
"Aku tidak mengasihaninya, hanya saja, aku merasa, menjadi orang yang sangat jahat." jawab Dinda saat beberapa lama terdiam tampa kata itu.
Sinta menatap Dinda instens, sehingga ia bisa melihat genangan kristal yang mulai terlihat di kelopak mata lejel wanita itu saat ini.
Membuat Sinta hanya bisa tersenyum pelik melihatnya, Sinta sangat mengerti dengan apa yang ada dibenak Dinda saat ini.
Iapun pasti bingung bila ada di situasi Dinda sekarang.
"Jangan pernah menganggap dirimu jahat, Renof pasti sedih bila mengetahuinya?" ucap Sinta sambil mengalihkan pandangan asal.
"Tidak perlu merasa bersalah, karena, Renof sendiri yang telah menyerahkanmu kepada Dean!!" Kalimat yang Sinta ucap berhasil membuat hati Dinda sakit seperti dihantam dengan benda keras.
Sehingga membuat genangan kristal yang ada dikelopak mata lejelnya tumpah seketika.
Ya itulah kenyataannya, meskipun menyakitkan, tidak ada pilihan lain selain menerimanya dengan lapang dada.
Dinda tersenyum kecut, sambil menganggukkan kepalanya paham.
Tampa menjawab dan pamit ia mulai meninggalkan ruang in itu dengan diam.
Sinta hanya terduduk lemah, kedua lututnya seakan tidak mampu menupang berat tubuhnya saat ini, sebenarnya ia tidak tega berbicara seperti itu, namun ia tak ingin membebani Dinda dengan rasa sesalnya.
Karena hal yang tidak ingin Renof lihat adalah kesedihan diwajah cantik Dinda saat ini.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Dinda memandang keseluruh penjuru ruang tunggu pasien, namum tidak mendapati keberadaan Dean disana.
Iapun meraih handphone yang ada diatas salempang yang ia kenalan saat itu.
Namun Dinda mengurungkan niatnya dikala melihat sosok yang ia cari sedang melambai kearahnya saat itu.
Dengan senyum simpul yang menghiasi bibir seksinya saat itu.
Dinda menatap Dean lekat, dalam hatinya bersyukur karena pria itu tidak marah kepadanya saat ini.
"Ayu kita pulang?" ajak Dean yang kini sudah ada dihadapan Dinda yang masih menatapnya dengan tatapan sendu.
Dean mengusap kepalanya pelan, sambil tersenyum sayang, kepada wanita yang begitu istimewa baginya itu.
Dean mengusap cairan itu dengan penuh sayang, membuat Dinda merasa begitu penting baginya.
"Jangan menangis, kau jadi jelek saat menangis tau?" ledek Dean sambil memperhatikan penampilan istrinya yang sangat sangat berantakan itu.
telopak matanya yang bengkak, dan rambut coklatnya yang acak acakan saat itu.
Dinda hanya diam, tidak marah dengan ledakan suaminya itu, malah ia memeluk tubuh tegap itu, menyembunyikan wajahnya didada bidang suaminya itu.
__ADS_1
"Hey, mengapa kau jadi cengeng begini?" tanya Dean heran, ia menggoda istrinya itu bermaksud agar istrinya itu marah, namun malah membuat wanitanya itu tambah sedih.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sekitar jam 7 pagi, mama Chinta dan papa Bima juga sudah berada di RS, menggantikan Dean dan Dinda saat itu.
Kini Dinda sedang berada dimeja makan bersama dengan Dean saat ini, untuk sarapan.
Dinda tidak memasak pagi ini, karena mama Chinta dan mbak Sari sudah memasak begitu banyak menu pagi ini, jadi Dinda hanya duduk manis pagi ini.
...
Kini Dinda dan sedang berbaring di tempat tidur, dengan Dinda yang bersandar diranjang dengan Dean yang merebahkan tubuhnya terlentang disampingnya, sehingga ia dengan jelas melihat raut wajah istrinya itu.
Dean menatap Dinda yang terlihat begitu kacau saat ini.
Membuatnya hanya bisa menghela nafas berat.
Dinda memalingkan pemandangannya kearah suaminya itu, karena mendengar nafas berat suaminya itu.
"Ada apa?" tanya Dinda heran.
Dean hanya diam sambil memejamkan matanya, tiba tiba rasa sakit menjalar dihatinya saat membayangkan bila yang memenuhi benak istrinya itu bukanlah dirinya, melainkan pria lain, sehingga membuatnya merasa sesak saat ini.
__ADS_1
Bersambung
jangan lupa vote dan lukanya, biar author semangat mulusnya.