
Puisi
Jika sudah ada sepiring nasi, janganlah kamu mencari roti, karena nasi itu bisa basi!.
Dan jika ada yang mencintaimu dengan tulus hati, jangan kau sia siakan! karena suatu yang telah pergi takkan pernah kembali?!.
Benarkan guys....?
Cerita sebelumnya
Dinda tersenyum geli melihat tingkah bungkam Dean.
Dinda memandang wajah prianya ada dihadapanya itu, pria yang lebih muda dua tahun dari Renof itu biasanya terlihat Dewasa dan tenang, tapi apa kini yang Dinda dapatkan?
Ia kini melihat sikap lain dari pria yang berusia 27 tahun tersebut.
"Kau sangat tampan ketika diam begini, dan bibirmu itu semakin seksi ketika menggerutu kesal?" cuap Dinda sambil memandang benda pipis persegi yang ada ditangannya tersebut, seakan akan sedang bicara pada benda tersebut.
Dean mencibirkan bibirnya mendengar pujian dengan nada menyindir dari sang istri. Walaupun Dinda seakan bicara dengan hapenya tapi Dean tau bila sindiran itu diarahkan untuknya.
"Bagaimana kalau kita mulai dengan berlahan, seperti pasangan pada umumnya?" cuap Dinda lagi sambil menatap manik coklat pria tersebut serius.
Dean menyengitkan dahinya tak tak percaya dengan pendengarannya sendiri.
"Apa?" tanya Dean sambil menatap Dinda intans. Dinda menghela nafasnya kasar sambil bicara "
__ADS_1
Tuan Ardean Anggara apakah kau bersedia untuk menjalani hubungan ini berlahan lahan seperti pasangan kekasih pada umumnya!?" tanya Dinda lagi, matanya dan Dean saling terpaut sehingga Dean bisa melihat keseriusan dari balik manik lejel tersebut.
"Aku sudah memulainya, tapi kau yang terkesan menghindar?" jawab Dean sinis.
Sesaat Dinda terdiam, karena ucapan Dean benar adanya.
"Kita coba berlahan, Dengan yang ringan...dulu....?" Dinda menghentikan ucapanya karena malu, melihat mata coklat Dean yang memandangnya sendu.
Seakan sedang memandangnya remeh.
"Ya sudah kalau kau tak mau? Lupakan saja?" katanya kesal melihat Dean yang seakan tak percaya dengan yang ia ucapkan.
"Hey...? kenapa kau lebih dulu menyimpulkannya? bahkan aku belum menjawabnya?" jawab Dean kesal, mendengar kesimpulan wanita itu.
"Aku mau kok?" jawab Dean pelan sambil memalingkan pandangannya kearah lain, karena malu.
Dinda bisa dengan jelas melihat mimik malu malu dari suaminya itu.
Membuatnya tersenyum geli dibuatnya, sungguh tak pernah ia harapkan, bisa melihat reaksi malu dari seorang Ardean yang terkenal Cool itu.
"Baiklah kita sepakat ya? untuk saling membuka diri?" cuap Dinda sambil tersenyum manis kearah suaminya tersebut.
Dean hanya menganggukkan kepalanya setuju.
Paginya
__ADS_1
Dinda sedang membuat roti bakar keju, untuk sarapan.
Kini Dean sudah duduk dimeja makan dengan secangkir teh panas buatan sang istri.
Tadi malam setelah pembicaraan serius dia dan Dinda memutuskan untuk tidur sekamar. Eth....jangan berpikiran yang aneh aneh ya. mareka hanya tidur sekamar, tapi tampa saling menyentuh satu sama lain, jadi intinya tak ada yang terjadi, pahamkan?
Karena Dinda meminta waktu untuk itu, dan Dean menghormati permintaan sang istri.
Kini mareka sarapan dengan hikmat..."Apakah pagi ini kau kuliah?" ucap Dean membuka memecahkan keheningan pada saat itu.
"Tidak aku masuk siang, jam 11!" jawab Dinda sambil melahap roti yang ada dihadapnya saat itu.
Dean hanya ber oh ria, sesaat dia teringat sesuatu, sambil mengambil sesuatu dari dalam dompetnya.
"Ini, kau pegang?" perintahnya sambil memberi ATM warna hitam kepada Dinda, "passwordnya tanggal pernikahan kita!" lanjutnya lagi.
Dinda menerima benda itu dengan suka cita, "Terima kasih!" ucapnya sambil tersenyum manis.
Membuat Dean merasakan darahnya berdesir dan membuatnya merasakan ada sesuatu yang asing yang tengah merasuk didalam hatinya saat ini.
"Aku berangkat dulu ya, udah lama gak kebengkel, mau cek keadaan disana dulu?!" pamit Dean sambil ngacak rambut Dinda gemes.
"Hmm." jawab Dinda pelan sambil menyalami suaminya tersebut.
Bersambung.
__ADS_1
Hay guys jangan lupa likeβ€ n komentarnya ya?
Makasih...?πππ