berderai air mata, dan melangkahkan kakinya mendekati pria itu, dan memeluk tubuh itu pelan.


Dean yang kaget mendapati serangan mendadak dari sahabatnya itu tidak sempat menghindar, dan membiarkan saja sahabatnya itu memeluknya, tampa membalas pelukan tersebut.


Cesya yang merasa tidak ada balasan dari sahabatnya itu, menyengit heran, sambil melepaskan pelukannya.

__ADS_1


"Kenapa kamu begini?" Tanya Cesya sambil menatap sendu wajah pria tampan dihadapannya saat ini.


Dean hanya diam sambil mencerna ucapan sahabatnya itu.


"Kenapa kamu berubah?" tanyanya lagi, dengan nada suara lirih, saat mengingat bila hampir dua bulan lebih, sahabatnya itu tidak pernah menjenguknya, atau menghubungi dirinya, terakhir saat ia masuk rumah sakit beberapa bulan yang lalu, setelah itu hilang tampa kabar.


"Kau menghidariku?" tanyanya dengan raut wajah tak suka. "Apakah istrimu yang memintanya?" lanjutnya dengan nada suara yang mulai bergetar, entah mengapa rasa sesak tiba-tiba melanda didadanya saat itu.


"Jangan salahkan dia! memang sudah seharusnya ada jarak antara kita!" jawab Dean sambil melepaskan tangan Cesya yang sejak tadi ada di lengannya risih karena tampa mareka sadari sejak tadi menjadi tontonan para pelanggan dan beberapa karyawan miliknya itu.


"DEG" jantung Cesya bagaikan terkena hantaman berat, saat mendengarnya, sehingga membuat cairan bening itu luruh dengan begitu deras.


"Maaf! tapi aku rasa kita tidak bisa seperti ini, bagaimana pun juga kita sudah memiliki kehidupan masing-masing..." ucap Dean terhenti. "Tapi kenapa baru sekarang? kenapa baru sekarang Dean?!" Potong Cesya sambil menatap wajah Daen dangan tatapan penuh luka.


"Ya memang Kita seharusnya, memang seperti ini!" jawabnya lagi, sebenarnya Dean tidak tega, melihat wajah sedih sahabatnya itu, namun ia tidak ingin, suatu hari nanti rasa simpatinya malah menjadi bumerang untuk dirinya.


"Kamu berubah Dean?" teriak Cesya sambil mendorong tubuh Dean, dan pergi dari hadapan sahabatnya itu.


"Maaf!" guman Dean dalam hati, sambil menatap kepergian sahabatnya itu sampai bayangan sahabatnya itu menghilangkan dari padangannya saat itu.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2