My sister - in- law my husband

My sister - in- law my husband
Membujuk


__ADS_3

Cukup lama mereka berpelukan dalam diam, tak ada yang bersuara, hanya suara Isak Dinda yang menggema lirih terdengar.


"Maaf?!" ucap Dean lirih, sungguh ia terluka mendengar Isak tangis istrinya itu.


Dinda hanya diam, lidahnya seakan kelu tak mampu untuk bersuara. Entah kenapa ia menjadi lemah, hingga tak mampu berbuat apa-apa, selain membalas pelukan hangat suaminya itu.


Hingga beberapa menit kemudian,


Dean berlahan melepaskan dekapannya, untuk melihat wajah cantik istrinya itu.


Dinda masih diam membisu, kala Dean membelai kelupak matanya yang sembab dengan lembut, turun kepipi, hidung, dan berakhir dibibir merah meronanya.


Melihat tidak ada penolakan dari sang istri, Dean memberanikan diri untuk berlahan mendekati wajah cantik istrinya itu.


Manik keduanya saling terpaut, terkunci, bagaikan magnet, membuat sang empu berlahan namun pasti tersedut oleh dayanya


"CUP" Dean mengecup bibir mungil itu pelan, dan ******* kecil bibir manis dihadapannya berlahan.


"BRUK" buket bunga mawar putih yang sejak tadi ia pegang jatuh, berserakan dilantai marmer itu, saat Dean menyentuh tengku leher Dinda untuk memperdalam ciuman itu.


Dinda memejamkan manik lezelnya pasrah, menikmati getaran aneh yang tercipta akibat ciuman dari suaminya itu.


Namun hanya sesaat saja, iapun mulai tersadar, dan dengan segenap tenaga yang masih tersisa, ia mendorong tubuh tegap dihadapannya.


"BRUK" tubuh Dean jatuh tersungkur dilantai marmer. "AKKHH" ucapnya merasa sakit Dib*kongnya saat itu.

__ADS_1


"Sayang?!" ucapnya tertahan, saat melihat wajah Tampa ekspresi sang istri.


Dinda hanya diam Tampa menyaut ucapan suaminya itu, tubuhnya bergetar hebat, berlahan ia membuang pandangannya kearah lain, agar hatinya tidak goyah, dan didepan suaminya saat itu, berlahan-lahan, dengan segenap tenaga yang masih tersisa, ia beranjak pergi meninggalkan Dean yang masih diam diposisinya saat itu.


Dean sangat kaget, untuk sesaat, "Dinda?" teriaknya saat sadar akan kepergian istrinya saat itu.


Dinda tak menghiraukan, ia terus berlalu, sambil meremas kedua tangannya, seakan memberi kekuatan, dan "BRAK" pintu kamar ditutup dengan sangat kencang, tepat didepan wajah Dean yang mencoba untuk menyusul dirinya kala itu.


"Sayang? buka pintunya?!" pinta Dean sambil mengetuk pintu itu panik. Tak ada sahutan, hanya terdengar suara Isak tangis Dinda yang mulai menggema saat itu.


Yang mampu membuat hati Dean bagaikan tersayat mendengarnya.


"Sayang, buka dong? aku minta maaf?!" pintanya mengiba sedih.


"Maaf?" ucap Dean lirih, dengan wajah penuh sesal. "Maafkan aku, tolong beri aku kesempatan untuk memperbaikinya?" pintanya mengiba.


Hening tak ada sahutan, "Sayang? yank?" panggil Dean lagi namun tak ada jawaban, sehingga membuatnya hanya bisa mengaruk kepalanya frustasi.


"Yank buka? kamu gak kasihan sama aku, jauh-jauh datang kesini, untuk kamu?" ucapnya lagi, tak putus asa.


''Aku gak pernah memintamu datang!" teriaknya


"Bila aku merasa terbeban, karena datang kesini, pergi sana?" lanjutnya kesal.


"Bukan begitu maksud aku yank?" jawab Dean frustasi, sungguh ia terkejut dengan penolakan sang istri.

__ADS_1


"Aku gak ngerasa terbebani kok, kamukan istriku, tanggung jawabku!..." bujuknya lembut, penuh rayu.


"Jadi buka ya?" pintanya penuh harap, namun tidak ada sahutan dari sang istri. "Yank? kamu baik-baik aja kan?" teriaknya takut, mengingat kondisi Dinda yang tengah mengandung saat ini.


"Yank...jangan bikin takut!! buka pintunya, kalau tidak ku dobrak nih?" ucapnya dengan nada penuh ancaman.


Namun tidak ada sahutan dari balik pintu tersebut.


"Oke!! aku dobrak nih, aku hitung sampai tiga, bila kamu gak membuka pintunya, jangan salah aku!!" ancam Dean .


"Satu, dua, ti..." ucapan Dean terhenti kala pintu didepannya itu terbuka.


Memperlihatkan sosok wanita yang sedang cemberut dibaliknya.


Dean tersenyum legah, ternyata istrinya itu percaya dengan gertakannya.


"Sayang!!" ucapnya lembut sambil berlahan mendekati istrinya itu.


Ia raih kedua tangan lembut tersebut, dan ia kecup sayang punggung tangan tersebut secara bergantian.


"Maaf?" ucapnya tulus Sambil menatap sendu wajah cantik istrinya itu, yang masih setia dengan diamnya itu.


"Aku bukan tanggung jawabmu, buktinya kamu lebih mementingi sahabat kamu itu dari pada aku, jadi stop bertingkah seolah aku sangat berarti!'' ucap Dinda sambil menepis tangannya kasar, dari genggaman Dean kala itu, dan pergi meninggalkan Dean yang masih berdiri mematung dengan sejuta memikirkan di dalam benaknya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2