
📢📢📢 BOM KOMENTARNYA BESTIE 💜
***
Jovan tersenyum saja ketika di tatap dengan begitu galak oleh Nania. Merasa terintimidasi? Hoho, tentu saja tidak. Mental Jovan sudah terasah sejak mereka masih berada di sekolah yang sama, jadi sikap Nania sekarang sama sekali tak menimbulkan efek apapun pada diri Jovan. Justru yang ada dia malah semakin gemas dan begitu ingin mencubit pipi gadis galak ini.
"Tuan, jangan bilang kau adalah orang memanggilku dengan sebutan sayang lewat pesan. Benar tidak?" tanya Nania penuh selidik. Mood-nya seketika hilang saat pria aneh ini tiba-tiba datang lalu duduk tepat di hadapannya.
"Kalau memang itu adalah aku ... apa yang akan kau lakukan, hm?" sahut Jovan penuh nada menantang.
"Kau ...
Kesal merasa di kerjai, Nania menyambar gelas minuman miliknya kemudian meneguk isinya sampai habis. Setelah itu Nania melihat ke arah samping kanan dan kirinya, heran menyaksikan Susan dan Tasya yang tengah menatap pria aneh ini sampai lupa untuk berkedip.
"Yakkk, apa-apaan kalian ini hah! Sudah gila ya kalian!" amuk Nania sambil menggeplak lengan kedua sahabatnya. Entah apa menariknya pria ini sampai-sampai membuat Tasya dan Susan menatapnya seperti orang tidak sadar.Â
"Ck, jangan berteriak seperti itulah. Telingaku sakit!" tegur Tasya sambil menggosok daun telinganya yang terasa panas. Mulutnya memang bicara, tapi pandangannya tetap terarah pada pria tampan yang sedang duduk di hadapan Nania.
"Tasya benar, Nania. Telingaku sepertinya juga ikut sakit gara-gara mendengar suara teriakanmu!" timpal Susan ikut memberikan teguran. Dia tersenyum-senyum tidak jelas saat pria tampan yang ada di hadapannya terkekeh pelan.Â
"Issshhh, kalian ini kenapalah. Seperti tidak pernah melihat laki-laki saja. Heran!" sungut Nania.Â
"Itu karena mereka tahu mana produk bagus dan mana produk yang jauh lebih bagus!" sahut Jovan. Setelah itu dia menatap bergantian pada dua gadis yang sejak tadi terus melihatnya. "Benar begitu kan Susan, Tasya?"
"Iya, benar sekali!" sahut Susan dan Tasya berbarengan.Â
Sungguh, rasanya Nania begitu ingin memukul kepala dua sahabatnya yang tiba-tiba saja sudah berpihak pada pria aneh tersebut. Padahal biasanya Susan dan Tasya akan bersikap sok jual mahal pada pria yang tidak di sukai oleh Nania. Tapi ini? Astaga, sepertinya dunia sudah tidak baik-baik saja.Â
__ADS_1
"Nania bagaimana dengan kuliahmu? Dengar-dengar kau menjadi bunga kampus ya?" tanya Jovan sambil menatap Nania yang tengah menggembungkan pipi karena kesal. Benar-benar sangat lucu.
"Menjadi bunga kampus ataupun menjadi bunga bangkai itu tidak ada urusannya denganmu ya. Lagipula kenapa kau ini sok kenal sekali sih? Ingat, di mataku kau itu sama seperti laki-laki lain yang tergoda oleh pesona yang kumiliki. Jadi jangan harap dengan sikapmu yang sok kenal ini akan membuatku jadi tertarik padamu. Paham?" jawab Nania langsung memberikan ultimatum pedas level seratus pada pria aneh tersebut.Â
"Benarkah?"
Jovan tertawa. Nania-nya masih sama seperti dulu, tak suka jika ada yang mendekati. Jovan jadi teringat dengan kejadian di mana dia mendapat amukan Nania gara-gara ketahuan sedang menandanginya diam-diam. Mengingat kenangan manis itu membuat Jovan kian di dera perasaan rindu. Padahal gadis yang di sukainya ada di depan mata, tapi tetap saja itu belum sepenuhnya mengobati rindu tertahan yang Jovan rasakan selama bertahun-tahun.Â
"Tuan, kenapa senyummu manis sekali? Bisakah kau memberitahu siapa namamu pada kami bertiga?" tanya Susan yang sudah tak kuat lagi menahan diri untuk bisa segera mengetahui siapa nama dari pria tampan tersebut. Tubuhnya serasa meleleh menyaksikan senyum manis di bibirnya. Susan lemah.Â
"Hei Susan, jangan bawa-bawa namaku ya. Enak saja. Kau dan Tasya itu yang sudah begitu gatal ingin mengetahui namanya, aku tidak!" amuk Nania tak terima ketika Susan mengatasnamakan nama mereka bertiga demi agar pria aneh itu bersedia memberitahukan siapa namanya.Â
"Namaku Jovan!" ucap Jovan. "Aku adalah seseorang yang sangat kenal dengan Nania!"
Setelah berkata seperti itu Jovan mengerlingkan mata ke arah Nania yang terpaku setelah mengetahui siapa namanya. Puas rasanya bisa membuat gadis beracun ini diam tak berkata-kata.Â
"Jovan? Namanya seperti tidak asing," gumam Nania. Dia lalu mengingat-ingat apakah pernah mengenal seseorang yang bernama Jovan atau tidak.Â
"Iya, Nania. Wahhh, kau curang sekali ya. Diam-diam menyembunyikan pria tampan di belakang aku dan Susan. Kau tidak sehati, Nania!" protes Tasya.Â
"Tidak sehati kepalamu, Tasya. Memangnya kalian tidak bisa melihat kalau aku sedang mengingat-ingat siapa pria ini, hah? Sembarangan saja kalian bicara. Lagipula apa gunanya aku menyembunyikan orang seperti dia dari kalian? Tidak mungkin membuatku kaya juga 'kan?" amuk Nania tersinggung akan cecaran dari kedua sahabatnya. Setelah itu dia beralih menatap tajam pada pria yang mengaku bernama Jovan-Jovan itu. Dia gagal mengingatnya. "Tuan, aku tidak tahu di antara kita pernah ada hubungan seperti apa sampai kau menyebut kalau kita saling kenal. Tapi maaf, wajahmu yang pas-pasan itu sama sekali tidak muncul di dalam ingatanku. Sepertinya kau sudah salah mengenali orang!"
"Luri, bukankah dia kakakmu?" tanya Jovan.Â
Mata Nania menyipit. Bahkan pria ini tahu siapa nama kakaknya, apa jangan-jangan Jovan ini adalah seorang pria penguntit? Woahhh, ini tidak bisa di biarkan. Jiwa baku hantam di diri Nania langsung mencuat.Â
"Aku tahu apa yang sedang kau pikirkan tentangku, Nania. Jangan salah paham. Aku mengenal kakakmu bukan dengan cara menguntit ataupun menyelidiki informasi kalian secara diam-diam. Tapi aku bisa mengenal kalian karena kita memang saling kenal sebelumnya. Kita pernah bercanda bersama, bertengkar, makan bersama, dan masih banyak hal manis lainnya yang pernah kita lakukan dulu. Dan yang harus kau ingat namaku adalah Jovan. Seseorang yang ....Â
Sebelum sempat Jovan menyelesaikan perkataannya, ponselnya sudah lebih dulu berdering. Tadinya Jovan berniat mengabaikan, tapi setelah melihat nama si penelpon Jovan langsung buru-buru menjawabnya.Â
__ADS_1
"Halo, Ayah. Ada apa?" tanya Jovan sambil terus menatap Nania.Â
"Jo, kau ada di mana? Bisakah kau pulang sekarang? Kita kedatangan tamu penting di rumah, dan Ayah bermaksud mengenalkanmu pada mereka. Bisa pulang sekarang 'kan?"
Jovan tak langsung menjawab pertanyaan sang ayah. Rasanya sungguh tak rela meninggalkan gadis seksi ini di sekeliling lebah jantan yang begitu banyak. Tapi apa daya, tidak mungkin juga Jovan mengecewakan orangtuanya. Alhasil Jovan terpaksa meng-iyakan permintaan ayahnya kemudian segera berpamitan pada Nania.Â
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Nania heran melihat cara Jovan menatapnya.Â
"Aku harus segera pulang, Nania," jawab Jovan lesu. "Ayah ingin agar aku menemui tamu penting yang tengah bertandang ke rumah kami. Kau tidak keberatan bukan kalau aku pulang lebih dulu?"
"Hah, keberatan?"
Nania terkekeh sinis. Ingin rasanya dia menghajar Jovan agar urat-urat saraf yang ada di kepalanya bisa bekerja dengan benar. Dan apa tadi, keberatan? Ya Tuhan, siapa dia berani berkata seperti itu pada Nania. Sepertinya Jovan sudah tidak waras.Â
"Sekalipun kau pergi ke bulan, aku tidak akan pernah merasa keberatan. Karena apa? Karena kau bukan siapa-siapaku. Jadi jangan bersikap seolah kita pernah menjalin hubungan cinta di mana kau bisa seenaknya bicara hal tidak masuk akal di hadapanku. Paham?"
"Hmmm, sedih sekali," sahut Jovan. Dia lalu beranjak pergi dari sana setelah mendapat omelan panjang dari Nania.Â
Sementara itu Tasya dan Susan yang terheran-heran melihat tingkah brutal Nania hanya bisa menatap tak rela pada kepergian Jovan. Rasanya seperti baru saja di tinggalkan oleh kekasih mereka, sangat sedih dan mematahkan hati.Â
"Kalau kalian masih berani memasang tampang menjijikkan seperti itu di hadapanku, percaya tidak aku akan langsung menghajar kalian sampai babak belur. Mau kalian?" ancam Nania geram melihat tingkah kedua sahabatnya yang sangat menggelikan.Â
"Isshhh, dasar tidak peka!" sahut Susan sambil mengerucutkan bibir.Â
"Bilang apa kau barusan?"
"Tidak bilang apa-apa!"
Nania berdecih kesal melihat Susan dan Tasya yang sama-sama merajuk padanya. Hanya karena Jovan pergi dari sana, kedua orang ini sampai harus menampilkan tampang memelas seperti binatang yang sedang kelaparan. Membuat orang kesal saja. Huh.Â
__ADS_1
*****