
📢📢📢 BOM KOMENTARNYA BESTIE 💜
***
"Nania, kau tidak bohong 'kan?" pekik Susan dan Tasya tak percaya. Mereka sampai berdiri saking kagetnya setelah mendengar pengakuan sahabat mereka ini.
Melihat reaksi heboh di diri kedua sahabatnya membuat Nania tersenyum penuh kepuasan. Ya, Nania baru saja memberitahu mereka kalau sekarang dia telah resmi menjadi kekasihnya Jovan, si sugar daddy tampan dan kaya raya. Sebenarnya sudah sejak semalam Susan dan Tasya mencecar Nania perihal foto yang dia unggah ke akun media sosialnya di mana Nania mengungggah foto mesra bersama seorang pria yang wajahnya tertutupi stiker. Akan tetapi Nania sengaja tak menanggapi pertanyaan Susan dan Tasya karena dia ingin melihat reaksi terkejut mereka secara langsung. Dan reaksi mereka sekarang benar-benar sangat sesuai dengan yang di harapkan oleh Nania. Sangat menyenangkan. Haha.Â
"Nania, jangan bilang kau sengaja menggunai-gunai Jovan supaya dia mau menjadi kekasihmu. Aku benar tidak!" tuduh Susan penuh selidik. Dia sedikit cemburu karena pria incarannya sudah lebih dulu jatuh ke pelukan Nania. Susan kalah start.
"Ck, beginilah jika biji pepaya di beri nyawa. Seenaknya menuduh orang tanpa berpikir dengan logikanya terlebih dahulu!" sahut Nania dongkol mendengar tuduhan yang Susan lontarkan. Heran.
"Ya wajar saja kan aku berpikiran seperti itu. Bayangkan saja. Baru juga kemarin kau menyebut kalau Jovan adalah calon sugar daddy-mu, lalu bagaimana bisa hanya dalam waktu beberapa jam dia sudah menjadi kekasihmu? Rasanya sedikit mustahil jika di pikirkan dengan logika yang benar. Iya kan, Sya?"
Tasya mengangguk. Dia sependapat dengan Susan, tapi juga merasa maklum akan kemampuan Nania dalam menaklukan para pria. Gadis satu ini memiliki pesona yang sangat luar biasa keren, jadi sudah tidak mengherankan lagi kalau Nania bisa mendapatkan kekasih dalam waktu yang sangat singkat.
"Ck, terserah kalian mau berpikir apa tentang masalah ini. Yang jelas aku dan Jovan sekarang sudah resmi menjadi kekasih. Dan satu lagi. Jovan memberiku kebebasan untuk datang keperusahaannya kapanpun aku mau. Keren 'kan?" ucap Nania dengan penuh bangga.
Dan begitu mendengar perkataan Nania, bola mata Susan dan Tasya langsung membelalak lebar. Segera mereka berpindah dari yang tadinya duduk di hadapan Nania berganti menjadi duduk di sisi kanan dan kirinya. Mereka lalu mendekatkan wajah agar bisa menatap wajah Nania dari jarak dekat.
__ADS_1
"Kau tidak sedang mengerjai kami saja kan, Nania?" tanya Susan dengan raut wajah begitu penasaran.
"Iya, Nania. Awas saja kalau kau sampai berkata bohong padaku dan juga pada Susan. Kudoakan semoga ketiakmu di tumbuhi bisul sebesar buah nanas," timpal Tasya dengan mimik wajah yang begitu serius.Â
Kesal di sumpahi dengan kata keramat bagi kaum para gadis, secepat kilat tangan Nania mendarat di kening Susan dan Tasya. Nania merasa sangat dongkol pada mereka yang begitu berani meragukan perkataannya.
"Sekarang aku tanya pada kalian berdua. Apa pernah seorang Nania berkata bohong sejak awal kita berteman, hah? Kalau memang pernah, beritahu aku kapan hal itu terjadi. Cepat jawab!" cecar Nania sambil menatap bergantian pada kedua sahabatnya yang tengah mengelus kening masing-masing. Sepertinya serangan Nania tadi cukup kuat karena kulit kening Susan dan Tasya sampai memerah. Tapi masa bodo lah. Siapa suruh berani menyumpahinya seperti itu. Kan salah mereka sendiri.Â
"Nania, bisa tidak sih kau jangan menganiaya kami ketika sedang marah? Tadi kalau kepalaku sampai gegar otak bagaimana?" kesal Susan.Â
"Biar saja. Menurutku itu malah bagus!" sahut Nania acuh.Â
"Masa bodo. Itu derita kalian karena sudah mau berteman dengan gadis bar-bar sepertiku. Kalau tidak suka, pergi saja sana cari teman yang baru. Aku tidak keberatan di tinggal pergi oleh kalian!"
Dan ketika Susan dan Tasya hendak membalas perkataan Nania, tiba-tiba saja Krystal dan personilnya datang menghampiri mereka. Nania yang melihat musuh bebuyutannya muncul pun langsung mencebik tak suka. Hatinya sedang sangat bahagia sekarang, jadi dia tidak berselera meladeni wanita-wanita pengidap penyakit hati seperti kakak seniornya ini.Â
"Hmmm, sepertinya ada yang baru saja mempunyai kekasih di sini. Apa benar begitu, Nania?" tanya Krystal sambil tersenyum penuh ejek. Sejak semalam semua pria yang ada di kampus ini di buat geger oleh unggahan foto Nania yang tengah dipeluk oleh seorang pria misterius. Ketika di awal melihat foto itu, sebenarnya Krystal merasa sedikit tidak asing dengan jas yang di pakai oleh kekasih barunya Nania. Dan demi membuktikan kalau pemikirannya tidaklah benar, Krystal memutuskan untuk menghampiri gadis ini guna untuk mencaritahu kebenarannya.Â
"Matamu kan tidak buta, masa hal seperti itu saja masih harus bertanya padaku. Kenapa? Jangan bilang kau tidak mengikuti akun media sosialku ya?" jawab Nania dengan nada mengejek. Dia sudah bisa mencium aroma-aroma pelakor di diri kakak seniornya ini.Â
__ADS_1
"Cihhh, apa untungnya aku mengikuti orang sepertimu. Kurang kerjaan saja!" sahut Krystal seraya mencebik acuh. Padahal sebenarnya dia itu mengikuti apapun yang di ikuti oleh Nania. Namun karena gengsi di hadapan teman-temannya, Krystal dengan sengaja berkata bohong. Krystal mana mungkin rela membiarkan orang-orang ini tahu kalau dia begitu penasaran terhadap semua hal yang dilakukan oleh bunga kampus ini.Â
Melihat sikap Krystal yang begitu angkuh membuat Nania menyeringai tipis. Hanya orang-orang bodoh yang akan mempercayai ucapannya begitu saja. Dan sayangnya Nania bukan termasuk dalam golongan orang-orang bodoh tersebut. Karena apa? Karena Nania tahu dengan sangat jelas kalau Krystal itu diam-diam selalu mengamati kesehariannya lewat akun media sosialnya. Ini bisa Nania ketahui karena buktinya Krystal bisa tahu tentang dia yang mempunyai kekasih baru.Â
"Kenapa menatapku seperti itu? Tidak pernah melihat gadis cantik ya?" tanya Krystal merasa menang ketika Nania terus menatapnya lekat.Â
"Apa kau bilang? Gadis cantik?"
Setelah berkata seperti itu Nania, Susan dan juga Tasya tertawa terbahak-bahak. Dan hal ini rupanya membuat Krystal merasa tersinggung. Dengan marah Krystal menyambar gelas minuman yang ada di hadapan Nania kemudian ingin menyiramkannya ke wajah gadis-gadis kurang ajar ini. Namun sebelum sempat Krystal melakukan keinginannya itu, tangan Krystal sudah lebih dulu di tangkap oleh Nania.Â
"Dengarkan aku baik-baik, Krystal. Jangan sesekali kau pernah terpikir untuk menyakiti aku dan kedua sahabatku. Karena apa? Karena aku bisa saja melakukan sesuatu yang jauh lebih buruk dari apa yang akan kau lakukan terhadap kami. Cukup dengan kau yang selalu mencari gara-gara denganku, tidak dengan hal semacam ini!" ucap Nania sambil berusaha menahan kemarahannya. "Di kampus kau boleh saja menjadi seniorku. Tapi di luar kampus, kau dan aku sama-sama hanya seorang gadis biasa. Jadi berhati-hatilah dalam berkata dan memainkan tanganmu. Karena itu bisa mendatangkan sesuatu yang buruk dalam hidupmu. Paham!"
"Apa kau sedang mengancamku?" kesal Krystal sambil berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman tangan Nania. Jujur, dia sebenarnya sedikit ngeri melihat cara Nania menatapnya. Akan tetapi berusaha Krystal tahan karena dia tak ingin merasa malu di hadapan teman-temannya karena sudah kalah dengan junior mereka.Â
"Anggap saja seperti itu, dan jangan lupakan tentang aku yang adalah seorang atlet bela diri. Percaya tidak kalau hanya dengan satu tinju dariku, aku bisa membuat tulang hidungmu patah menjadi dua. Mau mencobanya, hem?" tanya Nania seraya tersenyum lebar. Dia lalu menghempaskan tangan Krystal dengan kasar, kemudian mengajak Susan dan Tasya untuk segera pergi dari sana. "Ayo kita pindah ke tempat lain saja. Mataku sakit setelah melihat wajah jelek nenek sihir ini!"
Susan dan Tasya kompak mengangguk. Mereka segera mengikuti langkah Nania setelah menjulurkan lidah pada Krystal dan teman-temannya. Puas sekali mereka menyaksikan kakak senior angkuh itu kalah telak di tangan Nania. Hehe, memangnya enak di sikat oleh juniornya sendiri. Angkuh sih.Â
Awas saja kau, Nania. Aku pasti akan membuat perhitungan atas penghinaan yang telah kalian lakukan hari ini. Dasar sialan, geram Krystal dalam hati.Â
__ADS_1
******