My sister - in- law my husband

My sister - in- law my husband
Tugas part 2


__ADS_3

Sebelumnya


Dinda memasuki kamar, namun tak ada tanda keberadaan Dean disana, ia pun meletakan teh itu dimeja rias yang terletak disebelah kanan tempat tidur. Dinda melirik kamar mandi yang tertutup. "Mungkin dia mandi." pikirnya.


.


Beberapa menit berlalu, namun Dean tak kunjung datang, Dinda yang merasa haus sontak meminum teh tersebut. "Auh....panas!" teriaknya kaget dikala air teh itu berhasil membasahi tenggorokannya, Sontak Dinda berlari keluar menuju dapur mencari air mineral yang ada di dalam lemari pendingin.


Setelah dapat langsung ia minum air tersebut hingga kandas.


"Kenapa non?" tanya bi Sri binggung melihat Dinda yang minum dengan berantakan seperti anak kecil itu, bi Sri melihatnya heran dinda yang berlari terbirit birit tadi.Dinda tak bisa menjawab dia hanya merendam air dingin didalam mulutnya agar bisa mengurangin rasa panas di lidahnya saat itu.


"Tehnya panas bi?" jawab Dinda dengan air mata berlinang, sambil meneguk air dimulutnya itu.


"Teh yang mana? teh untuk den Dean?" tanya bi Sri lagi.


Dinda hanya mengangguk malu, bagaimana tidak teh yang dibuat bi Sri tadi untuk Dean ia minum dengan lancangnya.


"O...alah non, hati hati, tehnya memang bibi buat panas, maaf ya non?" jawab bi Sri gak enak hati.


"Gak, ini salah Dinda, coba Dinda tak minum teh yang bukan buat Dinda pasti gak kaya gini." ucap Dinda menyesal.


"Gak apa apa non, hanya teh saja kan bisa dibuat lagi?,Ya udah, biar bibi buatkan yang baru tehnya." kata bi Sri seraya pergi meninggalkan Dinda yang masih duduk manis didekat lemari pendingin, tampa sepatah katapun itu.


Beberapa menit kemudian


"Ini non, tehnya?" ucap bi Sri sambil menyerah kan secangkir teh panas kepada Dinda.

__ADS_1


Dinda menyambutnya dengan senang, tidak lupa mengucapkan terimakasih, sambil meninggalkan bi Sri yang kala itu masih didapur sambil memandanginya sampai tubuh Dinda menghilang dari pandangannya.


.


.


.


Dikamar Dean yang kala itu sudah selesai mandinya, sudah fres dengan kaos merah dan celana warna hitam pendeknya, tak mengurangi kesan macho dan karismanya.


Dean memperhatikan wajah istri dadakannya itu yang cemberut sambil menteng mampan dengan cangkir diatasnya, dan meletaknya dimeja rias yang ada dikamar itu. Dean menarik alisnya melihat wajah masam istrinya itu.


"Gak rela banget ya, melayani suami sendiri?" sindir Dean kala melihat wajah cemberut sang istri.


"Gak usah mulai deh?" cuap Dinda gak mood.


"Nie minum?" perintah Dinda jutek.


Dean jengah melihat sikap Dinda yang terkesan tak besahabat dengannya. Gak ada basa basi sama sekali.


Diapun memilih untuk diam sambil meraih teh yang ada dimeja tersebut.


"Aku besok mau ke jakarta?" kata Dinda menjeda menunggu reaksi dari Dean.


"Hmm!" jawab Dean Dingin. Dinda menghela nafas melihat reaksi Dean yang seakan tak perduli, "Apa yang aku harapkan?" pikirnya sambil tersenyum pahit.


"Cuti kuliah mu udah selesaikan?" tanya Dean sambil menatap Dinda intens.

__ADS_1


Dinda yang mendengarnya tertegun, ia heran dari mana Dean tau?.


"Dari mana kau tau?" tanya Dinda penasaran.


Ya Dean tau tentangnya walaupun hanya satu, tapi itu berhasil membuat Dinda agak senang.


"Aku tau dari mama!" jawab Dean Singkat.


"Ooo..." sakrik Dinda kecewa.


Ya dia mengira suaminya itu adalah seperti fansnya yang rela jungkir balik hanya untuk mencari Idetitasnya.


"Kamu bisa tinggal di Apertemen ku yang ada disana, karena bagaimanapun kamu adalah istriku, dan sudah selayaknya aku memenuhi kebutuhanmu." kata Dean tulus.


Dinda hanya tesenyum kecil, "Apakah aku sebuah beban?" ucapnya dalam hati.


"Kau jangan merasa sungkan padaku, bagaimanapun aku inikan suamimu." lanjut Dean sentak membuat Dinda mengiyakan perkataannya tersebut.


.


.


.Bersambung


.


jangan lupa likenya ❤ n bintang limanya ya?

__ADS_1


Biar author semangat nulisnya.


__ADS_2