My Sugar Daddy ( Nania)

My Sugar Daddy ( Nania)
24. Harta, Tahta, Nania


__ADS_3

📢📢📢 BESTIE, JANGAN LUPA DUKUNGANNYA YA SUPAYA JOVAN DAN NANIA BISA MENANG DI LOMBA DI WRITER SEASON 8. OKE? 💜💜💜


***


"Silahkan duduk, Tuan Putri!" ucap Jovan mempersilahkan Nania untuk duduk di kursi yang baru saja dia tarik. Dia lalu tertawa melihat respon Nania yang langsung membungkuk sambil mengayunkan tangan dengan anggun bak seorang putri kerajaaan. "Kau terlalu manis, Nania. Jangan seperti itu, nanti aku tidak bisa tidur,"


"Hehee, aku memang sengaja melakukannya, Jo. Bahkan aku berharap kalau kau tidak hanya tidak bisa tidur saja, tapi kau akan langsung terkena penyakit diabetes karena terlalu banyak menerima asupan yang manis-manis dariku," sahut Nania dengan tengilnya. Dia kemudian duduk, memperhatikan ruang khusus yang telah di sewa Jovan untuk dinner mereka sekarang. "Seleramu cukup bagus juga, Jo. Hahh, aku benar-benar beruntung memiliki sugar daddy sempurna sepertimu."


Jovan tersenyum. Dia kemudian menepuk tangannya beberapa kali, lalu datanglah dua orang pelayan yang muncul sambil mendorong kereta kecil berisi makanan yang telah dia pesan sebelumnya. Sambil menunggu pelayan selesai menata makanan di atas meja, ekor mata Jovan terus saja melirik ke arah Nania. Ternyata dugaan Jovan tidak meleset kalau kecantikan Nania akan naik seratus kali lipat jika mengenakan kalung pilihannya. Terbukti, karena sekarang Nania jadi terlihat semakin seksi memakai tambahan aksesoris cantik tersebut. Ahh, Jovan jadi tidak rela ada orang lain yang ikut menikmati kecantikan kekasihnya ini.


"Tuan, Nona. Silahkan menikmati jamuan makan malam ini. Kami permisi," pamit si pelayan dengan begitu sopan.


"Terima kasih," sahut Nania.


"Nania, apa kau suka?" tanya Jovan. Dia memotong steik miliknya kemudian menukarnya dengan steik milik Nania yang belum terpotong. Setelah itu Jovan menuangkan anggur ke dalam gelas lalu memberikannya satu pada Nania. "Cheerrs?"


Nania mengerling nakal. Dia lalu mengambil gelasnya kemudian menempelkannya ke gelas Jovan. "Cheerrs!"


Walaupun tidak terlalu menentukan apa yang akan mereka pakai malam ini, tanpa di sangka-sangka ternyata Jovan dan Nania memakai pakaian yang sangat amat serasi. Jika Nania memakai dress putih dalam model yang cukup seksi, Jovan mengenakan kemeja hitam dengan sepatu putih kesayangannya. Penampilan mereka malam ini terlihat seperti para remaja yang sedang panas-panasnya dalam bersaing cinta dan penampilan. Namun bedanya di sini Jovan adalah laki-laki matang dengan posisi yang sangat menggiurkan. Dia adalah seorang bos, sedangkan Nania adalah bunga kampus yang selalu menjadi buah bibir bagi para pria yang menggilainya. Kerena sekali bukan? Hohoho, tentu saja.

__ADS_1


"Jo, Ayahmu pernah membahas hubungan kita tidak? Secara, dari yang aku lihat dia sepertinya begitu peduli pada perasaan Krystal. Kau tidak di paksa untuk menceraikan aku 'kan?" tanya Nania sambil mulai menikmati makan malamnya. Dia lalu memekik tertahan saat rasa lembut dari daging steik seperti meleleh di dalam mulutnya.


"Kita itu belum menikah, Nania. Jadi bagaimana mungkin kita bercerai? Ada-ada saja kau ini," sahut Jovan sambil menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. Dia kemudian tersenyum samar karena pelayanan di tempat ini tidak mengecewakan.


"It's oke, anggaplah kalau kita sudah menikah," ucap Nania lagi. "Pernah tidak Ayahmu membahasnya?"


"Pernah!" jawab Jovan. "Tadi sebelum aku pergi menjemputmu, Ayah dan Ibu sempat mengajakku untuk bicara. Dan seperti yang kau tanyakan kalau mereka membahas tentang Krystal dan juga hubungan kita. Tapi kau tenang saja, sayang. Mulai malam ini aku berani jamin kalau Ayah dan Ibu akan oleng pada keputusan mereka dengan memilih untuk merestui hubungan kita ketimbang menjodohkan aku dengan Krystal. Percaya padaku!"


Nania berhenti mengunyah makanan kemudian menatap Jovan sambil menaikan satu alisnya. Aneh. Jelas-jelas waktu itu Paman Ardan menunjukkan sikap tak suka kepadanya. Lalu bagaimana cara Jovan memutar keadaan secepat ini? Apa iya Jovan menggunakan jampi-jampi demi agar bisa meluluhkan hati orangtuanya? Keren sekali dia. Nania jadi ingin berguru pada orang hebat itu.


"Aku memberitahu Ayah dan Ibu tentang siapa Kak Gleen dan juga Fedo. Mereka kaget, dan bisa di pastikan kalau mereka akan lebih memilihmu sebagai calon istriku ketimbang memilih anak dari teman lama mereka. Ini alasan kenapa aku bisa menjawab seperti itu tadi," ucap Jovan memberitahu Nania tentang apa yang dia sampaikan pada kedua orangtuanya.


"Tentu saja. Aku mana mungkin menutupi kehebatan Luri dan Kak Lusi dari Ayah dan Ibu, Nania. Sekalian biar mereka tahu kalau kau bukanlah gadis sembarangan. Ayah dan Ibu harus bisa membedakan mana berlian berkualitas terbaik dan mana berlian yang hanya berkedok keindahan di luar saja. Benar tidak?" jawab Jovan dengan bangganya.


"Hohoho, itu tentu saja, sayang. Di zaman sekarang ini latar belakang sangatlah amat berpengaruh dalam suatu hubungan. Menurutku sih itu wajar-wajar saja karena tidak ada satupun orangtua yang ingin melihat anak mereka hidup susah. Mungkin bagi sebagian orang itu terkesan sebuah keegoisan di mana orangtua terlalu menuntut jodoh yang sempurna. Akan tetapi untukku pribadi, itu bukanlah sebuah keegoisan, melainkan satu puncak kebanggaan di mana mereka berhasil menyaksikan anak-anak mereka hidup dengan bahagia dan berkecukupan. Benar tidak, sayang?"


"Benar sekali. Dan menurutku, puncak tertinggi dalam hidupku adalah memiliki semua yang bisa membuat hidupku menjadi sangat sempurna. Yaitu harta, tahta, dan Nania. Ketiga hal ini adalah puncak dari segala-galanya, sayang. Karena tanpa ketiganya, aku sudah tidak berkeinginan untuk hidup lagi. Terima kasih karena telah memotivasi-ku untuk mengejar harta dan tahta. Karena dengan memiliki kedua hal ini, aku jadi bisa mendapatkan seorang bidadari yang sangat luar biasa cantik dan kini tengah duduk makan malam bersamaku. I love you, Nania,"


Pipi Nania merona mendengar ungkapan cinta dari Jovan. Dia kemudian berdiri, berjalan ke samping Jovan lalu mengalungkan sebelah tangannya ke bahu Jovan. Nania kemudian berbisik.

__ADS_1


"Jadi, Jovan. Kapan kau akan meresmikan bidadari cantik ini sebagai milikmu yang sah, hm?"


Jovan menghela nafas. Bukan karena dia kesal, tapi karena dia sedang menahan gelenyar aneh ketika merasakan hembusan nafas Nania di samping telinganya. Jujur, sekujur tubuh Jovan kini terasa sangat gerah. Harum tubuh Nania membuat pikiran Jovan jadi melayang kamana-mana.


"Sayang, kenapa diam saja? Apa kau keberatan untuk memperistri bidadari ini?" tanya Nania terus berbisik pelan. Dia lalu meniup telinga Jovan sebelum kembali duduk di kursinya.


"Nania, waktu itu pasti akan datang, tapi tidak untuk sekarang. Aku baru saja memulai karirku di dunia bisnis, dan aku takut semuanya akan kacau jika kita menikah dalam waktu dekat. Bukannya apa, kita belum menikah saja aku selalu memimpikan bisa bersamamu setiap waktu. Apa jadinya nanti jika aku benar-benar bisa membuatmu terus berada di sisiku? Bisa-bisa aku jadi malas bekerja kemudian jatuh bangkrut. Aku tidak mau kalau kau sampai pergi ke pelukan pria lain karena aku yang gagal menjadi sugar daddy. Tolong mengerti ya?" sahut Jovan mencoba untuk meminta kelonggaran waktu pada Nania. Padahal menikah detik ini pun Jovan sangat mau. Namun resikonya terlalu besar jika itu sampai terjadi sekarang. Jovan tidak bohong.


"Ya ampun, Jovan. Kau kenapa polos sekali sih. Hahaha," ejek Nania sambil menertawakan bagaimana Jovan terlihat panik setelah Nania meminta untuk segera dinikahi. Lucu sekali.


"Nania, jangan tertawa. Aku sedang sangat gugup sekarang," sahut Jovan.


"Haihh, baiklah-baiklah aku tidak akan tertawa lagi. Tapi jujur, kau terlihat semakin menggemaskan ketika sedang berbicara tadi. Lagipula ya, Jovan. Aku ini kan masih belum selesai kuliahnya, masa iya aku akan mengorbankan pendidikanku hanya demi bisa menikah dengan seorang sugar daddy yang baru menetas sepertimu. Ya tidak lah, aku tidak sebodoh itu mengorbankan masa depanku hanya demi seorang pria. Kekasihmu ini bernama Nania, dan hidup enak adalah cita-citaku. Jadi kau santai saja, Jo. Kau harus pastikan dulu kalau uangmu tidak akan habis dimakan tujuh turunan jika ingin menikah denganku. Oke?"


"Ini kau serius kan, Nania?" tanya Jovan memastikan.


"Tentu saja aku serius, Jovan. Masa iya membicarakan masa depan di anggap main-main. Tidak lucu lah," jawab Nania.


Jovan mengangguk-anggukkan kepala tanda bahwa dia paham akan maksud ucapan Nania. Setelah itu Jovan dan Nania pun kembali melanjutkan makan malam mereka sambil terus bersenda gurau dengan mesra.

__ADS_1


*******


__ADS_2