
📢📢📢 BESTIE, JANGAN LUPA DUKUNGANNYA YA SUPAYA JOVAN DAN NANIA BISA MENANG DI LOMBA DI YOU ARE A WRITER SEASON 8. OKE 💜💜💜
***
“Hei gadis genit. Mau pergi kemana kau sore-sore begini?”
Gleen menyeringai lebar saat orang yang dia panggil dengan sebutan gadis genit menghentikan langkahnya. Dia kemudian pura-pura acuh saat orang tersebut berbalik badan lalu menatapnya dengan galak. Sudah biasa, jadi Gleen tidak takut lagi.
“Heh, tidak kusangka kakakku telah menikah dengan seorang pengangguran yang hanya jual tampang saja!” ejek Nania tanpa ragu menyebut kakak iparnya sebagai pengangguran. Setelah itu Nania balas menyeringai sambil bersedekap tangan. “Kenapa, kakak ipar? Tidak terima ya kusebut sebagai pengangguran?”
“Tentu saja aku tidak terimalah. Enak saja!” sahut Gleen bersungut-sungut. Entah bagaimana ceritanya Nania selalu saja memiliki kata balasan yang membuatnya kalah telak. Bayangkan saja. Gleen hanya memanggilnya dengan sebutan gadis genit, dan itupun sesuai dengan kenyataannya. Lalu sekarang dia di balas dengan kata-kata yang sangat merendahkan harga dirinya. Pengangguran yang hanya jual tampang, astaga. Gleen benar-benar tak habis pikir pada Nania. Bisa-bisanya anak ini menemukan julukan yang selalu menyesakkan dada. Hmmm, nasib-nasib.
Masih sambil bersedekap tangan, Nania bertanya pada kakak iparnya mengapa sesore ini sudah ada di rumah. Padahal biasanya kakak iparnya ini baru akan pulang dari kantor sekitaran jam tujuh atau jam delapan malam. “Kak Gleen, tumben sekali kau sudah ada di rumah secepat ini. Kenapa? Apa perusahaanmu sudah gulung tikar?” tanya Nania dengan sarkasnya.
“Ck, hati-hati dengan pertanyaanmu, Nania. Kau lupa ya apa kata Ibu kalau ucapan adalah doa. Mau kau punya kakak ipar yang sudah tidak kaya lagi,. ha?” jawab Gleen memprotes jenis pertanyaan yang dilayangkan oleh adik iparnya.
“Tentu saja aku tidak maulah, Kak. Akan sangat memalukan jika aku sampai mempunyai kakak ipar yang hidupnya susah. Amit-amit!” sahut Nania seraya bergidik jijik.
“Ya sudah lain kali jangan mengataiku bangkrut hanya karena aku pulang cepat. Paham kau?”
__ADS_1
Luyan dan Nita yang kala itu tengah bercanda dengan cucu mereka hanya bisa menghela nafas panjang mendengar perdebatan sengit antara Nania dan Gleen. Sudah bertahun-tahun menjadi keluarga, tapi kedua orang ini masih saja tak bisa akur setiap kali bertemu. Gleen dan Nania baru akan terlihat kompak jika sedang membicarakan tentang sesuatu yang berhubungan dengan uang. Saat itulah Luyan dan Nita baru bisa merasa tenang.
“Ini sudah menjelang magrib. Kau mau pergi kemana dengan pakaian seperti itu?” tanya Gleen sambil memperhatikan penampilan Nania yang sudah rapi. Adik iparnya ini mengenakan dres tanpa lengan berwarna hitam dengan panjang hanya sejengkal di bawah pinggang. Sangat luar biasa seksi. Namun karena Nania memiliki kulit yang putih bersih dan juga sepasang kaki yang sangat jenjang, dres tersebut membuatnya jadi terlihat seperti model-model internasional. Belum lagi di dukung dengan wajah Nania yang begitu cantik, membuat adik iparnya ini jadi semakin terlihat menggoda. Bibit yang diturunkan oleh kedua mertuanya memang tidak main-main. Pantaslah jika Gleen begitu mencintai Lusi dan Fedo yang sudah setengah gila dalam mencintai Luri, la wong wanitanya saja memiliki spek bidadari. Dan sepertinya Jovan akan segera menyusul kegilaan mereka dalam mencintai gadis-gadis desa ini. Hemmmm.
“Aku mau makan malam di rumahnya Jovan,” jawab Nania dengan jujur.
“Oh, begitu. Lalu Jovannya mana?"
“Jovan itu bukan pengangguran sepertimu, Kak Gleen. Dia tentu saja masih berada di perusahaannya sedang mengumpulkan pundi-pundi uang untuk membayar biaya perawatan kecantikanku. Kenapa memangnya?”
Nania menaikkan satu alisnya ke atas saat ayah, ibu, dan juga kakak iparnya membelalakkan mata setelah mendengar perkataannya. Aneh. Reaksi orang-orang ini kenapa terlihat seperti orang yang barusaja bertemu dengan hantu. Kan yang di katakan oleh Nania memang benar adanya kalau Jovan itu masih belum pulang dari kantornya. Di mana salahnya coba?
“Yang kau katakan benar semua, Kak Gleen. Aku ingin makan malam di rumahnya Jovan adalah atas kemauanku sendiri dan aku juga akan datang kesana atas dasar keinginanku sendiri. Ada masalah?” sahut Nania merasa tak ada yang aneh dengan apa yang ingin dia lakukan.
“Astaga, Nania. Kau itu adalah seorang wanita. Akan sangat memalukan kalau kau bersikap terlalu agresif seperti ini. Apa kata Ayah dan Ibunya Jovan nanti saat melihatmu tiba-tiba datang ke rumah mereka tanpa ada Jovan bersamamu. Tolong kau pikirkan juga harga diri Ayah dan Ibu, Nania. Jangan sembaranganlah!” tegur Gleen syok melihat bagaimana adik iparnya ini begitu agresif dengan mendatangi kediaman Jovan atas keinginannya sendiri. Nania sepertinya sudah gila.
Saat Nania ingin membalas teguran dari kakak iparnya, ponselnya sudah lebih dulu berdering. Dia lalu tersenyum lebar begitu melihat siapa yang menelpon. Segera Nania menjawab pangilan tersebut dengan begitu mesra tanpa mempedulikan kalau di sana masih ada keluarganya. “Halo, sayang. Kita kan tadi baru saja bertemu, kenapa sudah menelpon? Rindu ya?”
Sungguh, Gleen dan kedua mertuanya sampai menggelengkan kepala melihat Nania yang dengan santainya bermesraan lewat telepon di hadapan mereka. Benar-benar bermental baja. Gleen yakin jika yang ada di posisinya Nania sekarang adalah Lusi atau Luri, mereka pasti tidak akan berani bersikap seterbuka ini. Namun bagi Nania, anak ini sama sekali tak memiliki pantangan apapun. Dan yang lebih mengherankan lagi adalah semua orang tidak ada yang bisa menghentikan kegilaan Nania. Mereka semua sudah pusing tujuh keliling, jadi memutuskan untuk membiarkannya saja selagi masih dalam batas wajar.
__ADS_1
“Jo, sudah dulu ya. Nanti aku kemalaman sampai di rumahmu. Kan tidak lucu kalau bedakku luntur di jalan,” ucap Nania berniat mengakhiri percakapannya dengan Jovan.
“Apa??? Jadi sekarang kau sudah mau pergi ke rumahku? Kenapa tidak menungguku saja, Nania. Lagipula di rumah Ibu dan para pelayan pasti belum selesai menyiapkan menu makan malamnya. Tunggu aku datang menjemputmu saja ya?” bujuk Jovan dari dalam telepon.
“No no no. Justru inilah kesempatanku untuk memperlihatkan bakat lain yang kumiliki, Jo. Juga karena aku ingin mengobrol dulu dengan Rhea. Dia harus tahu kalau kakak iparnya yang cantik ini juga jago memasak selain jago menghajar orang. Sekarangkan Rhea sedang dihukum, aku yakin dia pasti merasa sangat kesepian karena tidak mempunyai teman untuk bertengkar. Sudah dulu ya. Warna lipstikku bisa hilang kalau terlalu lama bicara di telepon. Dahhhhh!”
Nania langsung mematikan panggilan tanpa memberi kesempatan untuk Jovan bicara. Setelah itu Nania memasukkan ponselnya ke dalam tas kemudian tersenyum ke arah keluarganya yang tengah menatapnya dengan pandangan aneh.
“Nania, Ayah akan mengizinkanmu pergi ke rumahnya Jovan dengan syarat kau tidak boleh menyakiti Rhea. Ingat, kau akan Ayah hukum jika Ayah sampai mendengar kau membuat kegaduhan di sana. Paham?” ucap Luyan dengan tegas mengingatkan Nania agar tidak membuat masalah di rumah orang.
“Ck, Ayah ini apa-apaanlah. Walaupun sikapnya Rhea lumayan kasar, tapi aku tidak sejahat itu untuk menyakitinya. Kalaupun di sana nanti kami sampai terlibat pertengkaran, bisa aku pastikan kalau Rhea-lah yang memulainya lebih dulu. Dan yang akan aku lakukan nanti hanyalah untuk melindungi diri saja. Memangnya Ayah sudah lupa ya betapa baiknya aku yang tidak melakukan apa-apa pada Rhea saat dia menodai kecantikanku. Bagaimana sih!” protes Nania saat sang ayah mengancam akan menghukumnya. Menyebalkan.
“Iya Ayah tahu, tapi tetap saja Ayah akan ….
“Ayah, tolong berhenti mengancam. Sudahlah, lebih baik aku pergi sekarang saja!” ucap Nania dengan berani menyela omongan ayahnya. Setelah itu dia berjalan cepat keluar dari dalam rumah sambil mengerutu dengan suara yang cukup keras. “Heran. Siapa anak kandungnya siapa juga yang dibela, seolah aku ini hanyalah anak tiri yang di pungut dari pinggir jalan. Huh!”
Nita dengan lembut mengelus punggung suaminya yang terlihat kesal setelah mendengar gerutuan Nania. Sikap putri bungsunya itu memang agak lain dari sikap kedua kakaknya yang begitu patuh dan penurut, jadi Nita sangat maklum kalau suaminya terlihat frustasi setiap kali berbicara dengan putri bungsu mereka. Namun seperti apapun sikap Nania, mereka tetaplah sangat menyayanginya. Ya meskipun harus memupuk kesabaran setiap hari. Hmmmm.
***
__ADS_1