
📢📢📢 BESTIE, JANGAN LUPA DUKUNGANNYA YA SUPAYA JOVAN DAN NANIA BISA MENANG DI LOMBA DI YOU ARE A WRITER SEASON 8. OKE 💜💜💜
***
Nania melambaikan tangan ke arah mobilnya Marcell saat bergerak meninggalkan parkiran restoran. Setelah itu Nania menoleh, tersenyum santai dikala mendapati Jovan yang tengah menatapnya tak berkedip.
“Why baby?” tanya Nania seraya mencolek dagunya Jovan. Dia kemudian tertawa kencang melihat Jovan yang tersipu malu. “Ohohoo, sugar daddyku manis sekali sih. Aku jadi semakin mencintainya.”
“Nania, kau ini selalu saja berhasil menjungkir-balikkan duniaku. Kalau begini caranya mustahil aku bisa pergi jauh darimu. Haihhh,” sahut Jovan mengeluhkan sikap Nania yang kelewat manis. Saking manisnya Jovan sampai lupa dengan rasa cemburunya ketika melihat Nania yang melambaikan tangan saat Marcell pergi. Pikiran Jovan sudah lebih dulu terhipnotis oleh bualan gadis seksi di sebelahnya ini.
“Kalau begitu tidak usah pergi kemana-manalah. Cukup cintai aku saja dan serahkan seluruh hartamu padaku. Aku jamin hidupmu akan sangat bahagia karena mempunyai kekasih secantik dan seseksi aku. Asal kau tahu saja ya, Jo. Sekalipun kau berkeliling ke seluruh penjuru dunia ini, aku berani jamin kau tidak akan pernah bisa menemukan gadis sesempurna aku. Karena apa? Karena Tuhan hanya menciptakan Nania sebagai satu-satunya makhluk paling seksi di muka bumi ini. Percayalah padaku!” ucap Nania dengan begitu percaya dirinya.
Ingin heran, tapi yang baru saja berkata sombong adalah Nania. Dan tentu saja pernyataan tersebut sangatlah benar di mata Jovan. Nania hanya ada satu, dan akan menjadi satu-satunya wanita yang dia cintai. Manis sekali bukan?
“Ayo kita pulang. Udara malam tidak bagus untuk kulitmu yang indah ini,” ucap Jovan mengajak Nania untuk pulang. Setelah itu Jovan melepaskan jas miliknya kemudian dia pakaikan pada Nania. “Aku bukan takut kau akan menggunakan uangku untuk melakukan perawatan, tapi aku takut keindahan tubuhmu menjadi berkurang jika terlalu lama terkena angin malam. Aku tidak suka itu, sayang. Kau paham ‘kan?”
“Haihhhh, ternyata enak juga ya di cintai oleh sugar daddy tampan sepertimu, Jo. Aku jadi merasa tidak sia-sia sudah menjaga hati dan tubuhku selama ini. Hehe,”
__ADS_1
Setelah berkata seperti itu Nania menggandeng tangan Jovan dan mengajaknya menuju mobil. Agak berbeda memang karena biasanya si prialah yang akan menarik wanitanya. Akan tetapi bagi Nania mau itu pria atau wanita yang melakukannya lebih dahulu, hal tersebut bukanlah suatu masalah yang perlu di perdebatkan. Nania adalah tipe gadis yang menganut paham kalau pria dan wanita memiliki kesetaraan dalam menentukan sikap mereka. Jadi dia tidak akan ragu untuk menunjukkan perasaannya terlebih dahulu ataupun bersikap lebih agresif ketimbang Jovan. Bagi Nania itu sama saja. Toh ujung-ujungnya nanti dia dan Jovan akan saling pegang juga. Hahaa.
“Oya, Jo. Menurutmu Marcell bagaimana? Apa mungkin dia bisa magang di perusahaanmu setelah lulus nanti?” tanya Nania sesaat sebelum mencium pipi Jovan yang sedang memakaikan seatbelt ke tubuhnya. “Upsss, maaf. Bibirku remnya blong.”
“Sering-sering saja seperti ini, Nania. Aku tidak keberatan kok,” sahut Jovan sambil tersenyum lebar setelah mendapat satu ciuman di pipinya. Sudah Jovan bilang bukan kalau memang benar Nania hanya ada satu di dunia. Dan itu adalah miliknya.
“Yoooo, jangan bilang kau sedang mencari kesempatan dalam kesempitan ya, Jo,” olok Nania seraya menyipitkan mata penuh goda. Setelah itu dia dan Jovan sama-sama tertawa kencang, merasa konyol akan apa yang sedang mereka bicarakan.
Sebelum lanjut mengobrol, Jovan menyalakan mesin mobilnya kemudian bergerak memasuki jalan raya. Satu tangannya dia gunakan untuk memegang stir, sedang satu tangannya lagi dia gunakan untuk menggenggam tangan Nania. Jujur, Jovan paling suka moment dimana dia di temani Nania saat sedang berkendara seperti ini. Sederhana memang, tapi di benak Jovan justru hal sederhana semacam inilah yang membuatnya merasa sangat nyaman dan juga tenang. Dan perasaan ini hanya bisa Jovan rasakan ketika sedang bersama Nania saja.
“Jo, kau belum menjawab pertanyaanku tadi. Marcell, bagaimana menurutmu?” tanya Nania kembali menanyakan pendapat Jovan tentang Marcell. Dia sungguh penasaran apakah sugar daddynya ini akan memberi peluang pekerjaan untuk Marcell atau tidak. Bukannya apa. Tadi Susan mengirim pesan pada Nania kalau perusahaan ayahnya Marcell sedang bermasalah, besar kemungkinan perusahaan itu akan bangkrut. Dan tujuan Nania mengenalkan Marcell pada Jovan adalah untuk membantu menemukan kesuksesannya di masa depan. Nania bukan meremehkan, dia hanya merasa berhutang budi saja karena Marcell pernah membantunya. Lagipula perusahaan Jovan sangatlah besar. Seharusnya tidak menjadi masalah bukan kalau Nania sedikit memanfaatkan kekayaan sugar daddynya?
“Wahhhh, ternyata kekasihku bijak sekali ya. Aku jadi makin sayang,” goda Nania sambil menoel lengan Jovan. Dia takjub mendengar jawabannya barusan.
Kedua lubang hidung Jovan langsung kembang kempis setelah dia di puji oleh Nania. Dengan ekpresi wajah yang begitu bahagia Jovan melajukan mobilnya dalam kecepatan yang lumayan tinggi untuk meluapkan perasaannya yang sedang berbunga-bunga. Nania yang melihat Jovan seperti itu hanya tertawa saja. Dia malah suka jika di bawa kebut-kebutan seperti ini. Andrenalinnya jadi terpacu. Sungguh.
“Oke, sudah cukup. Sekarang pelankan laju mobilmu, Jo. Kau bisa di hukum oleh Kak Gleen jika dia sampai tahu kau mengendarai mobil dengan sangat cepat. Aku tidak mau ya melihatmu di hukum olehnya. Aku tidak terima,” ucap Nania meminta Jovan agar memelankan laju mobil saat mereka sudah akan berbelok ke komplek perumahan. Bisa gawat jika kakak iparnya yang jahil itu sampai melihat hal ini karena Nania pasti tidak akan di izinkan lagi untuk menaiki mobilnya Jovan. Kalian tahu sendirilah kan betapa tegas ayahnya dalam memberikan hukuman. Apalagi hukuman menghadap tembok. Nania paling benci itu.
__ADS_1
“Apa kau khawatir padaku?” tanya Jovan sembari meng*lum senyum.
“Tentu saja aku khawatirlah. Bagaimana sih,” jawab Nania cetus. Dia kemudian duduk sedikit menyamping menghadap ke arah Jovan. “Dengarkan kata-kataku dengan baik ya, Jo. Jika seandainya nanti kita tidak bersama lagi, aku harap kau akan selalu dalam keadaan baik-baik saja. Aku bicara seperti ini bukan karena aku tidak menyayangimu, Jo. Aku sayang, dan aku sangat peduli padamu. Kau mengerti itu bukan?”
“Nania, kenapa kau bicara seperti ini. Sampai kapanpun kita berdua akan terus bersama. Dan aku tidak akan pernah mau untuk berpisah denganmu. Tidak mau!”
Nania berdecak pelan melihat Jovan yang langsung merajuk gara-gara salah memahami ucapannya. Secinta inikah Jovan padanya sampai tidak bisa membedakan mana perkataan yang serius dan mana kata-kata yang hanya merupakan perandaian saja? Benar-benar ya.
“Jo-Jo, saat aku bicara tadi memangnya kau kemanakan kedua telingamu itu hah? Akukan bilang jika seandainya kita tidak bersama, bukan benar-benar tidak bersama. Kenapa kau marah?” kesal Nania sambil memelototi Jovan yang mengemudi dengan wajah cemberut. “Lagipula aku juga tidak mungkin melepaskan sugar daddy sepertimu. Karena jika itu sampai terjadi, Krystal pasti akan menjadi orang pertama yang akan memilikimu. Aku mana mungkin rela kalah darinya. Sudah gila apa!”
“Jadi kesimpulannya kita akan berpisah atau tidak?” tanya Jovan memastikan.
“Ya tidaklah. Enak saja,” jawab Nania bersungut-sungut.
Senyum lebar langsung mengembang di bibir Jovan setelah dia mendengar jawaban Nania. Aman, nasibnya sudah aman sekarang. Sekarang Jovan bisa mengemudi dengan tenang.
Huftt, padahal tadi aku sudah terpikir untuk membawa Nania kabur dengan paksa. Untunglah kalau ucapannya tadi hanya andai-andai saja. Jantungku sudah hampir berhenti berdetak tadi, batin Jovan penuh kelegaan.
__ADS_1
***