My Sugar Daddy ( Nania)

My Sugar Daddy ( Nania)
40. Segerombol Dedemit


__ADS_3

📢📢📢 BESTIE, JANGAN LUPA DUKUNGANNYA YA SUPAYA JOVAN DAN NANIA BISA MENANG DI LOMBA DI WRITER SEASON 8. OKE? 💜💜💜


***


Sementara itu di kampus, Nania yang baru saja mendapat pesan dari Jovan terlihat sangat bahagia saat memamerkan isi pesan tersebut kepada Susan dan Tasya. Dia tak henti-hentinya memuji betapa sugar daddy-nya sangat amat perhatian terhadapnya.


"Nania, aku mohon berhentilah memuji Jovan di hadapan kami sebelum aku berkeinginan untuk menjadi orang ketiga dalam hubungan kalian. Kau pikir aku tidak iri apa melihat betapa Jovan sangat perhatian padamu. Ingat, Nania. Saat ini aku dan Tasya sedang tidak mempunyai kekasih, jadi aku sarankan kau pandai-pandailah menjaga sugar daddy-mu itu. Tahu tidak!" protes Susan jengkel melihat kemesraan Jovan dan Nania. Bukan jengkel sih, tapi lebih ke rasa iri dan juga cemburu.


"Sekalipun aku membiarkanmu menjadi orang ketiga, apa kau pikir Jovan akan tertarik padamu, Susan? Tentu saja tidak, sayang. Kau ... masih kalah jauh dariku. Jadi lebih baik kau memohon saja pada Tuhan agar di biarkan untuk bereinkarnasi, kemudian terlahir kembali sebagai Nania versi terbaru. Mungkin saat itulah Jovan baru bisa berpaling dariku. Benar tidak, Sya?" tanya Nania sambil mencolek dagu runcing Tasya yang bagaikan sarang lebah bergantung. Dia lalu tertawa saat Tasya mencubit lengannya pelan.


"Bisa tidak sih kau jangan mencolek daguku saat sedang bicara, Nania. Aku tidak nyaman asal kau tahu!" omel Tasya tak terima. Wajahnya langsung berubah masam.


"Halah, coba saja yang mencolek dagumu adalah pria tampan, aku jamin kau pasti tidak akan protes seperti ini. Iya 'kan?"


Setelah berkata seperti itu Susan, Tasya dan juga Nania tertawa terbahak-bahak. Dan tawa mereka menarik perhatian dari sekelompok mahasiswi yang duduk tak jauh dari mereka. Krystal, ya, itu dia. Krystal dan teman-temannya baru saja datang ke kantin ini, tapi mereka sudah harus melihat keberadaan Nania yang sedang tertawa bahagia bersama kedua sahabatnya. Ini sangat menjengkelkan, terlebih lagi bagi Krystal. Sambil terus menatap ke arah Nania, Krystal mengelus pelan sebelah pipinya. Dia belum bisa melupakan kejadian pagi tadi di mana Nania dengan lancang menyentuh kulit wajahnya menggunakan tangannya yang kotor. Menjijikkan.


"Krys, apa kau hanya akan diam saja setelah apa yang Nania lakukan padamu tadi pagi? Ingat, Krys. Kau itu senior di sini, masa kau kalah sih dengan junior ingusan seperti dia!"


"Kau diamlah. Sejak tadi aku juga sedang memikirkan bagaimana cara untuk membalas gadis sialan itu. Kau pikir aku akan diam saja apa di permalukan seperti itu oleh Nania. Tentu saja tidak. Aku pasti akan membalasnya. Hanya caranya saja yang aku belum tahu!" sahut Krystal sewot mendengar perkataan temannya. Bukan Krystal namanya kalau dia sampai di kalahkan oleh juniornya sendiri. Dia tidak akan tinggal diam.


"Hei, Krys. Nania itu kan sering latihan sendiri saat mahasiswa lain pulang, bagaimana kalau kita kerjai dia saja nanti. Dengar-dengar Nania itu takut gelap, pasti akan sangat lucu jika kita bisa membuatnya menangis ketakutan sampai mengompol di celana. Jangan lupa juga kita pasang beberapa kamera untuk merekam Nania yang sedang ketakutan. Setelah itu kita sebarkan saja videonya di grup kampus. Aku jamin Nania pasti akan di bully oleh semua orang. Benar tidak?"


Ekpresi kesal di wajah Krystal langsung hilang begitu dia mendengar ide dari temannya. Sambil terus mengelus pipinya, Krystal segera mengajak teman-temannya untuk berunding.

__ADS_1


"Di hari apa saja biasanya Nania latihan?" tanya Krystal dengan sangat antusias.


"Kalau ini aku kurang tahu kapan pastinya, Krys. Tapi kau tenang saja, salah satu temanku juga mengikuti kelas bela diri. Nanti aku akan menanyakan jadwal latihan mereka!"


"Sempurna!" ucap Krystal sambil menjentikan jari tangannya. Dia lalu melirik sekilas ke arah Nania yang masih tertawa bersama dengan kedua sahabatnya. "Sekarang kau tertawalah sepuasmu, Nania. Tapi nanti, aku pastikan kau akan menangis darah karena menahan malu. Heh, inilah balasannya karena kau sudah berani kurang ajar padaku. Kita lihat apakah nanti kau masih berani menampakkan wajahmu di kampus ini atau tidak. Dasar murahan!"


Tengkuk Nania tiba-tiba meremang saat angin dingin datang berhembus. Dia yang sedang bercanda bersama Susan dan Tasya seketika terdiam.


"Kau kenapa, Nania?" tanya Tasya sambil menatap Nania yang terlihat seperti orang bingung.


"Hei, kalian tahu tidak penyebab kenapa tengkuk kita bisa tiba-tiba meremang?" tanya Nania sambil menatap bergantian ke arah Susan dan Tasya. Tangannya terus saja mengusap leher bagian belakang. Bulu kuduk Nania berdiri semua.


Di tanya seperti itu membuat Susan dan Tasya saling melempar pandangan. Setelah itu pandangan mereka teralih ke salah satu meja saat mendengar suara tawa cekikikan dari sana.


"Segerombolan dedemit?"


Nania langsung menoleh ke belakang mengikuti arah yang di tunjuk oleh Tasya. Dan di detik selanjutnya Nania langsung memasang wajah ketakutan. Dia kemudian berbalik sambil menangkup wajahnya.


"Susan, Tasya, aku takut sekali. Wajah dedemit itu sangat menyeramkan, tidak cantik dan juga sangat jelek. Tolong selamatkan aku dari dedemit itu!"


"Sialan. Aku pikir kau kenapa, Nania!" umpat Susan yang sempat terkejut melihat ekpresi takut di wajah Nania.


"Tolong aku!" rengek Nania lagi.

__ADS_1


Susan melirik ke arah Krystal yang ternyata sedang melihat ke arahnya. Heh, musuh menyambut. Baiklah, mari kita mulai permainannya.


"Nania, bagaimana keadaan mentalmu sekarang. Kau baik-baik saja kan setelah pagi tadi di bully oleh senior kita. Aku khawatir sekali padamu, Nania. Kalau kau masih merasa tak nyaman, saat pulang nanti aku dan Tasya akan mengantarmu pergi ke psikiater. Masalah bully tidak boleh di anggap enteng, ini adalah masalah yang serius!" teriak Susan dengan sengaja mempermalukan Krystal. Sebagian dari mahasiswa yang sedang berada di kantin mengetahui kejadian di parkiran pagi tadi, jadi Susan bermaksud mengerjai Krystal dengan cara mengungkit kejadian tersebut. Kan lumayan untuk memberikan efek jera padanya. Hehe.


"Hah? Nania di bully oleh senior? Siapa? Yang mana orangnya?"


"Woaaahhh, sepertinya senior itu sudah tidak waras. Berani-beraninya ya dia membully bunga kampus kita. Cari masalah saja."


"Hei, aku tahu siapa senior yang telah membully Nania. Aku bahkan melihat langsung kejadiannya."


"Benarkah? Memangnya di mana kejadian itu berlangsung? Kau tidak sedang membual 'kan?"


"Tidaklah. Saat aku ingin memarkirkan mobil, aku tidak sengaja melihat Krystal yang sedang memaki Nania. Em aku sebenarnya tidak mendengar jelas apa yang sedang mereka bicarakan, tapi waktu itu Nania terlihat sangat ketakutan. Ya, dia juga terlihat seperti sedang menahan tangis. Nania kita sudah di bully dengan sangat kejam oleh Krystal!"


Bisa kalian bayangkan sendiri bukan seperti apa reaksi Krystal saat namanya menjadi bahan gunjingan dari semua mahasiswa yang sedang berada di kantin? Wajahnya langsung memerah seperti buah tomat. Rasa malu dan juga kesal bercampur menjadi satu di diri Krystal. Sungguh, dia sangat amat tidak menyangka kalau Nania dan kedua temannya akan berbuat selicik ini kepadanya. Benar-benar sialan.


"Krys, bagaimana ini? Semua mata melihat ke arah kita. Aku malu!" bisik salah satu teman Krystal.


"Ayo pergi. Lama-lama aku bisa mati berdiri karena Nania. Hari ini dia sudah mempermalukanku dua kali, dan aku bersumpah akan membalasnya dengan cara yang lebih memalukan lagi daripada ini. Dasar brengsek. Ayo!" ucap Krystal mengajak semua teman-temannya pergi meninggalkan kantin. Tak lupa juga dia mengacungkan jari tengahnya ke arah Nania yang sedang menatapnya sambil menahan tawa.


Tunggu saja tanggal mainnya, Nania. Kau akan tahu siapa Krystal sebenarnya. Heh, geram Krystal dalam hati.


*******

__ADS_1


__ADS_2