
Setelah sehari semalam pingsan Susan dan Tasya akhirnya sadar. Nania yang mengetahui hal itupun langsung meminta sang kakak melakukan pemeriksaan menyeluruh untuk mencaritahu apakah kedua sahabatnya mengalami amnesia atau tidak. Dia khawatir setengah mati karenanya. Coba kalian bayangkan jika seandainya benar kalau mereka lupa ingatan. Siapa lagi yang akan Nania bully jika otak kedua sahabatnya tak bisa terselamatkan. Benar tidak?
“Biasa saja, Nania. Jangan malah seperti keong yang kehilangan cangkangnya,” ledek Fedo sambil menatap Nania yang terus bergerak kesana kemari sambil memainkan rambut. Mengapa keong? Karena gadis ini berjalan lambat, tidak cepat seperti yang seharusnya. Jika biasanya orang akan menyebut seperti setrika pakaian, terkhusus untuk Nania sebutan tersebut tidaklah cocok. Keong yang kehilangan cangkang, ini jauh lebih menarik. Hehe.
“Sejak kapan ada keong secantik dan seseksi aku, Kak?” tanya Nania sambil memicingkan mata.
“Sejak tadi,” jawab Fedo asal.
“Mau tidak kalau kulubangi ubun-ubunmu?”
Jovan dan Gleen tertawa. Sedangkan Fedo, dia langsung kalah telak dalam sekali serangan. Di karenakan sudah terlalu lama berada di rumah sakit, Lusi memutuskan untuk pulang lebih dulu guna memeriksa keadaan Sora dan Reiden. Luri sedang tidak bisa pulang karena dia ikut melakukan pemeriksaan bersama dokter yang bekerja di rumah sakit ini. Walaupun tidak sedang bertugas, dia tetap bisa mengawasi langsung perkembangan Susan dan Tasya karena di rumah sakit ini keluarga dari bibinya Fedo mempunyai saham yang cukup besar. Jadilah dia mendapat izin begitu saja oleh pihak rumah sakit setelah Fedo angkat suara.
Ceklek
Secepat kilat Nania melesat ke hadapan dokter begitu pintu terbuka. Dan beruntunglah karena yang muncul adalah sang kakak. Nania kemudian mulai melakukan pencecaran guna mencaritahu bagaimana keadaan kedua sahabatnya.
“Bagaimana, Kak? Otaknya Susan dan Tasya baik-baik saja ‘kan? Mereka tidak amnesia ‘kan? Tolong jangan jawab iya, Kak. Aku tidak sanggup jika harus melihat mereka tumbuh menjadi gadis yang bodoh. Mereka baik-baik saja 'kan?"
“Satu-satu kalau mau bertanya, Nania,” sahut Luri seraya menggelengkan kepala. Dia lalu tersenyum saat Fedo mendekat kemudian memeluk pinggangnya posesif.
“Cihh, dasar parasit. Bisa tidak kau jangan menempel pada kakakku dulu, Kak?” protes Nania berdecih sinis melihat kelakuan si pria Jepang. Ingin rasanya dia mengikat tubuh pria ini di batang pohon yang di penuhi serangga. Haihh.
“Tidak bisa!” tolak Fedo dengan lantang. “Kakakmu adalah istriku, jadi aku harus menjaganya dengan baik.”
“Menjaganya dari apa?"
“Dari gadis yang suka mengumbar keseksian sepertimu.”
Nania terkekeh. Ini baru benar.
“Jadi kapan kalian akan membiarkanku bicara tentang keadaan Susan dan Tasya, hem?” tanya Luri sambil menatap bergantian pada suami dan adiknya. Selalu saja seperti ini. Hmmm.
“Sekarang saja,” jawab Fedo dan Nania kompak.
__ADS_1
Luri menghela nafas. Dia lalu memberitahu mereka semua tentang keadaan Susan dan Tasya yang berhasil sadar tanpa mengalami gegar otak ataupun cidera lain. Namun belum juga dia selesai bicara, Nania sudah lebih dulu masuk ke dalam ruangan. Hal ini tentu saja membuat Luri kaget sekali karena adiknya melesat bagaikan angin topan yang membuat tubuhnya sampai terdorong ke samping.
“Kak Fedo, kau lemah sekali. Pegangi tubuh Kak Luri dengan benar. Tahu!”
Braakkk
“Dia yang menyenggol bahumu tapi kenapa aku yang dimarahi, sayang?” tanya Fedo terbengang akan kelakuan Nania. Benar-benar ya gadis beracun itu.
“Sudah jangan diperpanjang. Kaukan tahu sendiri dia seperti apa,” jawab Luri dengan tenang. “Oya, Kak Gleen. Ayah, Ibu, dan Kak Lusi sudah sampai di rumah belum?”
“Sudah. Sedetik yang lalu mereka sudah sampai di rumah,” sahut Gleen. “Karena Susan dan Tasya sudah sadar sebaiknya aku pamit pulang saja ya. Kasian Lusi kalau tidak ada yang membantu menjaga anak-anak!”
“Lalu kedua bibi pengasuh kau anggap apa, Gleen? Patung pajangan?”
Gleen terkekeh mendengar sindiran yang dilayangkan oleh Fedo. Setelah itu diapun berpamitan pada semua orang, tak terkecuali Jovan juga. Tentu saja di mata Gleen kehadiran bibi pengasuh hanyalah sebatas makhluk tak kasat mata saja. Karena di matanya hanya ada Lusi seorang. Kalian tahu sendirilah betapa dia sangat tidak bisa berada jauh dari istrinya yang cantik itu.
Sementara itu di dalam ruangan, Nania bergantian menanyakan keadaan pada Susan dan Tasya. Dia mengabaikan dokter dan perawat yang masih melakukan beberapa pemeriksaan. Juga dengan keluarga kedua sahabatnya, Nania masa bodo. Yang paling penting sekarang adalah memastikan kalau kedua sahabatnya benar sudah baik-baik saja.
“Sya, ini berapa?” tanya Nania sambil mengacungkan lima jari tangan ke depan wajah Tasya.
“Iya aku juga tahu kalau kalian kecelakaan. Tapi bisa sajakan dampak dari kecelakaan itu membuat kalian menjadi bodoh dan tidak bisa berhitung?” sahut Nania enggan mengalah. “Sudah, lebih baik sekarang kalian jawab saja. Mengerti?”
“Terserah kau sajalah,”
“Ini berapa?” ucap Nania kembali meminta Tasya menyebutkan angka.
“Lima,” jawab Tasya dengan sangat terpaksa.
“Good girl.” Nania berbalik menghadap ranjangnya Susan dan dia juga melakukan hal yang sama kepadanya. “San, ini berapa?”
“Satu,” jawab Susan pasrah.
“Lalu bagaimana denganku? Cantik tidak?”
__ADS_1
“NANIA, KAMI BUTUH ISTIRAHAT YA!”
“Hehehe, baiklah-baiklah.”
Karena sudah mengenal dekat Nania, keluarga Susan dan Tasya sudah tidak heran lagi melihat kelakuannya. Namun hal tersebut tidak berlaku untuk dokter dan para perawat yang sempat berjengit kaget saat Susan dan Tasya kompak berteriak. Mereka sampai kebingungan harus melakukan apa sekarang.
“San, boleh aku bertanya padamu?” tanya Nania penuh selidik.
“Memangnya kalau aku menjawab tidak kau akan mendengarkan?” Susan bertanya balik. Perasaannya terasa sedikit aneh melihat ekpresi Nania yang begitu serius. Mungkinkah gadis ini sedang tidak bercanda?
“Tentu saja tidak. Walaupun kau menangis darah aku pasti akan tetap bertanya padamu,”
“Lalu apa gunanya kau meminta izin dariku?”
“Untuk pantas-pantas sajalah. Bagaimana sih,”
Ya Tuhan, bisakah kau buat aku pingsan lagi?
“Saat sedang mengendarai mobilku kau merasakan hal yang aneh tidak? Semacam rem yang tidak berfungsi dengan baik mungkin?” tanya Nania dengan mimik wajah yang begitu serius. Ditatapnya bergantian kedua gadis yang barusaja tersadar dari pingsan.
“Em aku rasa tidak ada yang salah dengan mobilmu, Nania. Remnya baik-baik saja,” jawab Susan sembari mengingat-ingat keadaan mobil Nania sebelum dia mengalami kecelakaan. Merasa ada yang tidak beres, Susan ganti mencecar Nania dengan beberapa pertanyaan. “Kau kenapa bertanya tentang hal seperti ini padaku? Jangan bilang ada seseorang yang sudah mensabotase mobilmu ya. Brengsek sekali dia!”
“Kalau memang kau tidak menemukan ada yang salah dengan mobilku itu artinya kejadian semalam adalah murni karena kebodohanmu ya?”
Nania menyeringai melihat wajah Susan yang langsung berubah masam begitu dia menyebutnya bodoh. Dia kemudian menoleh saat merasakan sebuah elusan pelan di bahunya. “Ada apa, Bibi? Apa Bibi juga tertarik untuk mengatai Susan sebagai gadis bodoh karena mengendarai mobil dalam keadaan mabuk?”
“Bukan, bukan begitu, Nania. Kalau masalah Susan yang suka mabuk sih Bibi sudah tahu dari dulu. Tapi yang membuat Bibi penasaran apakah benar ada orang yang telah mensabotase mobilmu? Jika benar begitu bukankah seharusnya kita melaporkan hal ini kepada pihak berwajib saja supaya bisa segera di tangani?” ucap ibunya Susan dengan raut wajah yang begitu khawatir.
“Bibi tenang saja. Melukai sahabatku itu artinya mengibarkan bendera perang denganku. Jangan khawatir, aku pasti akan meminta kedua kakak iparku untuk menyelidiki kasus ini sampai tuntas. Dan jika masih belum ditemukan penyebabnya juga, maka aku akan menggunakan kartu as terakhirku untuk membongkar dalang di balik kecelakaan ini!”
“Kartu as terakhir? Apa itu, Nania?” tanya Tasya penasaran.
“Tentu saja Elea. Siapa lagi memangnya yang bisa aku sebut sebagai kartu as terakhir selain wanita kaya raya itu?” jawab Nania dengan begitu percaya diri.
__ADS_1
Sungguh bodoh orang yang berani mencari gara-gara dengan Nania. Orang ini tidak tahu saja kalau Nania memiliki hubungan yang sangat dekat dengan menantu kesayangan di keluarga Ma, Eleanor Young. Kalau wanita bermulut naga itu sudah muncul, siapalah yang bisa lolos dari bidikannya. Ditambah jika Elea sampai merengek pada suaminya, maka matilah si pembuat onar yang berani mengganggu Nania. Haha.
***