
"Sepertinya di whaslap saja tidak cukup deh?" usul Dean mantap.
Sehingga membuat Dinda yang kala itu sedang melap tangannya memandang Dean dengan tatapan curiga.
Dean yang ditatap begitu hanya tersenyum geli melihat reaksi dari istrinya itu.
Dinda bisa mencium ada maksud tersembunyi dari adik iparnya itu, tapi dia tak berdaya dia hanya bisa menghela nafas kasar.
"Emangnya apa?" tanya Dinda males.
Mendengar Dinda merespon ucapanya Dean seperti berpikir? sesaat dia terdiam, dan itu membuat Dinda merinding ngeri dibuatnya.
Entah kenapa dia merasa akan ada kejadian buruk yang akan dia alami pada detik ini juga.
"Aku mau mandi, kamu tau kan udah berapa lama aku tak mandi? dan itu membuatku gerah dan tak nyaman?" jelas Dean sambil mengedipkan matanya centil.
Dan itu sukses membuat Dinda menatapnya dengan pandangan yang mungkin hanya Dinda yang tau ya.
"Baiklah, akan ku siapkan!" jawab Dinda pelan sambil berjalan kekamar mandi dengan ember kecil ditangannya.
Selang berapa menit kini Dinda sudah muncul dari balik pintu kamar sambil berjalan menghampiri Dean yang kala itu duduk diranjang sambil menonton TV.
"Tempat duduknya sudah ku sediakan?" beritau Dinda sambil berjalan kearah sofa dan mendudukkan dirinya disana, sungguh dia sangat lelah, lahir dan batin menghadapin adik ipar versi (suami)nya itu.
"Mengapa kau malah duduk?" tanya Dean heran, membuat Dinda mengalihkan tatapannya kearah Dean.
Sesaat mata coklat Dean berpadu dengan manik lejel Dinda dan membuat keduanya terdiam untuk sesaat.
"Tolong bantu aku mandi?" ucap Dean tapi dengan nada merintah, membuat Dinda hanya bisa menghela nafas pasrah mendengarnya.
Andai Dean saat ini tak sedang cidera mana mau dia membantu pria itu.
"Baiklah!" jawab Dinda pasrah sambil beranjak menghampiri Dean dan menupangkan tangan kiri dean kebahunya untuk membantu pria itu menuju kamar mandi, Dean hanya menurut saja tampa membantah.
Sampai dikamar mandi Dinda mendudukkan Dean bangku dekat bak mandi yang tadi ia siapkan.
"Sudah! aku tunggu diluar!" kata Dinda sambil beranjak pergi meninggalkan Dean.
Belum sempat ia keluar namun suara Dean terlebih dahulu menghentikan langkah Dinda saat itu.
"Mandikan aku?" perintah Dean lagi.
"T...ta...api...?" jawab gugup dengan suara terbata bata karena gugup.
"Tolonglah! kamu taukan tangan dan kakiku masih sakit?" pinta Dean dengan wajah memeles.
Membuat Dinda tak tega untuk menolaknya kala itu, sehingga membuatnya mengiyakan permintaan pria itu, sambil berjalan mendekatkan tubuhnya ketubuh Dean, sehingga Dean bisa mencium aroma lemon yang keluar dari tubuh wanita yang ada dihadapannya saat ini.
Dinda melepaskan celana santai Dean sehingga hanya menyisakan celana dalamnya saja.
__ADS_1
Dan itu sukses membuat Dinda merasa seperti wanita nakal, yang tidak tau malu, karena berani melepas celana seorang pria, dan itu membuat wajah mulusnya merah seperti tomat karena malu.
"Oh Tuhan, tolong aku?" ucap Dinda dalam hati sambil memejamkan matanya dengan bibir kumat kamit seperti sedang membaca mantra.
Dan itu membuat pria dihadapanyam semakin semangat untuk mengodanya semakin jauh, karena melihat tingkah konyol nan polosnya itu.
Dinda mengambil shower dan menyalakannya untuk membasahi tubuh kekar Dean, kemudian dia memberanikan diri untuk menyampui kepala pria itu sehingga membuatnya bisa merasakan halusnya rambut pria yang kini tengah duduk manis itu.
Selesai menyampu kepala Dean iapun berinisiatif untuk menyabun seluruh anggota tubuh Dean tak kecuali dada bidang pria itu, yang sukses membuat jantung Dinda ingin melumpat keluar meninggalkan raganya saat itu juga.
Sementara Dean hanya diam terpaku melihat pemandangan dihadapannya saat ini, dimana baju Dinda yang sudah basah sehingga membuat Dean dengan jelas melihat lekuk tubuh wanita itu, termasuk bra warna merah darah yang melekat ditubuh wanita itu, sehingga membuat junior Dean yang tertidur menjadi bangun dibuatnya.
"Arrgghh" Teriak Dean dalam hati, diam prostasi melihat memandang yang sungguh menyiksanya itu.
"Kamu sukses membuat juniorku bangun?" ucap Dean sambil memperhatikan Dinda yang sedang mengeringkan rambut dan badannya menggunakan handuk dengan serius.
Dinda yang mendengar ucapan Dean hanya menatap Dean bingung.
"Emang juniormu, pernah bertemu denganku?" tanyanya heran sambil menyerahkan jubah mandi kearah Dean, dan Dean menerimanya dan mengelengkan kepalanya sambil tersenyum tipis, melihat kepolosan wanita itu saat ini.
Setelah Dean selesai memakai jubah mandinya, tak lupa Dinda membantu pria itu untuk beranjak kekamar, setelah selesai iapun beranjak kekamar mandi berniat untuk menganti bajunya yang kals itu basah kuyup.
Tapi Dinda melupakan satu hal, ia lupa menutup pintu kamar mandi, sehingga Dean bisa dengan jelas melihat apa yang sedang ia lakukan saat itu.
Dengan berjalan terpingkal pingkal Dean berjalan menghampiri Dinda yang saat itu masih asyik tampa sadar akan keberadaan Dean yang sudah begitu dekat dengannya.
Dan "Kyaaaa" Pekik Dinda kaget ketika tangan Dean yang dingin karena habis mandi sudah memeluk erat pinggang ramping, dan kini Dinda bisa merasakan nafas panas Dean yang menerpa tekuk lehernya.
Kini Dean tengah mengendong tubuh Dinda dan meletakannya ditempat tidur.
Dinda yang saat itu hanya mengenakan pakaian dalam, dan membuat siapa saja yang melihatnya akan tergoda tak terkecuali Dean yang saat ini memandangnya dengan penuh minat.
"Dean jangan?" ucap Dinda memohon sambil mendudukan tubuhnya, namun gagal karena Dean lebih dulu **** tubuh Dinda dengan tubuhnya.
Sesaat manik lejel Dinda tepaut dengan mata coklat Dean membuat keduanya saling diam terpaku, dan entah siapa kah yang terlebih dulu memulainya.
Kini bibir mareka saling terpaut, ciuman yang lembut hingga membuat keduanya terlena, akan ciuman itu yang yang manis bagaikan madu sehingga
tampa sadar Dinda melingkarkan tangannya dileher Dean, sehingga membuat Dean merasa mendapatkan lampu hijau.
Dan mulai menurunkan ciumannya, keleher jenjang Dinda membuat Dinda hanya meringis geli dengan suara tertahan.
Tidak sampai disitu kini Dean tengah bergulat dengan bra merah darah yang masih melekat menutupi payudara Dinda saat itu.
Berlahan ia melepasnya, setelah terlepas diapun melempas bra itu asal.
Kini Dean tengah terpana melihat pemandangan dihadapannya, dimana ia melihat kedua gundukan dengan pentilnya merah muda kecoklatan, membuat Dean tak sabar untuk mencicipnya.
Dinda yang sadar dengan keadaannya sekarang dengan cepat menutup dadanya, dengan menyilangkan kedua tangannya.
__ADS_1
"Jangan?" ucapnya malu.
"Tapi aku ingin, sekali ini saja?" pinta Dean dengan suara bergetar oleh gairahnya yang sudah lama tertahan.
Sambil membuka tangan Dinda, sehingga ia bisa dengan jelas melihat tubuh mulus Dinda yang tampa cacat sedikitpun, sehingga membuat Dean merasa menjadi pria sangat beruntung di seluruh dunia.
Di R****nya kasar gunung kembar itu, sehingga membuat Dinda mengerang kesakitan.
"Ah...Sa....kiitt...!" teriak Dinda tak mampu menahannya lagi.
Dini Dean tengah mecium Gundukan kiri Dinda dengan tangan memilin gundukan yang satunya lagi, membuat Dinda mengeliat geli dibuatnya.
"Tubuhmu sangat indah?" puji Dean sambil menatap liar manik lejel Dinda sambil menyisipkan tangannya dikedua paha mulus Dinda
Membuat wanita itu keringat dingin dibuatnya.
"Boleh kah?" tanya Dean lagi sambil menatap Dinda serius.
Sehingga membuat Dinda hanya mengangguk pelan dengan kedua pipinya yang merah seperti tomat.
Tapi belum sempat Dean membuka celana dalam Dinda suara bell aparetemen terlebih dulu menghentikan aktivitas panas mareka.
Membuat Dean hanya bisa berteriak prostasi dengan wajah kesal.
.
.
Bersambung.
.
.
.
Sebenarnya wajar bila Dean tetkesan plin plan ya guys,
karena Cesya adalah cinta pertama dan satu satunya wanita yang pernah mengisi hatinya.
Sedengkan Dinda hanya baru.
Malah terkesan aneh bila Dean yang cinta mati dengan Cesya dengan mudah melupakan atau berpaling bukan?
Karena selain orang yang dia cintai Cesya juga sahabat dean.
Sekian penjelasan author.
Makasih.
__ADS_1
Jangan lupa like❤ komen n bintang limanya
ok?😉