My Sugar Daddy ( Nania)

My Sugar Daddy ( Nania)
90. Jebakan Betmen


__ADS_3

📢📢📢 BOM KOMENTARNYA BESTI BIAR NANTI SORE EMAK CRAZY-UP UNTUK MENEMANI MALAM MINGGU KALIAN. OKAY? 💜


***


Mata Nania terlihat sembab dan penampilannya sangat berantakan saat keluarganya datang ke rumah sakit. Dia yang kala itu berada di pelukannya Jovan langsung menghambur memeluk kakak keduanya begitu melihat mereka datang.


“Hiksss, Kak Luri. Susan dan Tasya kecelakaan gara-gara mereka mabuk. Aku takut sekali mereka kenapa-napa,” ucap Nania mengadu sambil terisak sedih. Masih terbayang jelas di matanya betapa mengerikan luka yang ada di wajah kedua sahabatnya itu.


“Syuutt, sudah jangan menangis. Kita doakan saja supaya Susan dan Tasya baik-baik saja. Oke?” sahut Luri sambil terus mengusap-usap punggung Nania. Dia lalu menatap Jovan yang tengah duduk bersama suami dan kakak iparnya. “Jovan, sebenarnya apa yang terjadi? Dan kenapa juga kau bisa ada bersama mereka? Bukankah tadi Nania pamit pergi hanya bersama Susan dan Tasya saja ya?”


Jovan menarik nafas. Dia menatap tak tega pada Nania yang sedang menangis di pelukan Luri. Sakit, rasanya benar-benar sakit melihat gadis yang kita suka menangis hingga seperti ini. Hal tersebut sungguh membuat perasaan menjadi kesal dan juga kasihan. Campur-aduk.


“Aku memilih untuk pergi menyusul mereka di club, Luri. Aku takut ada pria lain yang menggoda Nania. Jadi aku putuskan untuk ikut bergabung saja dengan mereka!” jawab Jovan memberitahu Luri mengapa dia bisa ada bersama Nania.


Gleen dan Fedo kompak menyeringai. Ternyata virus pesona si gadis desa benar-benar sudah merayap dan menggerogoti hatinya Jovan. Terbukti karena bos muda ini tidak bisa tenang berada di rumah saat tahu kalau kekasihnya pergi bersenang-senang dengan teman-temannya. Meski dulu Lusi dan Luri hampir tidak pernah menginjakkan kaki mereka di club malam, tapi Gleen dan Fedo pernah berada di posisi yang sama seperti yang sedang di alami oleh Jovan sekarang. Takut, hingga membuat mereka melakukan hal gila. Mau bagaimana lagi. Pesona yang dimiliki oleh ketiga gadis ini terkadang mampu membuat orang lain bertindak di luar nalar. Jadi ya sudah, menggilalah mereka pada akhirnya. Haha.


“Hmmmm, inilah yang selalu Kakak khawatirkan, Nania. Tidak ada salahnya mengikuti perkembangan zaman, tapi juga tidak bisa di benarkan sepenuhnya untuk kalian menghabiskan waktu di tempat-tempat seperti itu. Kalau sudah begini siapa yang mau di salahkan, hem?” tegur Luri dengan halus.


“Tapi Kak, sebelumnya kami tidak pernah mengalami masalah seperti ini. Lagipula aku pergi ke club hanya untuk menari saja, bukan untuk hal yang macam-macam. Kalau Kakak tidak percaya, silahkan Kakak bertanya pada pemilik club itu. Sekalipun aku tidak pernah menyentuh minuman yang mereka jual. Kedatanganku murni hanya untuk menari bersama pengunjung lain. Sungguh!” sahut Nania melakukan pembelaan.


“Yakin hanya untuk menari saja?” olok Gleen sambil menahan tawa.


“Bukannya kau itu mengikuti ajaran nenek sihir yang menyebut kalau mendapat perhatian dari pria tampan bisa membuatmu bisa tetap awet muda ya?” timpal Fedo ikut melayangkan olokan. Kapan lagi coba bisa mempermainkan gadis beracun ini. Benar tidak?


Nania langsung berdecak kesal saat dia menjadi bahan olok-olokan kedua kakak iparnya. Tak terima, Nania segera memberikan kode pada Jovan agar membelanya. Dan untungnya kode tersebut langsung di pahami oleh Jovan. Segera Jovan pasang badan untuk melindungi Nania-nya yang merasa terlukai.


“Kak Gleen, Kak Fedo. Nania sedang bersedih, tolong jangan mengganggunya dulu. Sampai sekarang dokter masih belum mengabarkan tentang keadaan Susan dan Tasya. Jadi aku minta kalian jangan menambah kesedihannya. Bisa ‘kan?” ucap Jovan dengan penuh percaya diri. Jangankan hanya kakak ipar Nania, melawan duniapun pasti akan Jovan lakukan demi cintanya. Sungguh.

__ADS_1


“Lalu apa yang akan kau lakukan kalau kami ingin tetap mengolok-olok Nania, Jo? Apa kau akan bertengkar dengan kami?” tanya Fedo tak tahan untuk tidak lanjut mengerjai pasangan bucin ini.


“Tentu saja. Aku sangat mencintai Nania, jadi aku akan melakukan apapun untuk membelanya. Termasuk bertengkar dengan kalian sekalipun!” jawab Jovan lantang.


“Pfftttttt, hahahhhaha!”


Luri langsung berdehem saat tawa Fedo pecah setelah mendengar jawaban Jovan.


“Kau jangan begitu, Kak Fedo. Lupa ya kalau dulu kau juga bersikap sama seperti Jovan?” tegur Luri sambil menarik nafas panjang.


Kini giliran Jovan dan Nania yang kompak menyeringai senang. Mereka puas sekali melihat ekpresi di wajah Kak Fedo yang langsung kicep begitu di balas ejekan oleh istrinya sendiri. Rasanya mereka seperti menemukan kotak harta karun berisi intan berlian dalam jumlah yang sangat banyak.


“Fed, makanya kalau mau bicara itu di pikir-pikir dulu. Sudah tahu kalau kita sama gilanya seperti Jovan, masih berani kau berlagak di hadapannya. Kena batunya kan kau sekarang!” ejek Gleen sambil menepuk kuat pundaknya Fedo. Dia ikut merasa puas melihat bagaimana Luri membungkam mulut mantan Casanova ini.


“Diam kau, Gleen,” sungut Fedo. Dia lalu mengerucutkan bibir sambil menatap tak berdaya ke arah Luri yang masih memeluk Nania. “Sayang, aku gila begitukan karena kau juga. Tega sekali kau mengejekku.”


“Siapa yang mengejekmu, Kak. Aku justru sangat senang karena di cintai dengan begitu gila oleh pria setampan dirimu. Jadi jangan berkecil hati ya?” sahut Luri sambil tersenyum menampilkan kedua lesung pipinya.


“Hoeeekkkk!”


Nania pura-pura muntah begitu dia melihat Kak Fedo yang tersipu gara-gara mendengar perkataan kakaknya. Sungguh, sejak dulu kelakuan Casanova ini sama sekali tidak berubah. Selalu membucin tanpa mengenal tempat.


Ceklek


Perhatian semua orang langsung teralih ke pintu ruangan yang baru saja terbuka. Nania yang melihat hal itupun segera datang menghampiri dokter guna menanyakan keadaan Susan dan Tasya. Dengan mimik yang begitu cemas Naniapun bertanya.


“Dokter, bagaimana keadaan kedua sahabat saya? Mereka baik-baik saja ‘kan?”

__ADS_1


“Untuk saat ini keadaan kedua korban bisa di katakan baik-baik saja, Nona. Akan tetapi nanti kami akan tetap melakukan pemeriksaan lanjutan setelah mereka sadar,” jawab dokter.


“Kepala mereka berdarah banyak sekali. Mereka tidak gegar otak ‘kan?” cecar Nania masih kurang puas akan jawaban singkat dokter. Jelas-jelas Nania menyaksikan sendiri betapa mengerikannya luka di kepala dan wajah Susan dan Tasya, masa iya dokter hanya bicara begitu saja tentang keadaan mereka. Kan aneh.


“Nona, kondisi kedua korban saat ini sedang tidak sadarkan diri. Jadi kami belum bisa memastikan apakah mereka mengalami gegar otak atau tidak. Nanti tunggu mereka sadar dulu baru kami bisa memberikan kesimpulannya!”


“Tapi dok, mereka ….


“Nania, sudah!” ucap Luri meminta agar Nania tak lagi mencecar dokter. Dia lalu meminta maaf. “Dokter, tolong maafkan sikap adik saya. Dia begini karena terlalu mengkhawatirkan keadaan teman-temannya. Sekali lagi saya minta maaf, dok.”


“Tidak apa-apa, Nona. Saya sangat paham akan hal ini.”


Bukannya menyimak pembicaraan, fokus Gleen dan Jovan malah tertuju pada Fedo yang tak henti mendengus seperti kerbau melihat Luri yang sedang mengobrol dengan dokter. Ingin mengoloknya, tapi merekapun sama. Alhasil Gleen dan Jovan hanya diam memperhatikannya saja.


“Kalau begitu saya permisi dulu, Nona, Tuan. Selamat malam,” pamit dokter dengan sopan.


“Selamat malam kembali, dokter,” sahut Luri dan Nania kompak.


“Cihhhh, bilang saja kalau kau sebenarnya hanya ingin berlama-lama mengobrol dengan istriku. Dasar dokter gatal. Awas saja kau!” geram Fedo sambil menatap garang ke arah dokter yang baru saja pergi dari hadapannya.


“Hemmm, cemburu teroosss!” olok Nania.


Fedo cemberut. Dia lalu menatap Jovan. “Jo, perawat itu seksi sekali. Coba lihat!”


“Kak Fedo. Kau tidak akan bisa semudah itu membohongiku karena di mataku tidak ada wanita yang jauh lebih cantik dan seksi selain Nania. Jadi maaf, jebakan betmenmu tidak bekerja untukku!” sahut Jovan dengan coolnya menegaskan kalau dia tidak akan pernah tertarik pada wanita manapun selain Nania-nya.


“Cihhhhh!”

__ADS_1


Luri hanya tersenyum saja melihat bagaimana Jovan begitu mencintai adiknya. Tak lama setelah itu orangtua Susan dan Tasya tiba di rumah sakit. Segera Luri dan Nania menenangkan mereka dengan memberitahukan kalau keadaan Susan dan Tasya baik-baik saja.


***


__ADS_2