My Sugar Daddy ( Nania)

My Sugar Daddy ( Nania)
10. Rasa Penasaran


__ADS_3

📢📢📢 BOM KOMENTARNYA BESTIE 💜


***


Sepulang dari kampus, Nania dan Susan sepakat untuk menjenguk Tasya di rumahnya. Nania dan Susan merasa seperti kehilangan tulang rusuk karena personil mereka kurang satu orang. Dan di sinilah mereka sekarang, berbaring di atas ranjang besar milik Tasya dan membiarkan pemiliknya duduk sendirian di sofa. 


"Nania, Susan. Sebenarnya kalian datang kemari karena ingin menjengukku atau ingin menumpang tidur sih. Heran. Di sini kan aku yang sakit, tapi kenapa malah kalian yang enak-enakan tidur di sana. Ayo cepat minggir, aku ingin istirahat!" tegur Tasya tak habis pikir dengan kelakuan kedua sahabatnya. Menyesal dia karena sudah membukakan pintu untuk mereka. Huh. 


Di tegur seperti itu oleh si pemilik kamar tak membuat Nania dan Susan beranjak pergi dari sana. Mereka hanya menatap Tasya sekilas, lalu setelahnya kembali berbaring dengan posisi yang mereka sukai. 


"Ck, sia-sia Tuhan memberikan telinga untuk kalian," gerutu Tasya jengkel. 


"Sudahlah Tasya, jangan menggerutu terus. Nanti kau tidak sembuh-sembuh," ucap Susan saat mendengar gerutuan Tasya. 


"Bagaimana mau sembuh kalau kalian saja tidak membiarkan aku istirahat dengan baik. Harusnya kalian itu sekarang memijit kakiku, bukan malah tidur-tiduran seperti itu. Bagaimana sih!"


"Haissss, pelit sekali kau ini. Biasanya saat aku sakit kau juga akan melakukan hal yang sama seperti yang sedang aku dan Nania lakukan. Benar tidak, Nania?" tanya Susan sambil mencolek pinggang Nania yang sedang asik bermain dengan ponselnya. 


"Aku sekarang sudah menemukan calon sugar daddy-ku. Dia adalah seorang bos dengan paras tampan yang menggoda," jawab Nania lain dari yang di tanyakan oleh Susan. 


Begitu mendengar ucapan Nania, Susan dan Tasya langsung menghambur duduk di sebelahnya. Mereka menatap penuh penasaran pada Nania, menunggu kapan gadis cantik ini akan memberitahu mereka siapa sugar daddy tersebut. 


"Hehehe, kalian pasti sedang menungguku untuk menunjukkan foto sugar daddy-ku 'kan?" tanya Nania penuh nada mengejek. 

__ADS_1


"Yaiyalah, apalagi memangnya," sahut Susan sewot. "Ayo cepat tunjukkan fotonya pada kami berdua. Aku sudah sangat penasaran pria malang mana yang sudah kau pilih untuk menjadi sugar daddy-mu!"


Dengan cepat Nania menjitak kepala Susan saat Susan menyebut seperti itu tentang Jovan. Upsss, lupa. Susan dan Tasya kan belum tahu kalau sugar daddy yang dia maksud adalah pria tampan yang beberapa hari ini rutin mengganggunya. Haihh. Membayangkan reaksi terkejut dari kedua sahabatnya membuat Nania tak tahan untuk tidak tersenyum lebar. Susan dan Tasya pasti akan sangat syok saat tahu kalau orang yang dia maksud ternyata adalah Jovan. 


"Hei, Nania. Kau tidak gila kan? Senyummu kenapa aneh sekali. Membuat orang takut saja," tanya Tasya memastikan. Jujur, bulu kuduknya meremang melihat cara Nania tersenyum. Sahabatnya ini terlihat seperti joker yang siap untuk menghabisi lawan-lawannya. Sangat mengerikan. 


"Ck, apalah kau ini, Tasya. Hidupku terlalu sempurna untuk menjadi orang gila. Paham kau?" kesal Nania. 


"Ya maaf sih. Siapa suruh kau tersenyum seperti itu. Aku kan jadi takut," sahut Tasya sambil menggaruk keningnya. 


Nania melengos. Setelah itu dia membuka ponselnya kemudian mencari nomor milik Jovan. Dia bermaksud memberitahu kedua sahabatnya kalau sugar daddy itu adalah Jovan, si pria tampan yang sedang di gilai oleh mereka berdua. 


"Susan, Tasya. Kalian sangat ingin sekali bukan melihat wajah sugar daddy-ku?" tanya Nania sambil menggoyang-goyangkan ponselnya. 


"Kan memang itu yang dari tadi kami tunggu, Nania. Bagaimana sih," jawab Susan semakin sewot karena Nania terus saja mengulur waktu. 


"Halah, menangis apa. Paling-paling foto yang akan kau tunjukkan hanyalah foto seorang laki-laki dewasa yang mempunyai banyak uang. Benar tidak, Sya?" 


"Yap, benar sekali. Aku sependapat denganmu, Susan," sahut Tasya seraya mengangguk-anggukkan kepala. 


Namun, apa yang di pikirkan oleh Susan dan Tasya tidaklah sesuai dengan yang mereka harapkan. Alih-alih menunjukkan foto pria dewasa, Nania malah memperlihatkan sebuah foto pria tampan yang cukup familiar di mata mereka. Penasaran, Susan dengan cepat merebut ponsel Nania kemudian membesarkan foto yang ada di sana. Dan sedetik setelahnya Susan dan Tasya langsung memekik dengan sangat kencang begitu tahu siapa pria tampan tersebut. 


"Jovan? Kau yang benar saja, Nania. Tidak mungkin dia 'kan?" teriak Susan sambil memelototkan mata pada Nania. Dia tidak percaya, bagaimana mungkin pria incarannya di jadikan sebagai sugar daddy oleh sahabatnya sendiri. Matanya pasti sudah salah mengenali orang. 

__ADS_1


"Kecilkan matamu atau aku akan meninju bola matamu supaya masuk ke dalam. Mau?" ancam Nania. 


Susan langsung mengerjapkan mata. Dia tak berani lagi memelototi Nania, takut di hajar olehnya. Sedangkan Tasya, dia terus menatap Nania dengan pandangan aneh. 


"Apa, hem? Tidak terima karena Jovan akan menjadi milikku, iya?" tanya Nania sambil mencolek pipi Tasya. 


"Nania, apa kau yakin memilih Jovan?" tanya Tasya memastikan. 


"Tentu saja aku sangat yakin. Kenapa memangnya," jawab Nania. 


"Bukankah kau sangat membencinya ya? Lalu bagaimana bisa hanya dalam satu malam kau langsung menargetkannya sebagai sugar daddy-mu? Kau tidak salah memakan obat 'kan?"


Nania menghela nafas. Dia kemudian duduk lalu meminta Susan dan Tasya mendekat. Setelah itu Nania menceritakan tentang siapa Jovan pada mereka. Tentang Nania yang memang telah lama menandai Jovan sebagai suami masa depannya, tentang dia dan Jovan yang sekolah di tempat yang sama, juga tentang Nania yang pernah menghajar Jovan gara-gara dia menelan banyak obat setelah mengetahui kalau orangtuanya ingin bercerai. Semua itu Nania ceritakan dengan begitu menggebu-gebu, yang mana membuat kedua sahabatnya sampai tercengang begitu mendengarnya. 


"Ohh, jadi seperti itu ceritanya. Pantas saja saat pertama kali kita bertemu Jovan dia berlagak sok akrab denganmu. Ternyata karena kalian sudah saling kenal sejak lama ya," ucap Susan setelah mendengar penuturan Nania. Sekarang dia sudah paham. 


"Iya. Tapi jujur, awalnya aku sama sekali tidak tahu kalau pria itu adalah Jovan. Wajah dan bentuk tubuhnya banyak mengalami perubahan setelah kami tidak bertemu selama bertahun-tahun. Makanya saat dia bersikap sok akrab padaku aku merasa risih. Mana aku tahu kalau dia adalah sugar daddy yang telah ku tandai. Iya 'kan?" sahut Nania. 


"Masuk akal juga sih alasanmu," ucap Tasya. "Tapi ngomong-ngomong, Nania. Darimana kau tahu kalau Jovan adalah seorang sugar daddy? Bukankah dia baru saja menyelesaikan kuliahnya ya?"


"Memang benar kalau Jovan itu baru saja kembali setelah menyelesaikan kuliahnya di luar negeri. Akan tetapi dulu sebelum Jovan pergi ke London, dia pernah bilang pada Ayahku kalau dia akan meneruskan perusahaan milik Ayahnya setelah study-nya selesai. Asal kalian tahu ya. Dulu itu aku sangat membencinya karena dia selalu menempel seperti ulat bulu di mana-mana. Dan setelah aku tahu kalau dia adalah calon bos besar di masa depan, aku mulai menerimanya dan sikapku berubah menjadi sangat baik pada Jovan. Ya mau bagaimana lagi. Aku mana mungkin rela melepaskan tambang uangku begitu saja. Tapi karena dulu usiaku masih sangat muda, aku jadi tidak terlalu mendalami peranku. Lagipula tak lama setelah aku menandai Jovan, dia pergi menempuh pendidikan ke luar negeri. Jadi ya sudah, rasaku hilang begitu saja!" jawab Nania dengan sangat jujur. 


Susan dan Tasya tercengang heran mendengar kejujuran Nania. Tidak di sangka-sangka ternyata sedari umur belasan bibit gadis matre telah tertanam jelas di diri sahabat mereka ini. Pantas saja Nania selalu menegaskan kalau dia hanya akan menerima pria tampan dan kaya raya setiap kali ada laki-laki yang mengungkapkan rasa kepadanya. Ternyata karena sudah ada bibitnya. 

__ADS_1


Beruntung kau itu sangat cantik dan juga pintar, Nania. Karena jika tidak, kau pasti akan menjadi bahan olok-olokan para mahasiswa kampus karena levelmu yang terlalu tinggi dalam memilih kekasih. Hmmm, kenapa aku bisa berteman dengan gadis sematrealistis dirimu ya, Nania? Heran, ujar Tasya dalam hati. 


*****


__ADS_2