My sister - in- law my husband

My sister - in- law my husband
Tidak pulang


__ADS_3

Sudah hampir jam sembilan malam, namun Dean masih belum pulang, sehingga membuat hati Dinda menjadi tak tenang karena khawatir dengan suaminya itu.


"Sebenarnya dia kemana sech?" gumannya kesal sambil menggigit kukunya pelan.


Dinda memandang ponselnya yang ada diatas meja dengan wajah bimbang.


Terlihat ia sangat berpikir dengan keras kala itu.


Dan kemudian iapun meraih ponsel itu dengan cepat, kemudian menelepon nomor pria yang menyandang status suaminya itu.


Namun tidak ada jawaban, kemudian Dinda pun mengirim pesan chat, namun bisa Dinda lihat bila pesannya itu belum dibuka oleh suaminya itu.


Sehingga membuatnya mengeram kesal, dengan suaminya itu.


"Dasar bodoh! apakah dia gak tau kalau aku khawatir? awas aja kalau dia pulang nanti, akan buat perhitungan!" geramnya sambil melempar ponsel ke atas ranjang karena kesal.


Dinda pun mulai merebahkan tubuhnya, dan mencoba untuk memejamkan matanya, karena mengingat besok dia akan masuk kuliah.


💐💐💐💐💐


Sementara di tempat lain, Dean tengah menemani Cesya di Rumah sakit, saat Dean menerima telepon dari Cesya tadi pagi saat itu Cesya sedang bertengkar hebat dengan Noel, yang mengakibatkan Cesya terjatuh dari tangga rumahnya, sehingga membuatnya hampir kehilangan nyawa.


Untung saja Dean datang tepat waktu, sehingga bisa cepat membawanya pergi kerumah sakit.


Cesya dan Siska adalah anak yatim orang tuanya sudah lama meninggal dunia, dan Cesya yang harus menjadi tulang punggung keluarga, diusianya yang baru mengijak 20 tahun, dia harus merawat dan membesarkan Siska yang kala itu masih kecil.


Karena kepergian sang ayah, sedangkan ibu mareka Cesya tidak pernah tau, karena ibunya pergi dari rumah ketika Cesya baru menginjak umur 16 tahun.


Karena itulah Dean jatuh hati dan kagum kepadanya dulu, karena ia suka dengan sikap gigih Cesya menjalani hidup yang sangat kejam ini.


Dean memandang wajah Cesya yang penuh dengan memar dan lebam, sehingga entah mengapa membuat dadanya terasa sakit, kala melihat penderitaan wanita itu saat ini.


Saat Dean datang tadi, dia tidak bertemu dengan Noel, sehingga dia tak tau masalah apa yang sedang mareka ributkan.


Tapi tetap saja Dean tidak suka dengan cara Noel menyelesaikan masalah ini, bukankan tidak harus pakai tangan? mengapa tidak mencoba membicarakannya dengan kepala dingin, tidak harus dengan kekerasan bukan?.


"Brak."

__ADS_1


Lamunan Dean buyar kala mendengar suara pintu terbuka, iapun melihat kearah pintu, disana sudah berdiri Siska dengan matanya yang memerah dan sembab dengan penampilan berantakkan itu, terlihat Morem disampingnya saat itu. kemudian Siska berlari dan memeluk tubuh Cesya dengan tangisan histeris karena sedih, dia sudah tidak perduli dengan penampilannya yang kala itu sangat berantakan.


"Kak bangun? jangan tinggalin Siska kak?" ucap Siska lirih dengan Moren yang membelai punggungnya seakan memberi kekuatan untuk kekasihnya itu.


"Dia sudah tidak apa, dia hanya sedang terdidur karena obat penenang" guman Dean pelan tak tega melihat Siska yang terlihat sangat terpuruk.


"Pasti ini ulah Noel? awas aja dia, aku akan memberinya pelajaran!" kata Siska penuh Dendam sambil mengepalkan tangannya geram.


Moren yang mendengarnya hanya memandang Dean intens, seakan mencari jawaban.


Dean yang mengerti akan tatapan sahabatnya itu hanya mengakat bahunya.


"Terima kasih, karena loe udah nolongin kakak gue?" ucap Siska tulus, yang menerima agukan dari Dean kala itu.


💐💐💐💐💐


Dinda perbangun dari tidurnya, namun tidak mendapati Dean disampingnya kala itu.


"Apakah dia belum pulang?" pikirnya sambil beranjak dari tidurnya, berjalan kekamar mandi untuk membersihkan dirinya saat itu.


Ya Dinda takut bila suaminya itu mengalami suatu masalah yang tidak ia ketahui.


Namun ia memcoba untuk menepis semua pikiran pikirn negatifnya itu.


Saat Dinda sedang mengoleskan rotinya dengan selai coklat, tiba tiba bel apartemennya berbunyi.


Iapun dengan cepat berlari dengan tersenyum senang mengira bila yang datang adalah pria yang telah mengusik hati dan pikirannya saat itu.


Namun betap kecewanya Dinda kala membuka pintu, ternyata adalah mbak Sari.


Sehingga membuat senyum diwajahnya langsung sernah seketika kala itu.


Dinda pun berjalan mendehuluin mbak Sari yang masih kebinggungan dengan sikap majikannya itu.


Dinda meraih rotinya kemudian dia menggigit roti itu dengan kasar, seakan roti itu adalah Dean saat itu.


"Non?" non mau makan apa untuk siang?" tanya mbak Sari yang sudah menghampirinya kala itu.

__ADS_1


"Terserah Mbak aja, oh ya mbak Dinda berangkat kuliahnya jam 9 pagi, jadi kalau mbak mau masak, masak dari sekarang aja?" saran Dinda sambil menunjuk jam yang hampir jam 8 itu.


💐💐💐💐💐


Kala itu Dinda sudah di lobi apartemennya Dinda pun keluar dan melihat Wina melambaikan tangan untuknya kala itu.


Sehingga Dinda pun ikut membalas lambaian tesebut.


Dindapun membuka pintu mobil Wina dan memdudukkan diri disana, di ikuti oleh Wina juga.


"Oh iya, apa kabar toh dahi Win?" tanya Dinda yang melihat dahi sahabatnya itu masih dibungkus dengan kain kasa.


"Masih sakit, bahkan sakitnya sampai ke hati?" jawab Wina asal sambil menjalankan mobilnya meninggalkan apartemen Dinda kala itu.


"Cie cie cie, jawaban apaan tuch?" tanya Dinda lagi


"Ya kamu, sudah tau masih diperban, masih nanya?" jawab Wina lagi sambil tersenyum.


"Ihh...kirain Chalvin bukan hanya menabrak jidat kamu, tapi juga menabrak hati mu?" goda Dinda lagi sambil tersenyum senang melihat Wina yang memelototkan matanya kala itu.


"Bercanda atu neng?" ucap Dinda lagi sambil mengacungkan dua jarinya membentuk huruf v itu.


Bersambung


.


.


.


.


Hay guys?


Jangan lupa Like ❤ n komentarnya.


Ok?😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2