My Sugar Daddy ( Nania)

My Sugar Daddy ( Nania)
94. Perbincangan Dua Keluarga


__ADS_3

Di dalam rumah sakit, terlihat dua keluarga asik berbincang di depan sebuah kamar rawat inap. Sangat akrab, hingga sempat menarik perhatian dari beberapa dokter dan juga pengunjung yang mengenal siapa mereka. Namun yang sebenarnya mencolok di sana bukanlah kearaban dua keluarga tersebut. Melainkan satu sosok pria yang adalah salah satu keponakan dari keluarga paling berpengaruh di negara mereka. Fedo Eiji, pria keturunan Jepang yang terus saja menempel pada sang istri. Bucin sekali bukan? Hohoho, tentu saja tidak. Sikap Fedo sudah tidak masuk dalam kategori bucin lagi, tapi sudah berada dalam tingkat sakit jiwa. Meskipun tahu kalau Luri sedang membicarakan hal serius dengan dokter perihal keadaan Susan dan Tasya yang masih belum sadar, hal itu tak membuat Fedo melepaskan dekapan posesifnya dari pinggang ramping sang istri. Fedo memiliki anggapan kalau dokter-dokter ini ingin mencuri Luri, jadi dia memutuskan untuk menjaganya sebaik mungkin. Dia suami idaman, bukan?


“Em maaf, Tuan Luyan dan Nyonya Nita. Maaf sekali jika pertanyaan saya nanti membuat kalian tersinggung. Tapi saya sungguh merasa heran mengapa anak dan menantu anda bersikap seperti itu di hadapan banyak orang. Apa mereka sedang bermasalah?” tanya Ardan hati-hati. Prilaku kakak iparnya Nania membuat Ardan heran setengah mati. Jadi dia memutuskan untuk bertanya saja pada calon besan.


Di tanya seperti itu oleh ayahnya Jovan membuat Luyan dan Nita menghela nafas panjang. Mereka kemudian menatap lekat ke arah Fedo yang terus menempel seperti parasit di tubuh Luri. Wajar saja sih kalau ayahnya Jovan merasa heran. Karena sampai sekarang saja terkadang mereka masih terheran-heran akan kegilaan Fedo dalam mencintai putri mereka. Pria Jepang itu seperti hilang kewarasan setiap kali Luri berbicara dengan lawan jenis.


“Tuan Ardan, maaf ya jika sikap anak dan menantu saya mengusik kenyamanan anda. Entah ini pantas atau tidak untuk di bicarakan. Akan tetapi Fedo memang akan selalu berperilaku seperti itu jika melihat putri kami berbicara dengan pria lain. Siapapun tanpa terkecuali. Semacam penyakit cemburu akut begitu,” ucap Nita menjelaskan dengan sesopan mungkin. Dia kembali menghela nafas sebelum kembali melanjutkan perkataan. “Dan itu tidak hanya berlaku pada rumah tangga putri kedua kami saja. Gleen dan Lusi, keposesifan menantu pertama kami hampir sama buruknya seperti yang sedang anda lihat sekarang. Juga tidak menutup kemungkinan kalau Jovan akan menyusul kegilaan kedua kakak ipar Nania jika seandainya nanti benar-benar serius dengan hubungan mereka!”


Mulut Ardan, Silvi, dan Rhea langsung ternganga lebar begitu mendengar penuturan ibunya Nania. Segila itu? Astaga. Dan yang lebih buruknya Jovan akan menjadi salah satu dari mereka. Ya ampun.


“Tuan Ardan, Nyonya Silvi, tolong jangan terkejut. Kami sebagai orangtua sudah sering mengingatkan mereka agar menjaga sikap ketika berada di tempat umum, tapi kedua menantu kami sangatlah bebal. Larangan yang kami ucapkan malah di anggap sebagai perintah. Mohon kalian bisa maklum!” tambah Luyan merasa tak enak hati melihat reaksi keluarga Jovan. Malu, tapi Gleen dan Fedo adalah menantu kesayangan. Jadi ya sudah rasa malunya di tanggung bersama saja.


“O-oh, j-jangan bicara seperti itu, Tuan Luyan. Kami maklum, toh itu wajar dilakukan karena mereka sudah menikah. Kami hanya kaget saja melihat keposesifan Fedo yang sama sekali tidak mau melepaskan pelukannya dari tubuh putri anda. Begitu,” sahut Ardan dengan cepat menjelaskan.


“Itu benar Tuan Luyan, Nyonya Nita. Tolong jangan mengira kalau kami berpikiran yang macam-macam tentang sikap menantu kalian ya?” imbuh Silvi merasa tak enak hati sendiri.


“Paman Luyan, Bibi Nita. Kak Luri dan Kak Lusi terlihat begitu anggun dan lembut dalam menyikapi sikap suami mereka yang sangat posesif, tapi kenapa sikap Nania berbeda ya? Saat sedang bersama Kak Jovan, Nania terlihat seperti kucing belang liar yang sangat agresif. Apa mungkin Nania bukan saudara sekandung dengan Kak Luri d an Kak Lusi?” tanya Rhea antara sadar dan tidak sadar. Jujur, begitu dia bertemu dengan orangtua dan kakak Nania, Rhea langsung merasa aneh melihat sikap ketiganya. Kedua kakak Nania terlihat sangat anggun dan elegan, sedangkan Nania sendiri? Astaga, perbedaan

__ADS_1


sikap mereka tterlalu jauh.


“Rhea, bicara apa kau!” tegur Ardan terkejut mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh putrinya barusan. Kalau orangtua Nania sampai tersinggung maka habislah mereka semua.


Nita terkekeh melihat Rhea yang meringis menahan sakit saat telinganya dijewer oleh ayahnya. Entah sudah berapa banyak orang yang mempertanyakan keaslian dari hubungan darah antara Nania dengan kedua kakaknya. Jadi Nita dan Luyan sudah tidak heran lagi jika Rhea sampai bertanya seperti itu karena terkadang mereka juga memiliki pemikiran yang sama dengannya juga. 😄


“Tidak apa-apa, Tuan Ardan. Lagipula Rhea juga bukan orang pertama yang bertanya seperti itu kepada kami. Jadi anda tidak perlu merasa tak nyaman hati,”


“Maafkan sikap putri saya, Nyonya Nita,” sahut Silvi pasrah. Mulutnya Rhea memang kadang-kadang ya. Membuat orangtua malu saja. Hmmm.


Luyan tersenyum. Dia jadi membayangkan akan seperti apa frustasinya kedua orangtua Jovan nanti jika harus memiliki menantu seperti putri bungsunya. Di jamin mereka pasti akan terus mengelus dada setiap hari.


“Oh, kalau masalah itu aku juga tahu, Bi. Dan berkat Nania sekarang hidupku jadi terasa semakin berwarna. Aku tidak lagi merasa kesepian seperti dulu!” sahut Rhea sambil tersenyum lebar. “Usia Nania memang lebih muda dariku, tapi perbedaan usia itu tak menutup fakta kalau aku masih belum ada apa-apanya jika di bandingkan dengannya. Adalah suatu keberuntungan besar untukku bisa memiliki calon kakak ipar secantik, seseksi, sehangat dan sebaik Nania. Perbedaan yang ada di diri Nania membawa keajaiban di hidupku Paman, Bibi!”


Bersamaan dengan Rhea menyelesaikan perkataannya, Nania muncul dengan menggaet mesra lengan Jovan. Dan dia langsung memutar bola matanya jengah saat mendapati kelakuan pria Jepang yang tengah menatap seorang dokter dengan tatapan seperti seorang psikopat.


“Selamat pagi Paman, Bibi,” sapa Jovan. Tak lupa juga dia menyapa kedua kakak Nania yang masing-masing sedang berada di pelukan suami mereka.

__ADS_1


“Selamat pagi juga, Jovan,” sahut Luyan sambil tersenyum. “Bagaimana kabarmu?”


“Kabarku sangat baik, Paman. Terima kasih,”


Rhea langsung mengedipkan mata pada Nania yang baru saja membuat kecupan jarak jauh sebagai salam sapaan. Dan perbuatan mereka membuat para orangtua menggelengkan kepala.


“Halo calon mertua. Selamat pagi,” sapa Nania kemudian melepaskan gaetan tangannya dari lengan Jovan. Setelah itu dia bergantian memeluk calon mertuanya. “Maaf ya membuat kalian menunggu lama. Tadi aku menemui Jovan di mobil karena ada hal penting yang ingin kubahas dengannya. Harap maklum ya?”


“Iya sayang tidak apa-apa. Kami sangat mengerti kalau kalian sedang ingin melepas rindu,” ejek Silvi sambil terkekeh lucu mendengar cerita Nania. Terlalu blak-blakan, tapi tak membuatnya merasa kesal. Malahan lucu dan menggemaskan.


“Nania, memangnya hal penting apa yang kau bahas dengan Kak Jovan?” tanya Rhea penasaran. “Aku boleh tahu tidak?”


“Tentu saja sangat boleh, Rhe. Tadi itu aku menemui kakakmu karena ingin memintanya untuk membelikanku sepasang bikini keluaran terbaru,” jawab Nania dengan gamblang memberitahu semua orang tentang apa yang baru saja di belinya. “Kau tahu tidak, Rhe. Bikini itu benar-benar sangat keren. Saat aku memakainya nanti, aku berani jamin semua orang pasti akan langsung terpaku melihat keseksianku. Sungguh!”


“Aku mau juga, Nania. Cepat beritahu aku apa nama merknya. Yang kau miliki aku harus memilikinya juga. Kita inikan teman. Iya, kan?”


Jovan hanya bisa menggaruk kepala melihat bagaimana kedua orangtuanya dan orangtua Nania mengelus dada. Dia kemudian melirik ke arah Kak Gleen dan Kak Fedo yang ternyata mereka sedang terbengang dengan mulut ternganga. Sementara Luri dan Kak Lusi, kedua wanita itu tampak menghela nafas panjang sambil mengelus dada mendengar Nania dan Rhea yang dengan santainya membahas tentang bikini seksi di hadapan banyak orang.

__ADS_1


Nania, Rhea. Dulu kalian suka sekali membuat orang sakit kepala, kenapa sekarang kalian jadi kompak membuat orang mengelus dada? Tapi jujur, kalian lucu saat akrab begini. Aku bahagia sekali melihatnya ….


***


__ADS_2