
Setelah kejadian di mana Krystal di tuduh telah melakukan bully pada Nania, gadis angkuh itu tak berani lagi mengganggunya. Juga karena Nania yang sudah beberapa hari terakhir tidak menampakkan batang hidungnya di kampus, membuat suasana gedung itu jadi terasa sedikit sunyi. Krystal yang merasa punya kesempatan pun mencoba untuk tebar pesona kepada para mahasiswa laki-laki, termasuk meniru gaya berpakaian Nania yang memang sangat seksi. Namun, alih-alih mendapat pujian, yang ada semua orang malah menatapnya dengan pandangan sinis dan juga jijik. Bahkan tak jarang Krystal harus gigit jari saat mendengar gunjingan para senior yang menyebut kalau dirinya adalah gadis murahan yang tidak tahu etika berpakaian yang sopan. Sangat menjengkelkan.
“Dengar ya Krystal. Mau seseksi dan semenarik apapun dirimu, kau itu tidak akan pernah bisa dibandingkan dengan Nania. Semua yang kau lakukan terkesan di paksakan, tidak seperti Nania yang memang sudah terlahir seksi dan juga cantik. Jadi kami sarankan kau sebaiknya menjadi dirimu sendiri saja. Jangan malah meniru gaya orang lain yang jelas-jelas sangat tidak cocok dengan gayamu. Mengerti?”
“Cihhh, ingin meniru Nania? Bahkan aku lebih memilih melihat katak berdisko daripada harus melihatnya tampil seperti gadis murahan. Heran, entah apa tujuanmu berpenampilan seperti itu. Ingat ya, ini itu kampus, bukan tempat yang bisa kau gunakan untuk pamer pantat. Tahu?”
“Bukannya sadar diri sebagai seorang pembully, ini malah sengaja meniru gaya orang yang telah di bullynya. Sudah tidak punya urat malu ya? Iyuhhhhh!”
Kurang lebih seperti itulah bunyi sindiran dan juga ejekan yang harus Krystal dengar setiap harinya. Hatinya sakit, itu sudah pasti. Tapi mau bagaimana lagi. Entah mengapa Krystal begitu terobsesi dengan ingin menggantikan posisi Nania di mata semua orang. Padahal jika di perhatikan dengan baik, mereka berdua tidaklah jauh berbeda. Nania cantik, Krystal juga cantik. Nania seksi, Krystal pun sama. Dan mengenai prestasi di kampus, Krystal juga tak bisa di anggap bodoh meski dia belum pernah mengharumkan nama universitas seperti yang Nania lakukan. Dan dulu sebelum gadis murahan itu masuk ke kampus ini, Krystal adalah mahasiswi paling cantik yang banyak di kagumi oleh mahasiswa laki-laki. Tidak ada bedanya, kan? Tapi kenapa sekarang semua orang tak berhenti mengejeknya. Apa yang salah dengan Krystal? Aneh.
Setelah kelas selesai, Krystal bersama teman-temannya pergi ke kantin. Mereka memesan banyak makanan, dan tentu saja Krystallah yang menjadi mesin ATM-nya. Meskipun tahu kalau dirinya selalu dimanfaatkan, Krsytal tak puny acara lain untuk menghentikan perlakukan teman-temannya ini. Dia takut di tinggal sendirian, yang mana akan membuktikan omongan Rhea tempo hari yang menyebut kalau dialah gadis kesepian yang sesungguhnya.
Oya, ngomong-ngomong tentang gadis satu itu, Krystal tak pernah lagi bertemu dengan Rhea sejak mereka terlibat adu mulut di sebuah restoran. Meskipun awalnya hanya berniat memanfaatkan, jujur Krystal akui kalau terkadang dia sedikit merindukannya. Entah apa yang terjadi. Sikap cetus dan juga angkuh Rhea seringkali menghangatkan hatinya. Ah, tapi ya sudahlah. Krystal tak mau melihat ke belakang. Masa bodo dengan perasaan rindu itu.
“Krys, setelah inikan kita tidak ada kelas lagi. Bagaimana kalau kita pergi menonton. Kau mau tidak?” tanya salah seorang gadis sambil mengaduk-aduk minuman.
“Aku sedang malas,” Krystal menolak. “Kalian saja sana yang pergi menonton. Moodku sedang sangat buruk, aku ingin langsung pulang saja.”
“Waaahhh, sayang sekali. Padahal film yang akan di putar nanti merupakan film adopsi dari penulis ternama. Tapi ya sudahlah kalau kau tidak mau pergi. Tidak masalah.”
Krystal menghela nafas. Dia kemudian melamun, membayangkan jika seandainya dia dan Jovan menjadi pasangan kekasih. Pasti mereka bisa pergi menonton dan menghabiskan waktu bersama. Haihhhh.
Kenapa Nania harus hadir di tengah-tengah kedekatan kami sih. Dan kenapa juga Jovan harus sudah menyukainya sejak Nania masih remaja. Kenapa bukan aku saja yang Jovan suka. Dengan begitukan aku tidak harus merasakan patah hati seperti ini. Sialan.
Gondok memikirkan tentang Nania, Krystal memutuskan untuk pergi saja. Dia meninggalkan beberapa lembar uang di atas meja kemudian melangkah pergi meninggalkan kantin. Saat Krystal melewati segerombolan mahasiswa senior, dia di buat geram oleh suara bisik-bisik yang ternyata sedang menggunjingkannya. Kesal, Krystal segera berbalik kemudian menatap nyalang pada sekelompok gadis yang kini berpura-pura sedang membaca buku.
__ADS_1
“Dasar sampah. Berani sekali ya kalian menggunjingkan tentang aku. Kalian pikir kalian itu siapa hah!” amuk Krystal.
“Kalau kami sampah lalu kau apa, Krys? Indung sampah? Iya?” sahut salah satu gadis dengan nada yang sangat sinis. “Lagipula gadis murahan sepertimu memang pantas untuk di gunjingkan. Kau angkuh, tukang bully, arogan, dan juga sok cantik. Jangan mentang-mentang Ayahmu adalah donatur terbesar di kampus ini lantas kau bisa bersikap seenaknya ya. Dasar tidak tahu diri!”
“Apa kau bilang? Tidak tahu diri?”
Kepala Krystal tertengadah ke atas sambil dia tertawa mendengar ejekan gadis di hadapannya. Sulit di percaya. Gadis rendahan seperti mereka berani menghinanya? Tidak bisa di biarkan. Krsytal tidak terima.
Plaaakkkkkkk
Satu tamparan keras mendarat di pipi mahasiswa yang baru saja mengejek Krystal. Dengan sangat marah Krystal kembali melayangkan satu tamparan lagi yang mana membuat gadis tersebut jatuh terhuyung ke lantai. Tak peduli kalau dia bisa terkena hukuman karena melakukan tindak kekerasan, Krystal kembali menyerang dengan menduduki perut gadis itu kemudian menjambak rambutnya dengan sangat kuat. Dan sontak saja perkelahian mereka mengundang perhatian dari semua orang yang ada di sana. Hanya dalam waktu singkat para mahasiswa sudah berdiri mengelilingi dua gadis yang sedang terlibat gulat sambil merekam video dengan ponsel masing-masing. Marcell yang kebetulan sedang berada di kantin pun merasa tertarik untuk melihat apa yang terjadi. Dia lalu bergerak menuju kerumunan.
“Ada apa ini? Kenapa kalian berkerumun?” tanya Marcell pada salah satu mahasiswa.
“Krystal membuat ulah lagi, Cell. Dia tengah berkelahi dengan kakak senior.”
Segera Marcell meminta mahasiswa membukakan jalan untuknya. Dan begitu sampai di depan, dia langsung menghela nafas panjang melihat keadaan Krystal yang sudah sangat berantakan. Rambut gadis itu seperti orang yang tersengat listrik, kacau. Sedangkan di wajahnya ada luka bekas cakaran yang mengeluarkan darah.
“Krystal, apa-apaan kau hah! Ini kampus, bukan ring tinju!” teriak Marcell lantang. Dia kemudian mengusap wajah saat kedua gadis di hadapannya langsung terpaku diam. Mungkin kaget. “Sekarang aku minta kalian berdua bangun. Cepat!”
Sebelum bangun, Krystal masih sempat menempeleng kepala seniornya. Dia kemudian mendorongnya kasar hingga jatuh telentang di lantai. Tanpa merasa canggung ataupun malu, Krystal bangun kemudian berdiri menantang di hadapan Marcell. Bajingan ini, dia sangat membencinya.
“Apa, hah? Mau berlagak seperti pahlawan lagi? Iya?” hardik Krystal dengan kasar.
“Cihh, kau benar-benar anak setan, Krys. Apa kau masih belum jera juga setelah menerima skorsing dari pihak kampus? Kau sadar tidak kalau sikapmu ini sama sekali tak mencerminkan seorang mahasiswa teladan. Kau terlihat seperti anak punk yang tidak pernah di ajari cara bersikap dengan benar. Sayang sekali uang yang telah di gelontorkan oleh orangtuamu. Aku yakin Ayah dan Ibumu pasti tidak tahu kalau di kampus kelakuanmu itu sangat mirip dengan preman. Memalukan!” sahut Marcell balas menghardik tak kalah kasar. Di tatapnya tajam wajah gadis yang tengah memperlihatkan sorot kemarahan. “Seharusnya kau itu belajar dari yang sudah-sudah, Krystal. Aku memang tidak tahu apa yang terjadi di antara kalian. Tapi apapun itu kau tetap akan menjadi orang yang di salahkan karena sudah membuat keributan. Sekarang cepat jelaskan apa yang membuat kalian bisa sampai adu jotos seperti ini. Jika tidak, aku akan melaporkan masalah ini ke pihak kampus. Bagaimana? Kalian mau pilih yang mana?”
__ADS_1
Brengsek! Apa-apaanlah si Marcell ini. Sekalinya datang langsung membuat masalah. Dia pikir dia terlihat keren apa dengan menjadi pelerai. Dasar pria dungu. Cuihhhh.
“Oh, jadi kalian memilih diam ya. Baiklah, kalau begitu jangan salahkan aku membawa masalah ini ke ruang dekan!” ancam Marcell saat kedua gadis di hadapannya tidak ada yang mau bicara.
“Tunggu!” Krystal menarik tangan Marcell yang ingin pergi dari sana. Dia kemudian berdehem sebelum memberitahukan titik masalahnya. “Mereka yang lebih dulu memulai masalah ini. Saat aku lewat di depan mereka, aku di gunjingkan dengan kata-kata yang sangat menyakitkan. Mereka menyebutku sebagai gadis murahan, juga menyamakan aku dengan anak anjing yang kebasahan di pinggir jalan hanya karena aku di anggap meniru cara Nania berpakaian. Karena aku tidak merasa seperti itu, jelas aku marah mendengar gunjingan tersebut. Tapi saat aku menegur mereka, aku malah di sebut sebagai gadis yang tidak tahu diri. Aku tidak terima, lalu aku menamparnya. Dan ya, kau bisa lihat sendiri apa yang terjadi di antara kami. Begitu ceritanya!”
“Kau, apa benar yang di katakan oleh Krystal?” tanya Marcell pada gadis yang satunya lagi.
“Cell, aku hanya mengatakan kebenarannya saja. Siapa yang akan menyangka kalau Krystal akan berubah seperti anjing gila. Lagipula semua mahasiswa juga tahu kali kalau dia memang sengaja meniru gaya Nania. Lihat saja yang di pakai gadis ini. Modelnya sama persis dengan yang biasa Nania kenakan. Jadi tidak salahkan kalau aku menyebutnya sebagai gadis yang tidak tahu diri?”
“Yakkkk!”
“Diam!” bentak Marcell jengkel. “Kalian berdua sama-sama salah. Jadi sebelum masalah ini melebar kemana-mana, aku sarankan kalian sebaiknya berbaikan saja. Kalian itukan sama-sama mahasiswa di sini, untuk apalah saling bermusuhan. Ingat, tujuan kalian bersekolah di sini adalah untuk mencari ilmu, bukan untuk beradu siapa yang paling hebat dalam menjatuhkan dan menyakiti orang lain. Paham?”
“Kau jangan kelewatan ya, Cell. Aku mau bicara denganmu bukan berarti aku akan menuruti apa yang kau katakan. Bukankah tadi aku sudah menjelaskan dengan sangat detail kalau merekalah yang memulai masalah ini. Jadi perintahkan saja mereka untuk meminta maaf padaku. Bukan malah memintaku juga untuk berbaikan dengan mereka. Bagaimana sih!” protes Krystal tak terima saat Marcell memintanya untuk berbaikan dengan segerombolan gadis bermulut sampah ini. Enak saja.
“Jangan memperkeruh suasana, Krys. Kalian berdua sama-sama saling meminta maaf. Cepat!”
“Tidak mau!” sahut Krystal dan gadis itu kompak. Mereka kemudian melenggang pergi menuju arah berlawanan, tak mengindahkan Marcell yang tengah menekan tulang hidungnya karena merasa kesal.
Benar-benar ya. Kenapa sih para wanita harus susah di urus. Membuat orang pusing saja. Haihh.
Dengan keadaan yang sangat berantakan, Krystal pergi meninggalkan kampus. Dia lalu memutuskan untuk pergi ke salon langganannya guna melakukan perawatan setelah tadi bersentuhan kulit dengan gadis sampah sialan itu. Sambil menyetir mobil, sesekali Krystal tampak meringis merasakan perih akibat luka gores di pipinya.
“Dasar brengsek! Lihat saja. Aku pastikan setelah ini kalian semua akan di keluarkan dari kampus. Berani-beraninya ya kalian mencari masalah denganku. Dasar bodoh!” geram Krystal penuh dendam. Dia lalu menambah kecepatan mobilnya supaya cepat sampai. Tubuhnya sudah mulai gatal-gatal.
__ADS_1
***