
📢📢📢 BESTIE, JANGAN LUPA DUKUNGANNYA YA SUPAYA JOVAN DAN NANIA BISA MENANG DI LOMBA DI WRITER SEASON 8. OKE? 💜💜💜
"Fyuhhhh, lelahnya. Tidak kusangka ternyata berpura-pura menangis seperti itu cukup menguras tenaga juga," ucap Nania sembari menyeka wajahnya yang basah air mata. Dia kemudian menyenderkan tubuhnya ke daun pintu.
Baru kali ini aku melihat ada seorang penjahat yang meninggalkan barang bukti di tempat kejadian. Aku heran, mereka itu sebenarnya bodoh atau terlalu pintar sih? Harusnya mereka itu mengambil kameranya sebelum pergi. Bagaimana sih! gerutu Nania dalam hati.
Setelah membatin seperti itu Nania tertawa sendiri. Nania benar-benar tidak paham dengan konsep yang di gunakan oleh Krystal untuk mengerjainya tadi. Apa mereka itu tidak tahu kalau kamera sejenis itu akan menyala dalam kegelapan? Astaga, benar-benar ceroboh. Nania sampai malu sendiri memikirkannya.
"Nania, kau menangis?" kaget Susan begitu melihat Nania yang sedang berdiri di depan ruangan tempat dia melakukan latihan. Segera Susan berlari mendekat.
"Kalau aku tidak menangis Krystal dan teman-temannya tidak akan merasa senang, Susan. Bagaimana sih," sahut Nania. Dia lalu mengulurkan tangannya ke arah Susan. "Mana rekaman yang aku minta. Kau berhasil mendapatkannya bukan?"
"Oh, tenang saja. Seorang Susan mana mungkin gagal menjalankan tugas seperti ini. Tenang!"
Sambil bergaya angkuh, Susan segera mengeluarkan sebuah kamera dari dalam tasnya. Dia lalu memberikan kamera tersebut pada Nania. "Ini barang yang kau minta, Tuan Putri!"
"Terima kasih. Kau sungguh pelayan yang sangat patuh, Susan. Aku bangga padamu!" sahut Nania seraya tersenyum lebar.
Susan mencebik pelan saat di katai sebagai pelayan yang patuh. Dia kemudian berjalan ke samping Nania untuk ikut menonton rekaman yang tadi dia ambil saat Krystal dan teman-temannya sedang membicarakan tentang rencana pembullyan terhadap Nania.
"Wahhhh, sialan. Berani sekali mereka mengolok-olok aku seperti ini. Tidak bisa di biarkan. Aku harus membalas mereka dengan cara yang lebih buruk lagi!" kesal Nania setelah dia menonton videonya. "Tapi, Susan. Apa harga diriku tidak akan anjlok jika rekaman ini kita jadikan sebagai barang bukti? Lihat, mereka begitu bersemangat saat sedang mengejekku. Aku tidak tega harga diriku di lukai seperti ini. Bagaimana ya?"
"Yakk, Nania. Kalau kau bukan sahabatku, aku pasti sudah menendang bokongmu dengan sangat kuat. Bukankah kau sendiri yang merencanakan semua ini? Kenapa sekarang kau malah protes setelah mendengar mereka mengataimu seperti itu!" omel Susan dongkol sendiri mendengar perkataan Nania. Bisa-bisanya anak ini berpikiran seperti itu. Menyebalkan.
"Ck, aku kan kaget," sahut Nania santai sambil mengendikkan bahu.
"Kaget kepalamu. Sudahlah, kau sebaiknya jangan bersikap berlebihan. Dengan mereka yang mengataimu seperti itu malah akan membantu memuluskan rencana kita. Semua penghuni kampus pasti akan benar-benar percaya kalau Krystal itu adalah seorang senior yang suka membully juniornya sendiri. Benar tidak?"
"Benar juga ya. Lagipula para penggemarku tidak akan mungkin berpaling setelah mereka melihat video ini. Yang ada mereka malah akan merasa kasihan padaku,"
__ADS_1
"Nah, itu kau tahu."
"Hehe,"
Tak lama kemudian Tasya akhirnya datang menghampiri Susan dan Nania. Dia lalu mengacungkan jempol, memberi tanda kalau sekarang keadaan sudah aman.
"Sya, apa yang kau lakukan pada mereka?" tanya Nania penasaran.
"Aku tidak melakukan apapun para Krystal dan yang lainnya. Setelah mereka selesai mengerjaimu, aku hanya mengawasi mereka saja sampai mereka benar-benar pergi meninggalkan kampus ini. Kenapa memangnya?" jawab Tasya dengan santainya.
Nania tercengang. Begitu juga dengan Susan. Mereka sangat tidak menyangka kalau Tasya sama sekali tidak melakukan pekerjaan apapun dalam rencana ini. Benar-benar kelewatan.
"Sya, kau ini bagaimana sih. Aku dan Nania sibuk menjalankan rencana untuk menjebak balik Krystal dan teman-temannya, tapi kau? Hah, sulit di percaya. Bagaimana bisa kau sesantai ini di tengah-tengah gencatan senjata dengan kelompok siluman rubah itu. Kau ini sebenarnya mendukung kami atau mereka sih!" amuk Susan jengkel.
"Tentu saja aku mendukung kalian lah. Sudah gila apa aku mendukung orang seperti Krystal. Hihh!" sahut Tasya tak terima saat kesetiaannya di pertanyakan.
Tasya berjalan mendekat ke arah Susan dan Nania kemudian menonton video yang ada di dalam kamera tersebut. Setelah itu dia menutup mulutnya, cukup syok begitu mendengar olok-olokan yang di ucapkan oleh Krystal dan teman-temannya.
"Astaga, aku tidak percaya mereka sanggup berkata seperti itu terhadap sesama wanita. Wahhhh, tahu begini tadi aku kempeskan saja ban mobil mereka!" ucap Tasya terkaget-kaget.
"Lalu kenapa kau tidak melakukannya saja tadi?" tanya Nania sambil mencubit pipinya Tasya dengan gemas.
"Ck, lepaskan pipiku, Nania. Nanti pipiku semakin bertambah besar seperti bakpau. Lepas!" ucap Tasya sambil berusaha membebaskan pipinya dari tangan Nania. "Lepas. Nanti aku akan jelaskan kenapa aku tidak melakukan apa-apa pada mereka. Lepas, Nania!"
Sambil mendengus kasar Nania akhirnya melepaskan pipi Tasya. Setelah itu dia bersedekap tangan, menunggu penjelasan seperti apa yang akan di sampaikan oleh sahabatnya ini.
"Sebenarnya tadi itu aku sudah berencana ingin menjebak mereka. Akan tetapi aku tidak sengaja mendengar kalau mereka telah meninggalkan sebuah kamera di dalam ruangan ini. Dan setelah ku pikir-pikir, sepertinya isi dari kamera itu bisa menjadi sesuatu yang jauh lebih menyenangkan ketimbang hanya mengerjai mereka saja. Jadi ya sudah, aku putuskan untuk tidak melakukan apa-apa pada gerombolan siluman rubah itu. Lebih baik sekarang kita biarkan saja mereka tertawa senang, tapi besok ... heh. Mereka akan mendapatkan kejutan yang sangat istimewa dariku!" ucap Tasya sambil menyeringai sinis.
"Uuhhhh, kau begitu menggemaskan, Tasya. Sayang aku ini adalah seorang gadis. Kalau aku pria, detik ini juga aku pasti akan langsung mengajakmu untuk berkencan. Sungguh!" ucap Nania sambil mengelus-elus kepala Tasya.
__ADS_1
"Iyuhhhhh. Ucapanmu membuat bulu kudukku berdiri semua, Nania," sahut Susan sambil bergidik geli.
"Bilang saja kau iri,"
"Whaaattt? Iri? Astaga, apa yang perlu di irikan dari perkataanmu itu. Hati-hati ya kalau bicara!"
Nania dan Tasya tertawa.
"Nah, Tasya. Bisakah kau memberikan sedikit bocoran mengenai rencana itu?" tanya Nania sambil menaik-turunkan kedua alisnya.
"Cukup simpel, Nania. Aku hanya akan mengganti kamera mereka dengan kamera milik Susan. Dan nanti saat mereka menyebarkan video tentangmu, aku akan meminta beberapa orang untuk menuduh kalau pelaku pembullyan itu adalah Krystal dan teman-temannya. Nah, saat semua itu terjadi Krystal pasti akan beralibi kalau dia tidak terlibat karena hari ini dia tidak datang ke kampus. Lalu aku akan kembali meminta bantuan mahasiswa lain untuk menggeledah tas mereka untuk memastikan apakah mereka benar-benar membully-mu atau tidak. Lalu ..." jawab Tasya dengan sengaja menjeda ucapannya.
"Lalu apa, Sya?" desak Susan dan Nania berbarengan.
"Lalu saat kamera itu di temukan di salah satu tas mereka, para mahasiswa pasti akan langsung memeriksa kamera tersebut. Percayalah, saat ini mereka pasti sudah memindahkan file rekaman itu ke ponselnya Krystal kemudian menghapus rekaman yang ada di dalam kamera. Krystal dan teman-temannya pasti tidak akan ada yang menyangka kalau kamera mereka telah di tukar dengan kamera milik Susan. Dan begitu videonya di putar, boommm. Krystal dan teman-temannya pasti akan terkena stroke karena di dalam kamera itu terekam video mereka yang sedang mengolok-olok Nania. Bagaimana, ideku keren sekali bukan?"
Hening. Nania dan Susan diam tak mampu berkata-kata setelah mendengar rencana yang ingin dilakukan oleh Tasya.
"Sya?" panggil Nania pelan.
"Hmmm, kenapa?" sahut Tasya.
"Apa kau ingin pergi berbelanja? Gratis. Kau boleh membeli apapun yang kau inginkan, dan Jovan yang akan membayar semuanya. Bagaimana?"
"Emm bagaimana ya. Sebenarnya aku sedang malas, tapi karena kau memaksa maka aku akan menerima tawaranmu. Ayo!"
Nania mengangguk. Tapi sebelum pergi, mereka masuk ke dalam ruang latihan untuk mengganti kamera yang di tinggalkan oleh Krystal. Setelah itu barulah mereka bertiga meninggalkan kampus dan langsung menuju tempat perbelanjaan tanpa bertukar pakaian lebih dulu. Jorok sekali bukan? Namun karena ketuanya adalah Nania, kecantikan mereka sama sekali tidak berkurang. Yang ada mereka malah terlihat semakin cantik karena hari ini mereka akan berbelanja gratis menggunakan kartu pemberian Jovan. Sungguh sugar daddy yang sangat baik hati sekali bukan? Hehe.
*****
__ADS_1