My Sugar Daddy ( Nania)

My Sugar Daddy ( Nania)
107. Kejutan Penuh Derita


__ADS_3

"Jo, kapan kau akan tidur?" tanya Nania sambil menatap layar ponsel yang menghadap ke wajahnya. Dia kini tengah berbaring menyamping, menjadikan bantal sebagai sandaran ponsel.


"Akukan sudah bilang ingin menjagamu sampai pagi. Kenapa kau sibuk bertanya kapan aku akan tidur. Kenapa, hem? Apa kau sudah bosan melihat wajah sugar daddymu yang tampan ini?" sahut Jovan dari dalam telepon. Tak lupa dia bicara sambil mengedipkan mata, menggoda kekasihnya yang masih belum mau keluar dari rumah sakit.


Sebenarnya keadaan Nania itu sangatlah baik-baik saja. Akan tetapi dia menjadikan kondisi Susan dan Tasya sebagai alasan agar tidak di paksa keluar dan pergi ke kampus. Nania merasa bosan, tidak seru jika tidak ada kedua sahabatnya. Dan pada akhirnya keluarga Nania hanya bisa pasrah membiarkan gadis keras kepala itu tetap berada di rumah sakit sesuka hati. Membuat darah tinggi jika tetap dipaksa, begitu bunyi omelan Luyan saat kehabisan akal untuk membujuk putrinya yang bebal. Dan Nania tentu saja menyambut keputus-asaan keluarganya dengan penuh suka cita. Hehe. Biasalah.


"Kalau aku sudah bosan, aku mana mungkin mau mempertahankan hubungan kita, Jo. Bagaimana sih!" Nania sedikit sewot. Dia lalu memalingkan muka karena tak tahan melihat kilau sesuatu yang di tunjukkan oleh Jovan. "Ekhmmm, jangan coba-coba merayuku ya. Aku sedang tidak mood berurusan dengan berlian!"


"Yakin tidak mau? Tahu tidak, sebenarnya gelang ini sudah kupesan sejak lama bahkan sebelum aku berangkat kuliah ke London. Rencananya waktu itu ingin aku berikan sebagai hadiah perpisahan. Akan tetapi karena kau masih bau kencur dan tidak peka pada perasaanku, jadi gelangnya aku simpan saja sampai sekarang," ucap Jovan membujuk Nania dengan rayuan maut. "Sayang, yakin masih mau menolak? Atau aku berikan saja pada Susan. Dia pasti senang sekali menerima pemberian barang mahal dari sugar daddy tampan seperti aku. Boleh?"


"Ya kalau kau sudah siap untuk putus denganku maka silahkan saja berikan gelang itu pada Susan. Aku tidak keberatan kok!" sahut Nania masih sok jual mahal. Padahal dia sudah menelan air liur dari tadi. "Dan juga kalau kau berniat memberikannya padaku, harusnya kau itu datang kemari lalu memasangkannya langsung di tanganku. Bukan malah pamer dari jarak jauh!"


Klik. Nania langsung menatap layar ponselnya begitu tahu kalau Jovan tiba-tiba mematikan panggilan. Gila saja. Jangan bilang kekasihnya yang tampan itu merajuk gara-gara dia sok jual mahal dengan menolak gelang itu. Ya ampun.


"Kenapa kelakuan Jovan seperti wanita yang sedang pms ya? Masa hanya karena hal sepele begitu dia bisa langsung merajuk sih. Aneh," gumam Nania terheran-heran.


Tak mau ambil pusing, Nania memutuskan untuk mencari tahu tentang wanita misterus pemilik jaket branded. Karena kondisinya sehat-sehat saja, Nania dengan mudah bergulingan kesana kemari tanpa takut merasa sakit. Hingga tak berapa lama kemudian Nania di kejutkan oleh suara ketukan pintu di mana suara ketukan tersebut di iringi dengan suara bisikan yang memanggil namanya.


"Nania," ....


"Yakkk, kau setan apa orang?" tanya Nania tak terlalu kuat. Setelah itu dia bangun sambil menatap serius ke arah pintu. "Kalau kau manusia, masuk sajalah kemari. Pintunya tidak di kunci. Akan tetapi kalau kau itu setan, lebih baik kau pergi saja. Aku sedang tidak mood meladenimu. Dan juga sekarang sudah malam. Pasien lain bisa terganggu istirahatnya kalau aku sampai keluar kemudian menghajarmu. Tahu?"


Hening. Suara bisikan dan ketukan itu langsung hilang setelah mendapat omelan dari Nania. Merasa kalau keadaan sudah aman kembali, gadis yang tengah duduk santai di atas ranjang rumah sakit itu kembali bergerilya mencari sesuatu lewat ponsel. Hingga tak lama setelahnya dia dibuat memekik kaget saat pintu kamar tiba-tiba terbuka dan ....


"Astaga. Yakkkk!"


"Syyuuuttt, ini aku sayang. Jovan."


Sambil menutup pintu secara perlahan, Jovan menyunggingkan senyum ke arah Nania yang tengah menatapnya tajam. Hehe, berhasil. Sebenarnya dari awal Jovan menelpon gadis ini, dia sudah ada di parkiran rumah sakit. Hanya saja Jovan berbohong dengan mengatakan sedang berada di kamarnya. Dia ingin memberikan kejutan untuk kekasihnya ini


"Surprise!" ucap Jovan setelah sampai di dekat ranjang. Dia sedikit membungkuk sebelum akhirnya mengecup kening Nania. "Hai, sayang. Bagaimana? Apa sekarang aku sudah boleh memakaikan gelang ini di tanganmu?"

__ADS_1


"Ck, Jovan. Bisa tidak kau jangan manis-manis seperti ini. Nanti aku bisa terkena penyakit diabetes tahu," sahut Nania seraya meng*lum senyum. Jujur, dia agak kaget melihat pria ini muncul di hadapannya. Dan tentu saja Nania merasa senang sekali. Yaiyalah. Secara, sugar daddynya datang tidak dengan tangan kosong. Melainkan ada gelang berlian indah yang siap bertengger di tangannya. Ah, sungguh senangnya hati ini.


"Hmmmm," Jovan menghela nafas panjang. Setelah itu dia duduk di samping Nania, menatap penuh cinta sebelum meraih tangan kirinya. "Dulu saat aku memesan gelang ini, aku menggunakan semua uang tabungan yang ku kumpulkan dengan susah payah. Harganya memang tidak terlalu mahal karena waktu itu aku belum sekaya sekarang. Tapi Nania, percayalah. Ada ketulusan dan juga kerja keras yang tersimpan di dalam gelang ini. Aku harap kau akan menyukainya!"


"Memangnya kapan aku pernah berkata tidak suka pada barang pemberianmu, Jo?" sahut Nania sambil menatap penuh binar pada gelang cantik berukir namanya yang baru saja terpasang di pergelangan tangan. "Cantik sekali. Sangat cocok untuk wanita berkelas tinggi sepertiku. Terima kasih banyak ya untuk hadiahnya, Jo. Aku suka sekali."


Sungguh, biarpun harga gelang ini tidak terlalu mahal, tapi Nania merasa kalau gelang inilah barang paling berharga yang dia dapat dari sugar daddy ini. Oke Nania memang terobsesi dengan barang dan perhiasan mahal, tapi bukan berarti dia lupa dengan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada itu. Ketulusan dan pengorbanan. Dan kedua hal tersebut berada di balik keindahan gelang ini. Untuk mengapresiasi ketulusan Jovan, Nania dengan cepat menyatukan bibir mereka. Sangat singkat, tapi mampu membuat wajah pria ini menjadi merah seperti buah tomat.


"Yang barusan ini apa, Nania?" tanya Jovan sambil mengusap bibir. Lava di dalam tubuh kembali meleleh, tidak menyangka kalau kejutan sederhana ini akan memberinya satu kecupan hangat yang cukup manis. Tahu begitu tadi Jovan belikan satu kotak perhiasan saja supaya bisa merasakan ciuman yang jauh lebih lama. Hehehe.


"Itu namanya kecup singkat, sayang. Kenapa? Suka? Mau di ulangi lagi?" Nania menjawab penuh nada menantang. Dan dia langsung mengerling nakal saat Jovan dengan cepat menganggukkan kepala. "Dasar kau ya. Bagaimana caramu bisa sampai di sini dalam waktu yang begitu singkat, Jo? Apa jangan-jangan kau sebenarnya sudah ada di rumah sakit sejak tadi? Iya?"


"Kekasihku sedang dirawat di rumah sakit. Jadi aku mana mungkin tega membiarkannya tidur sendirian di sini. Nanti kalau ada perawat yang menculiknya bagaimana?" jawab Jovan sambil mengusap pelan pipi Nania. Ah, betapa dia sangat tergila-gila pada gadis ini. Jovan tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada hidupnya jika Nania sampai pergi meninggalkannya. Mungkin dia akan memilih menjadi perjaka tua sampai mati.


"Konyol. Bilang saja kalau kau tidak bisa jauh dariku. Iya, kan?"


"Kau sudah tahu jawabannya, sayang. Jadi tolong biarkan pria kesepian ini bermalam di sini. Oke?" Jovan lalu mendekatkan wajah ke telinga Nania. "Bisakah kita berbagi ranjang? Hanya tidur, tidak macam-macam. I'm promise."


"Apa kau suka hadiah dariku?" tanya Jovan setelah memposisikan tangan sebagai bantalan kepala Nania. Dia lalu merengkuh tubuh seksi gadis ini ke dalam pelukan. Rindu.


"Suka," jawab Nania malu-malu. "Tapi aku lebih suka pada orang yang memberiku hadiah."


"Sungguh?"


Nania mengangguk. Dia lalu melesakkan wajah ke dada Jovan, merasai betapa tubuh pria ini sangat keras dan kekar.


"Apa kau sedang berada di sekitar rumah sakit saat menelpon tadi?"


"Ya. Aku sedang berada di parkiran. Kenapa memangnya?"


"Tapi kenapa tidak terlihat mencurigakan ya? Bahkan di dalam video call tadi aku jelas melihatmu menggunakan selimut. Apa jangan-jangan kau meletakkan kasur di dalam mobil?"

__ADS_1


Jovan terkekeh pelan mendengar pertanyaan Nania. Sambil mengusap-usap rambutnya, dia menjelaskan mengapa bisa ada selimut di dalam mobil.


"Aku sengaja membawa selimut agar kau tidak merasa curiga, sayang. Kau tahu sendiri kan kalau pikiranku tidak akan bisa jernih setiap kali memikirkan tentangmu. Jadi ya sudah. Agar momen kejutan ini bisa terasa lebih berkesan, aku atur saja sedemikian rupa. Dan untungnya tadi kau memintaku agar menyerahkan gelang ini secara langsung padamu. Kalau tidak, mungkin malam ini aku akan tidur di dalam mobil sampai pagi."


Jantung Nania berdebar. Entah, sulit untuk menggambarkan betapa dia merasa sangat beruntung telah di cintai sampai sebegini besar oleh Jovan. Untuk membalas kebaikan ini, Nania meraih satu tangan Jovan kemudian menengadah seraya menampilkan senyum mesum.


"K-kau kenapa tersenyum seperti itu, Nania?" Jovan bertanya sambil menelan ludah. Imannya sedang di uji. Dia harus kuat.


"Mau icip-icip tidak?" tanya Nania penuh goda.


Bola mata Jovan membelalak besar. Icip-icip, Ya Tuhan. Bahasa apalagi ini. Kenapa kata-kata tersebut mampu membangunkan singanya yang sedang berusaha terlelap? Benar-benar ujian.


"Ujungnya saja juga tidak apa-apa, Jo. Mumpung sepi," bisik Nania.


"Sayang, jangan macam-macam. Kak Gleen dan Kak Fedo bisa menghabisiku jika mereka tahu kita ... kita ....


"Kita apa, hem?"


"Nania, pleaseee. Kita tidur sekarang. Oke?"


"Yakin tidak mau? Kebetulan aku sedang tidak memakai bra. Mau pegang tidak?"


"Astaga, sayang. Tolong jangan uji imanku. Tidur ya?"


"Colek dikit bolehlah." Nania terus membujuk.


"Ya Tuhan. Ya Tuhan tolong aku,"....


Malam masih panjang, sepanjang penderitaan yang dirasakan oleh Jovan. Niat hati ingin memberi kejutan, kini dia malah dibuat sengsara karena ulah kekasihnya yang tak berhenti menggoda. Mungkin jika Jovan adalah pria hidung belang, sudah pasti kesempatan emas ini akan di sambutnya dengan penuh suka cita. Akan tetapi Jovan bukanlah pria seperti ini. Dia pria sejati, yang akan menjaga kehormatan wanitanya sampai mereka menikah. Ya meskipun perjuangannya tidak mudah. Hmmm.


***

__ADS_1


__ADS_2