
Nania melambaikan tangan saat mobil milik Tasya bergerak pergi dari pekarangan rumahnya. Setelah itu Nania bergegas masuk sambil memainkan ponsel di tangannya.
“Hei gadis mata duitan. Baru pulang kau?”
Langkah Nania langsung terhenti saat seseorang menegurnya. Merasa tak asing dengan suara tersebut, Nania tampak menyunggingkan senyum aneh di bibirnya sebelum dia berbalik menghadap ke belakang. Dan benar saja, tebakan Nania tidak salah akan siapa pemilik suara tersebut. Fedo Eiji, kakak ipar keduanya, kini tengah duduk di sofa sambil merangkul kakaknya yang cantik, Luri.
“Halo sayang. Apa kabar?” sapa Luri seraya tersenyum manis pada adiknya. Dia lalu menghela nafas panjang begitu menyadari betapa minimnya pakaian yang melekat di tubuh adiknya yang memang sangat luar biasa seksi itu. “Hmmmm, Nania. Apa pihak kampus tidak merasa keberatan jika mahasiswanya datang dengan mengenakan pakaian yang begitu terbuka? Bajumu sedikit berlebihan, sayang. Kurang-kurangilah keseksiannya. Oke?”
“Oh ya ampun, Kak Luri. Aku ini Nania. Aku gadis keren yang tinggal di abad 21 dimana hampir semua para gadis mengenakan pakaian dengan ukuran seperti ini. Lagipula aku inikan tidak telanjang,” sahut Nania dengan entangnya. Dia kemudian berjalan menghampiri sang kakak. Namun sebelum Nania sampai, kakinya sudah lebih dulu di hadang oleh pria tengik yang sampai detik ini masih begitu gila dalam mencintai kakaknya. Fedo Eiji, benar-benar ya.
“Tolong jangan halangi langkahku atau aku akan menginjak tulang kakimu sampai patah, Kak. Minggir!”
Fedo menyeringai.
“Minggir? Maaf, Nania. Orang kaya sepertiku tidak menerima perintah dari anak ingusan yang kekasihnya tidak selevel denganku. Tahu kau?” ucap Fedo dengan sengaja memantik kekesalan di diri gadis yang sangat menggilai sugar daddy ini.
“Oya?” Nania balas menyeringai. Dan di detik selanjutnya Nania benar-benar menginjak kaki kakak iparnya hingga membuatnya memekik kesakitan. Setelah itu Nania bergegas duduk di sebelah kakaknya kemudian memeluknya dengan erat. “Kak Luri, aku rindu sekali. Kapan kau datang, hm? Kenapa tidak memberi kabar padaku?”
“Kakak barusaja tiba di rumah ini, Nia. Dan penyebab kenapa Kakak tidak mengabarimu adalah karena kakak iparmu ingin memberi kejutan pada kalian semua. Jadi ya sudah, kami datang diam-diam seperti ini,” jawab Luri sembari membelai rambut panjang adiknya. “Tidak terasa sekarang kau sudah besar ya, Nania. Padahal rasanya baru seperti kemarin kakak mengikat rambutmu. Tapi sekarang? Kau bahkan sudah sangat jago mengenakan riasan. Kakak sampai iri melihatnya,”
“Kau cantik dengan apa adanya dirimu, sayang,” ucap Fedo menimpali perkataan Luri. Dia lalu mengedipkan sebelah matanya saat Luri meliriknya sambil tersenyum. “Aku mencintaimu,”
“Hihhh, dengar ya, Kak Fedo. Aku merasa sangat tidak nyaman melihat kebucinanmu terhadap Kak Luri. Jadi tolong kondisikan terlebih dahulu sebelum aku muntah karena mendengarnya. Paham?” tegur Nania sok geli mendengar kebucinan pasangan suami istri ini. Padahal dia dan Jovan terkadang lebih parah lagi saat sedang membucin. Biar saja, suka-suka Nania ingin berkata apa. Benar tidak?
__ADS_1
Luri langsung menggeleng pelan saat Fedo hendak membalas perkataan Nania. Pertengkaran mereka bisa melebar kemana-mana jika tidak segera di tengahi. Walaupun kesalahpahaman itu sudah terjadi beberapa tahun yang lalu, tapi sampai sekarang Nania masih menyimpan dendam pada suaminya. Terkadang Luri merasa kasihan, tapi juga tidak bisa menyalahkan adiknya karena apa yang Nania lakukan adalah bentuk kepeduliannya sebagai seoranga adik. Jadi setiap kali anjing dan kucing ini bertemu, Luri hanya bisa berusaha untuk melerai. Ya meskipun itu hanya bersikap sementara. Hehe.
“Kak Fedo?” panggil Nania dengan suara manja.
Hmmm, gadis mata duitan ini pasti ingin meminta sesuatu dariku.
“Apa?" sahut Fedo sedikit cetus.
“Bagi aku uang,” ucap Nania to the point. “Besok adalah jadwalku melakukan perawatan kecantikan. Karena kau sedang ada di sini, jadi lebih baik aku simpan saja uang pemberian kekasihku. Dan kalau kau sampai berani tidak memberiku uang, maka jangan salahkan aku kalau aku akan mengenalkan Kak Luri pada teman-teman priaku yang tentunya jauh lebih tampan dan kaya raya darimu. Bagaimana? Apa kau ….
Pakkkkk
Sebuah kartu hitam langsung berpose menantang di atas meja begitu Nania melayangkan ancaman pada Fedo. Luyan dan Nita yang kebetulan baru muncul di sana nampak menarik nafas dalam-dalam menyaksikan bagaimana putri mereka memalak kakak iparnya sendiri. Ingin heran, tapi yang melakukannya adalah Nania. Dan Fedo tak pernah bisa menemukan alasan untuk tidak mengabulkan keinginannya. Terkadang Luyan dan Nita sampai bingung sendiri kenapa Fedo dan Gleen bisa begitu memanjakan Nania, padahal gadis itu sangatlah nakal dan sedikit kurang ajar pada keduanya. Aneh bukan?
“Tidak apa-apa, Fedo. Kabar Ayah dan Ibu sangat baik,” sahut Luyan sambil tersenyum lebar. Dia lalu menatap ke arah Luri yang tengah di peluk oleh Nania. “Hmmmm, sepertinya Ayah akan kesulitan untuk memeluk istrimu, Fed. Dia sudah di kuasai oleh seseorang.”
“Ayah benar sekali. Aku saja sudah mendapat satu serangan saat ingin mempertahankan milikku,” jawab Fedo sambil melirik sebal pada Nania.
“Haih kalian ini. Tidak dengan kau ataupun Gleen, selalu saja bertengkar dengan gadis nakal itu. Entah kapan kalian baru akan akur!”
“Ayah, sudahlah. Jangan mengeluh terus. Memangnya Ayah tidak lelah apa?” sungut Nania sambil mengerucutkan bibir. Dia lalu melepaskan pelukannya dari tubuh sang kakak saat menyadari sesuatu. “Kak Luri, dimana putri tidurku? Kalian tidak mungkin meninggalkannya sendirian di Jepang, bukan?”
“Sora sedang istirahat di kamar dengan pengasuhnya,” jawab Luri. Menggunakan kesempatan yang ada, Luri bergegas menghampiri ayah dan ibunya kemudian memeluknya bergantian. Setelah itu di tatapnya kedua orangtuanya penuh rindu. “Ayah, Ibu. Entah kenapa aku tak pernah bisa berhenti bersyukur karena telah terlahir dari orang hebat seperti kalian. Semoga Tuhan selalu memberikan umur panjang dan juga kebahagiaan untuk kita semua ya.”
__ADS_1
Nita dengan penuh sayang membelai wajah putri keduanya yang adalah paling lembut hatinya jika di bandingkan dengan Lusi dan Nania. Bukan niat membandingkan, tapi perasaan Luri memang jauh lebih peka dari kakak dan adiknya. Membanggakan sekali bukan?
“Hmmmm, mulai,” celetuk Nania merasa tak suka saat suasana haru mulai menyelimuti keluarganya. Alasan kenapa Nania tak menyukai suasana seperti ini adalah karena nanti dia pasti akan menangis dan hal itu bisa menyebabkan dampak yang kurang baik terhadap keindahan mata dan hidungnya. Nania tidak akan terlihat cantik jika mata dan hidungnya sampai sembab. Kan tidak lucu. Iya ‘kan?
“Nania, janga merusak suasana,” omel Fedo.
“Aku tidak,” sahut Nania enggan mengaku.
“Lalu kenapa tadi kau membuang nafas sampai sekeras itu?”
Nania berdecak. Dia mengambil kartu hitam di atas meja kemudian menghampiri keluarganya. Sambil berkacak pinggang dan menatap sengit pada kakak iparnya, Nania menjelaskan alasan kenapa tadi dia bisa membuang nafas dengan keras.
“Ayah, Ibu, Kak Luri dan Kak Fedo. Penyebab kenapa aku seperti itu adalah karena aku sedang berusaha menjaga kecantikanku. Karena setiap Kak Luri datang, suasana di rumah ini pasti akan terasa mengharu biru yang mana bisa menimbulkan efek air mata. Dan aku tidak menyukainya. Karena apa? Karena itu akan membuat kadar kecantikanku berkurang banyak. Mata dan hidung menjadi sembab, wajah membengkak, belum lagi dengan eyeliner mahalku yang luntur. Jadi untuk mencegah agar semua itu tidak terjadi sebaiknya aku pergi mengganggu si putri tidur. Lebih baik Sora saja yang menangis karena dia tidak akan mengalami kerugian apa-apa. Bay!”
Semua orang tak bisa berkata apa-apa saat Nania melenggang pergi dari hadapan mereka. Memang benar-benar ya anak satu itu. Selalu saja membuat orang lain hampir mati menahan kesal. Dan tak lama kemudian terdengar suara tangisan Sora yang tengah berteriak meminta tolong pada ibunya.
“Ayah, Ibu. Bisakah kalian memberitahuku kenapa kelakuan Nania bisa berbeda 180 derajat dari kedua kakaknya? Bagaimana bisa dia terpikir untuk menjahati keponakannya sendiri hanya karena tangisan Sora tidak akan menimbulkan kerugian?” tanya Fedo langsung depresot saat putri emasnya di panggul paksa dan di bawa ke kamar lain oleh Nania.
“Ayah saja bingung kenapa Nania bisa seperti itu, Fed. Jadi maaf, kami tidak memiliki jawaban atas pertanyaanmu,” jawab Luyan pasrah.
Luri tertawa saat suami dan kedua orangtuanya sama-sama menarik nafas panjang setelah melihat apa yang dilakukan Nania terhadap putrinya. Tak mau suaminya merasa cemas, Luri pamit pergi untuk mengambil Sora. Kasihan putrinya. Dia pasti syok karena memiliki seorang bibi yang sangat brutal. 😂
***
__ADS_1