My Sugar Daddy ( Nania)

My Sugar Daddy ( Nania)
18. Bermain Peran


__ADS_3

📢 BOM KOMENTARNYA BESTIE💜


***


"Paman, apa di dalam ruangannya Jovan ada orang lain selain dia?" tanya Krystal. Dia benar-benar di buat penasaran akan siapa orang yang sedang ditemui oleh Nania.


Ardan sedikit bingung saat ingin menjawab pertanyaan Krystal. Ibarat kata, jujur salah tak jujur juga salah. Ardan tentu saja sangat tahu kalau di dalam ruangannya Jovan tidak ada orang lain selain putranya sendiri. Artinya kalau orang yang sedang di temui oleh Nania adalah Jovan. Akan tetapi untuk memberitahukan kebenaran ini pada Krystal membuat Ardan jadi merasa sedikit bersalah. Mau bagaimana lagi. Dia dan ayahnya Krystal sebelumnya pernah membahas rencana untuk menjodohkan anak-anak mereka. Dan jika dilihat dari sikapnya Krystal sekarang, sepertinya Krystal benar-benar menyukai Jovan. Tapi Jovan sendiri, ah sudahlah. Bahkan putranya itu dengan tegas menolak perjodohan tersebut dan tanpa ragu memberitahu Ardan kalau Jovan telah memiliki gadis pilihannya sendiri. Yaitu Nania.


Jujur, tadi saat Ardan melihat Nania secara langsung dia sempat dibuat canggung karena terkenang dengan kejadian beberapa tahun lalu ketika Jovan dilarikan ke rumah sakit gara-gara meminum banyak pil tidur setelah mendengar kabar perceraiannya dengan Silvi. Dulu gadis itu dengan begitu berani memaki mereka, bahkan dengan lantang Nania meminta agar Ardan dan Silvi berhenti berpura-pura menunjukkan sikap sedih ketika mereka sendiri yang menjadi penyebab Jovan nekad seperti itu. Mengingat ketajaman mulut gadis itu membuat Ardan tak bisa berkutik. Dia mati kutu di hadapan seorang gadis yang kini telah berubah menjadi sosok gadis cantik yang begitu seksi.


"Paman Ardan, Paman kenapa diam saja. Ayo cepat beritahu aku apakah di ruangannya Jovan ada orang lain atau tidak. Ayo cepat jawab, Paman!" desak Krystal tak sabar melihat ayahnya Jovan yang hanya berdiri diam tanpa berkata apapun. 


"Krystal, mungkin memang benar kalau Nania itu ingin menemui seseorang yang berada di dalam ruangannya Jovan. Dan kau tahu sendirikan kalau sekarang Jovan adalah bos di kantor ini? Ya mungkin saja dia memang mengundang orang itu agar datang ke ruangannya. Ya, begitu," jawab Ardan tergagap. 


Krystal meragu. Terlebih lagi setelah Krystal melihat cara ayahnya Jovan menjawab, dia yakin pasti ada sesuatu yang sedang di sembunyikan darinya. Penasaran apakah benar di dalam ruangannya Jovan ada orang lain atau tidak, Krystal memutuskan untuk langsung masuk ke dalam saja. Karena jujur Krystal sangat amat khawatir kalau Nania akan menggoda calon tunangannya itu. Dia tidak rela. 


"Oh, kau masih belum pergi ternyata!" ucap Nania sinis. Dia yang baru saja akan keluar dari dalam ruangannya Jovan sedikit kaget ketika melihat kemunculan Krystal yang berdiri tepat di hadapannya. 


"Kau!" geram Krystal sambil menunjuk wajah Nania. "Kau ... apa yang baru saja kau lakukan di dalam sana hah? Siapa yang sedang kau temui?"


"Tentu saja kekasihku. Kenapa? Apa kau khawatir kalau orang yang baru saja kutemui adalah ayahmu? Hem?" sahut Nania dengan santai. 


"Jaga mulutmu, Nania. Kau jangan sembarangan berucap tentang Ayahku!" 


Nania tertawa. Dia lalu berbalik melihat ke arah ayahnya Jovan yang terlihat kebingungan di belakang Krystal. Tahu kalau pria tua ini masih belum menyerah untuk menjodohkan Jovan dengan Krystal, dengan sengaja Nania memanaskan keadaan.

__ADS_1


"Paman Ardan, apa Paman belum memberitahu Krystal siapa orang yang aku temui di dalam ruangan ini?" tanya Nania seraya menunjuk ke dalam ruangan yang baru saja dia masuki. 


Ardan menjadi salah tingkah ketika di tanya seperti itu oleh Nania. Dia kemudian beralih melihat ke arah Krystal, semakin salah tingkah saat anak temannya ini menatapnya penuh rasa penasaran. Sungguh, Nania adalah gadis pertama yang berhasil mengintimidasi Ardan secara terang-terangan. Dia sampai tidak bisa berkutik karenanya. 


"Sayang, kenapa kau hanya berdiri saja di sini? Ada apa?"


Jovan yang memang sudah sepakat untuk memainkan drama dengan sengaja memanggil Nania dengan sebutan sayang di hadapan ayahnya dan juga Krystal . Setelah itu dengan sangat berani Jovan melingkarkan sebelah tangannya memeluk pinggang ramping Nania, membiarkan Krystal dan sang ayah menyaksikan kemesraan mereka secara nyata. 


"Jovan, Nania. Kalian," .... 


Rasanya seperti tersambar petir saat Krystal melihat apa yang sedang terjadi di hadapannya. Jovan memeluk Nania dan memanggilnya sayang? Jangan bilang mereka .... 


"Oh, kau sudah datang ya, Krys?" tanya Jovan pura-pura kaget melihat keberadaan Krystal.


Astaga, kenapa jadi seru begini sih. Krystal-Krystal, maafkan aku dan Jovan ya karena sudah mengerjaimu. Siapa suruh kau ingin masuk ke dalam hubungan kami. Jadi sekarang kau tanggunglah akibatnya sendiri, batin Nania dalam hati. 


"Kakak seniormu?" sahut Jovan kaget. Kali ini Jovan kaget sungguhan, dia tidak sedang berpura-pura. 


"Iya. Dia adalah satu-satunya kakak senior yang sangat suka mencari masalah denganku. Benar begitu kan, Krystal?" jawab Nania. 


Krystal yang masih terkejut akan kenyataan kalau Jovan adalah kekasih Nania, hanya diam tak merespon ketika Nania bertanya padanya. Dan ketika lengannya di guncang pelan oleh ayahnya Jovan Krystal baru tersadar. 


"Ckck, sebegitu senangnya ya kau mengetahui hubungan kami. Selamat ya, Krystal. Kau adalah orang pertama yang melihat wajah tampan kekasihku. Apa kau tahu, bahkan Susan dan Tasya saja masih belum bertemu dengan Jovan semenjak kami menjadi sepasang kekasih. Iya kan, sayang?"


"Nania, bukankah waktu itu kedua sahabatmu sudah pernah melihat dan bertemu denganku ya?" bisik Jovan. Ada semacam perasaan tak suka di diri Jovan ketika Nania mengatakan kalau Krystal adalah orang pertama yang mengetahui kalau dia dan Nania adalah sepasang kekasih. 

__ADS_1


"Sttt, diam bodoh. Mereka sudah tahu, tapi aku sengaja mempermainkan Krystal supaya dia menangis. Bagaimana sih!" omel Nania ketika Jovan malah bingung sendiri dengan drama yang sedang mereka mainkan. 


Jovan meringis sambil menggaruk pinggiran kepalanya setelah tahu kalau Nania hanya sedang bermain peran. Setelah itu Jovan melirik ke arah sang ayah sambil menaikan sebelah alisnya ke atas, menegaskan kalau perjodohannya dengan Krystal tidak akan pernah terjadi. 


"Nania, aku minta setelah ini kau jangan pernah lagi datang kemari untuk menemui Jovan. Kau dengar itu!" gertak Krystal marah. 


"Lho, memang apa salahnya aku datang mengunjungi kekasihku sendiri? Lagipula perusahaan ini kan bukan milikmu, apa hakmu melarangku untuk datang, hem?" tanya Nania santai. 


"Karena Jovan .... 


"Karena Jovan apa? Ingin di jodohkan denganmu?" ucap Nania memotong perkataan Krystal. Dia lalu menatap Jovan dengan raut wajah yang begitu terluka. "Jovan, apa benar kau dan Krystal akan di jodohkan? Sedih sekali aku,"


"Omong kosong apa yang sedang kau bicarakan, sayang. Aku dan Krystal baru saja saling kenal karena orangtua kami dulunya adalah teman. Tolong kau jangan salah paham pada hubungan kami ya. Kau tahu sendiri bukan kalau aku hanya akan mencintaimu seorang. Kau yang terbaik, Nania. Dan kehadiranmu tidak akan pernah bisa tergantikan oleh gadis mana pun!" jawab Jovan dengan sangat tegas. Dia lalu menangkup kedua pipi Nania kemudian mencium keningnya lama. "Aku mencintaimu. Kau harus selalu mengingat kata-kata ini dengan baik. Oke?"


"Uuuuu, kau manis sekali, Jovan. Kalau begitu aku pergi dulu ya. Ada hal penting yang harus segera aku selesaikan di rumah!" pamit Nania seraya mengedipkan sebelah matanya. Dia kemudian melepaskan diri dari pelukan Jovan. Dengan langkah yang begitu gemulai, Nania berjalan melewati Krystal kemudian menabrakkan bahunya dengan kuat. 


"Upsss, sorry. Sengaja!" ucap Nania menirukan gaya Krystal ketika sedang mencari masalah dengannya di kampus. Jujur, saat ini Nania merasa puas sekali setelah bermain peran dengan Jovan. Dan Nania sangat amat yakin kalau Krystal pasti sudah terbakar api cemburu setelah menyaksikan kemesraan mereka barusan. Haha, sungguh sangat menyenangkan hari ini. Du du du du du. 


"Hati-hati, sayang. Nanti setelah pulang kantor aku akan mampir ke rumahmu!" ucap Jovan sambil menatap kepergian Nania. Dia lalu melambaikan tangan saat kekasihnya yang seksi itu membuat kecupan jarak jauh sebagai tanda perpisahan mereka. 


Tak terima melihat kemesraan Jovan dan Nania, tiba-tiba saja Krystal pergi dari sana. Dia berlari menuju toilet perusahaan berniat untuk membasuh wajahnya yang terasa sangat panas karena lagi-lagi harus kalah dari juniornya. 


"Kau benar-benar sialan, Nania. Awas saja, apapun yang terjadi aku pasti akan merebut Jovan darimu. Heh, tunggu saja!" ujar Krystal sambil menatap pantulan wajahnya di depan cermin kamar mandi. 


****

__ADS_1


__ADS_2