My sister - in- law my husband

My sister - in- law my husband
Berpisah


__ADS_3

Dean memutar handle pintu, apartemennya ,dimana gelap gulita, langsung menyapa indra netranya.


Dean menarik nafasnya pelan, ya saat ini sudah dini hari, terlihat jelas wajah lelah diwajah tampannya saat ini.


Ia berjalan guntai menuju kamar, saat membuka handle pintu pelan, agar tidak membangunkan sang istri. Tapi ada yang aneh, kamar itu gelap gulita, dan hawa panas, langsung menyapa kulitnya yang kedinginan karena perjalanan pulang tadi.


Dean menyengit heran, sambil menerka-nerka, dan berjalan menuju tombol lampu, dan benar saja, tidak ada seorangpun dikamar itu selain dirinya. Terlihat ranjang itu masih rapi, dan pendinginan ruangan yang mati.


"Kemana?" gumamnya pelan sambil meruguh saku celananya mencari ponselnya.


"B***s*k...!!" umpatnya saat melihat benda pipih itu ternyata mati.


Ia pun segera mengisi daya baterai ponselnya itu.


Dan mencoba untuk menghidupi ponsel itu yang baru terisi 1%.


Betapa kagetnya ia karena banyak sekali panggilan yang masuk bertubi-tubi, dari sahabatnya, dan dari sang istri.

__ADS_1


Dean menghela napas kasar, menyesali kecerobohannya itu.


Ya karena beberapa hari ini ia tak memperhatikan ponselnya, karena terlalu sibuk mengurus Cesya.


Dean mencoba menghubungi nomor istrinya itu, namun tidak aktif, iapun mencoba mengirimkan pesan, namun ia urungkan saat melihat pesan dari sang istri, dibacanya pesan itu, dengan tangan yang mulai bergetar, detak jantungnya seakan tidak berdetak dengan normal.


"Apa yang terjadi? apakah ini nyata?" tanyanya seakan tidak percaya dengan apa yang menimpanya saat ini.


"Aaakkkkhhhh....." Teriaknya sambil mengusap wajahnya kasar, Sungguh bertubi-tubi masalah yang ia alami beberapa hari ini.


"Kenapa? kenapa kamu meninggalkan ku...?" isaknya sambil mendudukkan tubuhnya yang bergetar disamping tempat tidur.


Sungguh ini sangat berat bagi Dean saat ini, dimana ia selalu merasa bahwa sang istri yang selama ini sangat mengerti akan dirinya itu, tenyata malah pergi meninggalkan dirinya.


Komplit sudah derita yang ia rasakan, Dean membaringkan tubuhnya yang masih saja bergetar, terlentang, ditatapnya langit-langit kamar itu dengan dada sesak, disentuhnya dadanya pelan, sambil memejamkan matanya, seakan menikmati rasa sakit yang menghimpit dada kini.


"Dinda...Dindaku sayang!!" gumannya pelan hampir tak terdengar.

__ADS_1


"Hoeeekk...hoeeekk...hoeekk..." Dean lari ke kamar mandi ketika rasa mual tiba-tiba menghampiri dirinya saat itu.


Entah berapa lama ia memuntahkan isi perutnya, sampai-sampai ia terduduk lemah didepan closet .


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Dilain tempat kini Dinda sedang merapikan barang-barangnya didalam lemari yg tersedia di apartemen yang ia tempati saat ini.


Ia harus mengeluarkan biaya sendiri untuk sewa apartemen itu, karena keberangkatannya yang mendadak, dimana teman-temannya sudah memiliki partner masing-masing.


Dinda mendudukkan dirinya di sofa ruang itu lelah, ia merasa agak bingung dengan keadaan fisiknya yang akhir-akhir ini gampang sekali merasa lelah.


"Lelah sekali..." gumannya sambil memijat kakinya yang terasa sangat pegal itu, tidak hanya kaki, bahkan sendi-sendinya pun terasa seperti mau copot semua.


Mungkin karena jarang melakukan perjalanan jauh, pikirnya sambil merenggangkan kedua tangannya.


Dinda memejamkan matanya, entah mengapa ia merasa sangat mengantuk, sambil sesekali menguap lebar, dan tidak sampai hitungan menit iapun sudah tidur sambil bersandar disofa itu dengan begitu lelap.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2