My Sugar Daddy ( Nania)

My Sugar Daddy ( Nania)
14. Semanis Madu


__ADS_3

📢📢📢 BOM KOMENTARNYA BESTIE 💜


***


Jovan mengerjap-ngerjapkan mata saat Nania terus memandanginya tanpa kedip. Dia merasa aneh, juga terkesima karena gadis ini manatapnya sambil tersenyum manis. Saking manisnya sampai mengalahkan manis madu yang pernah Jovan rasakan. Hehe. 


"Jovan, kenapa kau tampan sekali sih," ucap Nania mulai menebar rayuan mautnya. "Teman-temanku pasti akan sangat heboh jika mereka tahu aku telah menemukan seorang sugar daddy yang kaya raya dan juga tampan sepertimu!"


"Hmmm, manis sekali ya kata-katamu, Nania. Aku jadi malu," sahut Jovan dengan bangga meladeni rayuan Nania. Dia juga tidak sebodoh itu sampai tidak menyadari kalau gadis ini belum sepenuhnya menyukainya. Jovan sadar betul kalau Nania hanya terobsesi pada status sugar daddy yang selama ini dia cari-cari, dan kebetulan kriteria tersebut ada pada dirinya. Namun, Jovan sama sekali tak mempedulikan apakah Nania memiliki rasa padanya atau tidak. Yang penting mereka bisa terus dekat seperti ini. Masalah yang lainnya masa bodo. 


"Aih, jangan sok malu-malu begitulah, Jo. Aku jadi geli melihatnya,"


Setelah berkata seperti itu Nania terkejut sendiri. Susah payah dia menjaga image agar Jovan tidak lari darinya, tapi apa yang baru saja dia ucapkan? 


Ya ampun, Nania. Kurang-kurangilah kejujuran mulutmu itu. Bisa gawat nanti kalau Jovan sampai merajuk kemudian tak mau mendekatimu lagi. Kau bisa rugi besar bodoh, batin Nania mengomeli dirinya sendiri. 


"Nania, boleh aku bertanya satu hal padamu?" tanya Jovan. Kali ini dia bicara dengan mimik wajah yang begitu serius. 


"Boleh-boleh saja. Memangnya kau ingin bertanya tentang apa, Jo?" jawab Nania penasaran. 


"Tentang kita."


"Kita?"


Kedua alis Nania saling bertaut. Dia lalu menatap lekat ke arah Jovan yang juga tengah menatapnya. "Memang ada apa dengan kita, Jo?"


"Itulah yang ingin aku tanyakan padamu, Nania. Kau tahu bukan kalau di antara kita belum ada hubungan apa-apa? Dan sekarang aku ingin memperjelas hubungan tersebut!" sahut Jovan dengan pasti. 

__ADS_1


Sebelum lanjut berbicara, Jovan mengendurkan dasinya terlebih dahulu. Ternyata duduk berduaan dengan Nania membuat suasana menjadi gerah. Belum lagi dengan Jovan yang ingin memastikan kedekatan mereka, membuat pori-pori di tubuhnya memproduksi keringat jauh lebih banyak dari yang biasanya. Jovan gugup maksudnya, hehehee. 


"Nia, kau tahu tidak alasan mengapa aku langsung menemuimu begitu kembali dari London?" tanya Jovan. 


"Em, tunggu-tunggu. Jangan bilang saat pertama kali kau muncul di kafe itu, kau baru saja kembali dari London. Apa aku benar?" sahut Nania balik bertanya. 


"Ya, kau benar. Waktu itu aku bahkan belum pulang ke rumah dan lebih memilih untuk menemuimu lebih dulu," jawab Jovan jujur. "Dan apa kau tahu alasan di baliknya?"


"Tidaklah. Kau pikir aku mempunyai indra ke enam yang bisa menebak isi hati orang lain apa. Tapi wajar saja sih kalau kau bisa sampai berbuat seperti itu. Aku maklum!"


"Aku merindukanmu," ucap Jovan dengan cepat. 


Nania tercekat. Matanya sampai membeliak lebar saking kagetnya mendengar pengakuan Jovan. 


"Dan ... aku menyukaimu!" lanjut Jovan lagi. "Sebenarnya rasa ini sudah ada sejak kau menghajarku di rumah sakit. Hari itu aku serasa di sadarkan oleh kenyataan kalau orang yang sebenarnya aku sukai itu bukan Luri, tapi kau. Aku sangat menyukaimu, Nania. Semua yang ada di dirimu, aku menyukainya. Sungguh!"


Rahang Nania seakan jatuh ke lantai mendengar pengakuan bertubi-tubi yang keluar dari mulut Jovan. Dia benar-benar tidak menyangka kalau Jovan memiliki rasa seperti itu terhadapnya. 


"Jovan, kau sadar kan dengan apa yang baru saja kau katakan?" tanya Nania. Dia lalu menempelkan punggung tangannya ke kening Jovan, lalu setelahnya Nania menempelkan punggung tangannya ke bagian bokong guna untuk membandingkan suhu panas di tubuh mereka. "Em, panasnya normal. Berarti kau tidak sedang demam sekarang!"


Jovan terperangah syok melihat apa yang baru saja dilakukan oleh Nania. Lalu sedetik kemudian Jovan tersenyum lebar. Dia lega karena reaksi Nania tidak se-ektrim yang dia bayangkan. 


"Jadi Nania, apa jawabanmu?"


"Tentu saja aku akan menjawab iya, Jovan. Ya kali aku akan menolak pernyataan cinta dari seorang sugar daddy sepertimu," sahut Nania sembari menepuk kuat pundaknya Jovan. Dia lalu menyeringai. "Ingat ya. Mulai malam ini kau sudah resmi menjadi milikku. Jadi berhati-hatilah karena aku tidak akan membiarkanmu mendekati gadis lain. Paham?"


Ingin heran, tapi yang baru saja bicara adalah Nania. Jovan sampai tak habis pikir dengan sikap gadis yang baru sedetik lalu menjadi kekasihnya. Bukankah seharusnya dialah orang yang mengucapkan kata seperti itu? Tapi ini kenapa malah Nania yang bersikap posesif lebih dulu? Aneh. 

__ADS_1


"Jovan, kenapa kau diam saja. Kau mengerti tidak?" cecar Nania sambil menatap galak ke arah Jovan yang sedang diam terbengang. 


"Ekhmmm, Nania. Di mana-mana seharusnya pihak pria-lah yang akan memberi aturan seperti itu. Akulah yang seharusnya berkata kalau aku tidak akan membiarkanmu mendekati laki-laki lain. Bagaimana sih!" protes Jovan. 


"Hei, memang apa salahnya kalau aku yang bicara seperti itu. Sadar, Jovan. Sekarang sudah bukan zamannya lagi apa-apa harus pria dulu yang di utamakan. Kami para wanita juga berhak melakukan apa yang biasanya para pria lakukan. Jadi tolong ke depannya nanti kau jangan pernah memprotes apa yang akan aku katakan. Karena apa? Karena kekasihmu bernama Nania, bukan wanita lain. Paham?!"


Hati Jovan bagai meleleh saat Nania menyebut dirinya sebagai kekasih. Sungguh, Jovan sama sekali tidak menyangka kalau dia akan langsung mendapatkan cinta gadis ini begitu mengungkapkan perasaannya. Ternyata tidak sia-sia juga dia mensucikan diri dengan tidak berpacaran karena sekarang cinta yang dia jaga tidak bertepuk sebelah tangan. Benar-benar sangat hebat. Haha. 


"Em, Jovan. Karena sekarang kita sudah berpacaran, boleh tidak kalau sesekali aku datang berkunjung ke perusahaanmu? Selama ini kan aku selalu menolak para pria dengan alasan hanya akan berpacaran dengan sugar daddy yang kaya dan juga tampan. Jadi aku membutuhkan beberapa bukti agar mereka tidak melakukan protes saat tahu aku telah memiliki seorang kekasih. Bagaimana, boleh tidak?" tanya Nania seraya memasang senyum semanis mungkin. Dia sudah tidak sabar ingin pamer pada teman-teman sekampusnya. 


"Boleh, tentu saja sangat boleh, Nania. Kau bebas datang berkunjung kapanpun kau mau," jawab Jovan dengan penuh semangat. 


"Aaa, kau baik sekali sih,"


"Oh, tentu saja harus. Sekarang kan kau kekasihku, masa iya aku akan bersikap jahat padamu. Tidak mungkin lah,"


Nania tersipu. Ternyata aneh juga ya berbincang dengan pria yang telah resmi menjadi kekasih hati. Tak lama kemudian Nania terpikir untuk mengabadikan moment membahagiakan ini ke media sosialnya. Nania perlu memberi tahu semua orang kalau sekarang dia telah mempunyai seorang sugar daddy yang sangat sesuai dengan kriterianya. 


"Jo, berposelah sekeren mungkin. Aku ingin mengambil selfie kita berdua dan mengunggahnya ke akun media sosialku," ucap Nania sambil mengarahkan kamera ke depan wajahnya. Setelah itu Nania merapatkan tubuhnya ke tubuh Jovan, sengaja berpose semesra mungkin agar orang-orang yang sirik padanya merasa kepanasan. 


Diminta seperti itu oleh sang pujaan hati membuat Jovan segera mengalungkan sebelah tangan ke pinggang ramping Nania. Lalu sebelah tangannya lagi dia gunakan untuk mengelus rambut panjang kekasihnya ini. Jovan kemudian tersenyum dan ... 


Tanpa di sadari oleh Jovan dan Nania, tingkah mereka diam-diam di perhatikan oleh kakak dan juga ibu Nania. Kedua orang ini tampak menarik nafas panjang melihat kelakuan Nania yang terus meminta Jovan untuk merubah pose foto mereka. 


"Lusi, Ibu jadi khawatir pada Jovan. Bagaimana kalau dia sampai merasa tertekan mempunyai kekasih seaktif Nania ya?" tanya Nita cemas. 


"Sepertinya itu tidak mungkin terjadi, Bu. Lihat saja mereka. Jovan malah terlihat sangat bahagia melakukan apa yang diminta oleh Nania. Mereka itu kan sudah lama saling mengenal, dan aku rasa Jovan sudah cukup hafal dengan tingkah laku Nania. Jadi Ibu tidak usah terlalu mengkhawatirkan Jovan ya. Aku yakin dia pasti baik-baik saja," jawab Lusi sambil menahan tawa. 

__ADS_1


Nita menghela nafas. Dia lalu mengajak Lusi untuk bergabung dengan yang lain, membiarkan Jovan dan Nania asik dengan tingkah mereka sendiri. 


******


__ADS_2