
📢📢📢 BESTIE, JANGAN LUPA DUKUNGANNYA YA SUPAYA JOVAN DAN NANIA BISA MENANG DI LOMBA DI WRITER SEASON 8. OKE 💜💜💜
***
Nania mengerutkan keningnya saat keluar dari dalam kelas. Dia bingung dan juga heran melihat cara orang-orang menatapnya. Aneh. Ada apa ini?
“Susan, Tasya. Kenapa ekpresi mereka terlihat aneh semua ya? Memangnya ada yang salah dengan penampilanku sampai mereka menatapku seperti itu?” bisik Nania bertanya pada kedua sahabatnya.
“Ck, kau ini bagaimana, Nania. Semua orang menatap aneh ke arahmu karena mereka telah melihat video yang disebarkan oleh Krystal. Bagaimana sih!” sahut Susan setengah menggerutu saat menjawab pertanyaan Nania. Bisa-bisanya anak ini lupa akan penyebab kenapa semua orang jadi bersikap aneh begini. Haihhh.
“Oh, iya juga ya. Ya maaf sih, namanya juga lupa,” sahut Nania. Setelah itu bibirnya berkedut, merasa konyol akan trik bodoh yang dimainkan oleh Krystal dan teman-temannya. “Hehehe, aku yakin sekali sekarang perawan tua itu pasti sedang tertawa kesenangan karena merasa telah berhasil mengalahkan aku. Heh, Krystal tidak tahu saja kalau permainan ini akan menjebaknya sendiri. Dasar bodoh!”
“Sttt, jangan keras-keras. Ada dinding yang bisa menguping,” ucap Tasya sembari menggerakkan dagu ke arah seseorang yang sedang berdiri membelakangi mereka. Sintia, mata-mata dari kubu lawan ada di sana.
Nania dan Susan langsung diam begitu mendapat peringatan dari Tasya. Setelah itu Nania dengan santainya mengajak Susan dan Tasya berjalan melewati para mahsiswa yang masih menatap Nania dengan pandangan aneh. Masa bodo, kan memang ini yang di harapkan oleh Nania. Hehehe.
“Nania, tunggu!”
Langkah Nania langsung terhenti saat ada seseorang yang berteriak memanggilnya. Dia kemudian berbalik, menatap aneh pada seorang mahasiswa yang sedang berlari menuju ke arahnya.
“Dia siapa ya? Kenapa tiba-tiba memanggilku?” gumam Nania bingung. Sedetik kemudian Nania memekik kaget saat Susan mencubit lengannya. “Ck, apa-apaan kau, Susan. Kenapa mencubitku? Kalau kulitku rusak bagaimana?”
“Halah, mana mungkin kulitmu rusak hanya karena sebuah cubitan. Berlebihan kau, Nania,” sahut Susan sambil berdecak sebal. Dia lalu berbisik di samping telinga Nania saat ingin memberitahunya tentang mahasiswa yang kini sudah berdiri di hadapan mereka. “Mahasiswa ini namanya Marcell. Dia adalah orang yang telah memberitahu kita tentang Sintia yang tiba-tiba menanyakan jadwal latihanmu. Dan aku harap kau tidak lupa kalau kau telah berjanji akan mengajak Marcell makan malam bersama sebagai ucapan terima kasih darimu. Kau ingat itukan, Nania?”
“Ha? Aku berjanji seperti itu padanya?” kaget Nania yang kembali melupakan janji yang dia buat sendiri. Dia lalu tersenyum saat mahasiswa yang bernama Marcell ini menatapnya dengan sangat lekat.
“Iya. Awas saja kalau kau sampai mengingkari janji yang kau buat sendiri, Nania. Aku bersumpah akan menggunduli kepalamu sampai benar-benar botak. Mau kau!”
__ADS_1
Setelah mengancam Nania, Susan berdehem cukup kuat dengan maksud menyadarkan Marcell dari keterpesonaannya. Dia lalu menyikut pelan pinggang Nania, memberi kode agar sahabatnya ini segera menanyakan alasan kenapa Marcell memanggilnya.
“Ekhmmm, hai Marcell. Apa kabar?” tanya Nania berbasa-basi menyapa.
“A … em kabarku sangat baik, Nania,” jawab Marcell gugup. Dia lalu memberanikan diri untuk balik bertanya pada bunga kampus yang sangat luar biasa cantik ini. “Nania, pipimu kenapa?”
“Hah, tolong jangan bahas masalah ini dulu, Marcell. Karena hal itu membutku merasa sangat sedih,” sahut Nania seraya mengelus plaster yang tertempel di pipinya. “Oya, Cell. Kau tadi kenapa memanggilku. Apa kau berniat menanyakan kapan aku akan mengajakmu pergi makan malam?”
Marcell langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat saat Nania salah mengartikan kedatangannya. Setelah itu Marcell segera memperlihatkan video yang ada di ponselnya. Tujuannya datang mencari Nania adalah untuk memberitahunya kalau ada seseorang yang telah menyebarkan video tentangnya ke semua mahasiswa di kampus ini. Dan sebagai pengagum seorang Nania, Marcell jelas tidak terima. Dia khawatir gadis cantik ini akan di bully setelah videonya yang sedang menangis ketakutan tersebar ke seluruh pelosok kampus. Jadilah Marcell segera menemui Nania guna membahas tentang video tersebut.
“Astaga, siapa yang telah menyebarkan video ini, Cell?” pekik Nania pura-pura kaget sambil menutup mulutnya.
“Aku tidak tahu, Nania. Yang jelas orang yang menyebarkannya pasti kuliah di sini karena ruangan yang ada di dalam video itu adalah ruangan tempat kau dan para mahasiswa lain berlatih bela diri,” jawab Marcell iba melihat keterkejutan Nania.
“Pantas saja saat keluar dari dalam kelas tadi semua mahasiswa menatapku dengan pandangan yang sangat aneh. Ternyata ini penyebabnya,”
“Aku inikan hanya manusia biasa. Memangnya tidak boleh ya kalau aku memiliki rasa takut pada kegelapan?” tanya Nania pada semua mahasiswa yang sedang mengerumuninya. “Kalau boleh meminta, aku juga tidak mau menyimpan rasa trauma yang mengerikan itu. Setiap kali aku berada di dalam ruangan yang gelap, aku pasti akan langsung menangis ketakutan dan sulit bernafas. Dan kemarin saat aku baru akan keluar dari ruang latihan tiba-tiba lampunya mati dan pintunya terkunci dari luar. Awalnya aku pikir itu karena ketidaksengajaan, tapi ternyata bukan. Aku di bully lagi!”
Marcell dan para mahasiswa yang ada di sana langsung menebak-nebak siapa orang yang dengan begitu tega membully Nania hingga ketakutan seperti ini. Lalu salah satu dari mereka menyebutkan saebuah nama yang langsung membuat Nania cs tersenyum kecil.
Haha, kena kau, Krystal. Rasakan pembalasanku setelah ini, batin Nania kesenangan.
“Hei, ada apa ini. Kenapa kalian menyebut-nyebut namaku?”
Krystal yang baru saja datang langsung menatap heran pada semua mahasiswa yang sedang membicarakan namanya. Setelah itu pandangan Krystal beralih pada Nania, dia lalu mengerutkan keningnya bingung.
“Krystal, kemarin ada orang yang dengan sengaja membully Nania saat dia sedang berada di ruang latihan. Apa itu kau?” tanya salah satu mahasiswa sambil menatap penuh curiga ke arah Krystal.
__ADS_1
“A-apa kau bilang?”
Mata Krystal membulat lebar saat dirinya dituduh secara terang-terangan sebagai orang yang telah membully Nania. Ya meskipun tuduhan itu benar adanya, Krystal sungguh tak menyangka akan dijadikan sebagai tersangka oleh para mahasiswa ini. Sungguh, ini sangat melenceng jauh dari perkiraannya. Padahal tujuan Krystal datang kemari adalah untuk melihat Nania dipermalukan, tapi kenapa sekarang keadaannya jadi berbalik begini? Apa yang sebenarnya terjadi?
“Sudahlah,lebih baik kau mengaku saja, Krys. Lagipula ini bukan pertama kalinya kau membully Nania kami. Iya kan teman-teman?” imbuh Marcell sambil melayangkan tatapan benci pada Krystal yang terlihat syok.
“Iya, benar. Waktu itu kau juga membully Nania di parkiran kampus. Jadi sudah pasti pelaku pembullyan ini adalah kau, Krys. Kau dan teman-temanmulah yang telah menyebarkan video ini. Ayo mengaku saja kau!”
Sintia langsung memegangi tasnya dengan sangat erat ketika para mahasiswa ini malah balik menyerang Krystal. Bisa gawat jika kamera yang dia gunakan untuk merekam Nania sampai dilihat oleh mereka semua. Sintia dan yang lainnya bisa terkena sanksi berat dari pihak kampus jika sampai terbukti telah melakukan tindakan bully terhadap junior mereka sendiri.
“Kalian jangan asal menuduh ya. Aku memang tidak menyukai Nania, tapi bukan berarti aku akan membullynya seperti yang kalian tuduhkan. Itu fitnah, jangan sembarangan menuduh!” sahut Krystal berusaha membela diri. Dia benar-benar sangat panic sekarang.
Tak mau tinggal diam, Susan segera maju mendekat ke arah Sintia yang terlihat paling gelisah di bandingkan teman-temannya yang lain. Sambil bersedekap tangan, Susan pun mulai mencecar Sintia hingga membuatnya pucat dan ketakutan.
“Sintia, kenapa kau memegangi tasmu dengan begitu erat? Apa yang sedang kau sembunyikan di sana?” tanya Susan pura-pura penasaran.
“Aku tidak menyembunyikan apa-apa di dalam tasku. Ini hanya … hanya …
Sintia gugup. Dan kegugupannya semakin bertambah parah saat semua mata tertuju padanya. Marcell yang menyadari ada yang ingin di sembunyikan oleh Sintia memutuskan untuk merebut tasnya. Segera dia membuka tas milik Sintia dan melihat apa isi di dalamnya.
“Kamera?” gumam Marcell seraya mengangkat sebuah kamera ke hadapan semua orang.
Senyum kemenangan langsung menghiasi bibir Nania, Susan dan juga Tasya begitu Marcell menemukan barang bukti yang akan membongkar kebusukan Krystal dan teman-temannya. Setelah itu Nania diam-diam mengacungkan jempol ke arah dua sahabatnya sembari menunggu Marcell melihat isi di dalam kamera tersebut.
Surprise, ujar Nania dalam hati.
***
__ADS_1