
📢📢📢 BESTIE, JANGAN LUPA DUKUNGANNYA YA SUPAYA JOVAN DAN NANIA BISA MENANG DI LOMBA DI WRITER SEASON 8. OKE 💜💜💜
***
Krystal dengan marah melemparkan tasnya ke atas kasur begitu dia sampai di rumah. Wajahnya yang biasanya terlihat putih bersih kini nampak berubah menjadi merah padam karena terbakar amarah. Ah, ya, itu benar sekali. Akibat dari menyebarkan video berisi aib Nania, Krystal dan teman-temannya dilaporkan ke dekan kampus oleh Marcell dan para mahasiswa yang tadi ikut menjadi saksi dari video yang tersimpan di dalam kamera milik Sintia. Sungguh, tidak sedikitpun Krystal menyangka kalau tindakannya ini akan berakibat cukup fatal hingga membuatnya harus rela menanggung rasa malu . Dan untung saja Krystal memiliki orangtua yang cukup berpengaruh, jadi pihak kampus bersedia meringankan hukumannya dari di keluarkan dari kampus menjadi sanksi skorsing selama dua minggu. Tidak hanya itu saja. Krystal tadi juga diminta untuk melakukan permintaan maaf di hadapan seluruh mahasiswa dan berjanji untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama di kemudian hari. Memalukan sekali bukan? Dan ini semua terjadi gara-gara Nania.
"Aku benar-benar sangat membencimu, Nania. Bagaimana bisa kau memutarbalikkan keadaan hingga membuatku yang harus dipermalukan di hadapan seluruh penghuni kampus? Licik, kau benar-benar manusia paling licik yang ada di dunia ini, Nania. Aku membencimu!" teriak Krystal penuh emosi. Sesaat kemudian Krystal terhenyak kaget saat dirinya menyadari sesuatu yang mengganjal. "Tunggu-tunggu. Seharusnya video yang ada di dalam kamera itu berisi rekaman video Nania yang sedang menangis ketakutan di dalam ruang latihan. Tapi bagaimana bisa videonya berganti menjadi percakapanku saat sedang menunggu Sintia mengambil kameranya. Aneh. Apa jangan-jangan Nania sudah tahu ya kalau aku ingin mengerjainya? Makanya dia bisa dengan mudah memutar-balikkan keadaan. Sial!"
Penasaran akan hal tersebut, Krystal memutuskan untuk menghubungi Sintia saja. Dia ingin tahu apakah kamera itu benar miliknya atau bukan. Karena jika dugaannya sampai terbukti benar, maka Krystal akan langsung membuat perhitungan dengan Nania. Dia tak terima dipermalukan seperti ini.
"Ayo angkat panggilanku, Sin!" ucap Krystal tak sabar menunggu. Dia berjalan mondar-mandir sambil mengigit ujung jari tangannya.
Tepat setelah Krystal melakukan panggilan yang ketiga kalinya, Sintia akhirnya merespon. Namun baru juga Krystal hendak membuka mulutnya untuk bicara, dia sudah lebih dulu dibuat kaget mendengar suara isakan lirih yang berasal dari dalam telepon. Sintia menangis. Ya, Krystal yakin akan hal itu.
"Sin, kau kenapa? Kau baik-baik saja 'kan?" tanya Krystal cemas. Dia lalu berjalan ke arah ranjang, duduk di tepian kasur sembari menunggu Sintia menjawab pertanyaannya. "Sin, apa yang terjadi padamu? Ayo jawab. Jangan membuatku cemas begini!"
__ADS_1
"Krystal, mungkin ini adalah terakhir kalinya kita bisa berhubungan. Ayah dan Ibuku marah besar setelah mereka tahu tentang kejadian tadi siang. Dan sebagai hukumannya mereka akan memindahkanku kuliah ke luar negeri. Mereka tidak mau aku terus berteman dengan orang yang bisa membawa pengaruh buruk untuk masa depanku. Tolong maafkan aku ya,"
Wajah Krystal langsung pias begitu mendengar penuturan Sintia. Dan wajahnya semakin bertambah buruk saja saat Sintia memutuskan panggilan secara sepihak. Krystal sungguh tak mengira kalau kejadian di kampus tadi akan sampai membuat kedua orangtua Sintia memindahkannya ke luar negeri. Merasa tak terima akan apa yang terjadi pada temannya, dengan marah Krystal melangkah keluar dari dalam kamar. Dia berniat mencari Nania dan membuat perhitungan dengannya. Namun begitu Krystal membuka pintu kamar, dia di kejutkan oleh kemunculan sang ibu yang seperti sedang ingin mengetuk pintu kamarnya.
"Ibu, apa yang sedang Ibu lakukan di depan kamarku?" tanya Krystal agak sedikit takut. Dia khawatir sang ibu akan memarahinya karena kejadian di kampus tadi.
"Krys, baru saja Ayahmu menelpon Ibu dan mengabarkan kalau kau di skorsing selama dua minggu gara-gara ketahuan membully juniormu di kampus. Bisa tolong kau jelaskan pada Ibu tidak apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Aileen sembari menatap lekat wajah putrinya yang terlihat gugup.
"Bu, kejadian yang sebenarnya itu tidak seperti yang Ayah dan Ibu dengar. Memang betul kalau aku dan teman-temanku di hukum oleh pihak kampus, tapi itu semua terjadi karena kami di fitnah. Junior yang mengaku menjadi korban bully kami adalah pelaku yang sebenarnya. Sungguh!" jawab Krystal mencoba memutarbalikkan fakta. Dia lalu meraih tangan sang ibu kemudian menggenggamnya dengan sangat erat. "Bu, aku ini terlahir dari keluarga baik-baik. Apakah menurut Ibu mungkin untukku melakukan perbuatan yang bisa membuat nama baik keluarga kita tercoreng? Tidak kan, Bu?"
"Maksudnya bagaimana, Krystal? Ibu malah jadi bingung. Pihak kampus menghubungi Ayahmu dan mengatakan kalau kau dan teman-temanmu telah membully salah seorang junior dengan cara menguncinya di salah satu ruangan lalu menyebarkan videonya ke seluruh mahasiswa. Juga ada bukti percakapan tentang kau yang sedang merencanakan pembullyan itu. Ayahmu marah besar, lalu meminta Ibu untuk meminta penjelasan darimu. Dan sekarang kau bilang itu hanya fitnah. Ibu benar-benar tidak mengerti, Krys," ucap Aileen yang malah bingung sendiri setelah mendengar penjelasan dari putrinya.
Kali ini aku tidak akan membiarkanmu selamat begitu saja, Nania. Mari kita lihat apa yang akan terjadi nanti setelah aku memberitahu Ayah dan Ibuku kalau kau telah memfitnahku. Heh, tunggu saja, batin Krystal penuh kemenangan.
Aileen mendengarkan dengan seksama penuturan putrinya yang tengah menjelaskan tentang kejadian yang sebenarnya. Dia lalu membelalak tak percaya saat Krystal mengatakan kalau dirinya telah menjadi korban fitnah dari junior yang mengaku sebagai korban bully.
__ADS_1
"Ya ampun, Krys. Kalau begini ceritanya berarti pihak kampus telah salah menuduhmu. Apa mereka tidak memeriksa dengan teliti dulu sebelum menjatuhkan hukuman padamu dan juga pada teman-temanmu? Ya Tuhan," ujar Aileen tak percaya.
"Percuma, Bu. Bukti rekaman itu membuat kami tidak bisa mengelak. Padahal saat itu kami hanya sedang iseng bercanda saja. Dan gara-gara masalah ini Sintia sampai dipindahkan ke luar negeri oleh orangtuanya. Mereka menganggap kalau aku membawa pengaruh buruk untuk masa depan Sintia. Sekarang aku benar-benar sedang sangat sedih, Bu. Selain menerima hukuman dari kampus, aku juga kehilangan satu teman baikku. Ternyata memang benar kalau fitnah itu jauh lebih kejam dari pembunuhan. Hehhh," ucap Krystal pura-pura bersedih.
"Jangan khawatir sayang. Karena kau yang menjadi korban, maka Ibu tidak akan tinggal diam. Ayahmu perlu tahu kejadian yang sebenarnya!" geram Ailen tak terima putri kesayangannya bersedih seperti ini. "Sekarang kau istirahat saja ya. Ibu akan pergi ke perusahaan Ayahmu dulu untuk menjelaskan masalah ini. Dan ... tadi siapa nama junior yang telah memfitnahmu? Nana?"
"Namanya Nania. Dia ... temannya Jovan," jawab Krystal enggan menyebut kalau Nania adalah kekasihnya Jovan. Dia tak mau ibunya mengetahui hal ini.
"Nania. Baiklah. Kalau begitu Ibu pergi dulu ya. Kau istirahat saja di kamar. Oke?"
"Terima kasih banyak, Ibu. Terima kasih karena sudah percaya padaku. Aku sayang sekali pada Ibu," ucap Krystal sambil memeluk sang ibu sebelum pergi.
"Sama-sama, sayang. Kau putri kesayangan Ibu, sudah pasti Ibu akan lebih mempercayaimu ketimbang mempercayai orang lain. Tenang saja. Ibu janji Ibu dan Ayah akan mencarikan keadilan untukmu agar secepatnya kau bisa kembali masuk ke kampus seperti biasa. Ibu pergi ya?"
Dengan berpura-pura tak rela, Krystal akhirnya melepas pelukannya. Dia lalu tersenyum kecil saat sang ibu mencium pipinya sebelum keluar dari dalam kamar. Dan begitu pintu tertutup, raut sedih di wajah Krystal langsung berubah.
__ADS_1
"Heh, sebentar lagi kau akan segera tahu siapa Krystal sebenarnya, Nania. Karena setelah ini Ayah dan Ibuku pasti akan membuatmu di depak dari kampus. Malang sekali," ujar Krystal seraya tersenyum licik. Setelah itu dia berbaring, menikmati detik-detik kemenangannya dengan hati yang begitu senang.
***