My Sugar Daddy ( Nania)

My Sugar Daddy ( Nania)
105. Menindas Balik


__ADS_3

Rhea berjalan masuk ke dalam sebuah toko sepatu sambil menikmati permen lollipop. Dia kemudian memilih beberapa pasang guna untuk di coba. Sambil sesekali memuji model dari sepatu tersebut, dia juga tak ragu untuk berbincang dengan pelayan toko. Hal yang baru Rhea lakukan setelah mengenal Nania.


“Waahhh, Nona. Sepatu ini sangat cocok untukmu. Sangat serasi dengan kulit kakimu yang putih bersih!” seru si pelayan sambil menatap takjub sepasang sepatu berwarna merah yang tengah di coba oleh pelanggan. Matanya yang bundar terlihat bersinar cerah saking terpesonanya dia akan hal tersebut. Padahal bukan dia yang mencoba, tapi gurat kesenangan jelas tercetak di wajahnya.


“Hei, kenapa kau terlihat senang sekali. Yang sedang mencoba sepatu ini kan aku, kenapa malah kau yang heboh sendiri. Sebegitu senangnya, hem?” tanya Rhea agak terpana melihat sikap pelayan tersebut. Kalau biasanya dia akan langsung menegur sinis, kali ini sikap arogan tersebut tak Rhea tunjukkan. Pelayan ini sangat manis, dia menyukainya.


“Hehehe, maafkan sikap kurang sopan saya barusan, Nona. Saya hanya terlalu terpesona melihat betapa cantik sepatu itu setelah terpasang di kaki anda. Sekali lagi saya minta maaf,” jawab si pelayan sambil membungkukkan tubuh. Dia kemudian pamit pergi karena khawatir akan membuat tak nyaman.


“Tunggu!”


Rhea mengulurkan tangan pada si pelayan. “Aku Rhea. Kau, siapa namamu?”


“Haaa?”


Si pelayan terbengang. Tak percaya kalau pelanggan ini mengajaknya berkenalan.


Bukankah Nona ini baru saja menegurku ya? Kenapa sekarang dia malah menyebutkan namanya? Ya Tuhan, apa ini adalah akhir dari pekerjaanku di toko i ini? Aku mohon jangan, Tuhan. Baru pekerjaan ini yang aku dapatkan setelah sekian bulan menganggur. Tolong aku.


Kedua alis Rhea saling bertaut saat pelayan ini malah termenung sedih tanpa ada niat menyambut uluran tangannya. Mencoba memahami apa yang sedang terjadi, pelan-pelan Krystal melepaskan sepatu kemudian menarik satu tangan pelayan tersebut. Dia kemudian berjongkok sembari memasangkan sepatu ke kaki pelayan yang terkejut karena kini sudah berpindah duduk di kursi tempat para pelanggan mencoba sepatu.


“No-Nona, a-apa yang anda lakukan? Tolong jangan begini. Manager bisa memecat saya jika melihat anda memasangkan sepatu untuk seorang pelayan. Saya mohon, Nona,” ucap si pelayan panik saat beberapa pelayan yang lain menatapnya tajam. Tak mau berakhir di pecat, pelayan ini segera menggosok-gosokkan tangan memohon agar pelanggan bernama Rhea ini mau melepaskannya. “N-Nona, saya mohon hen ….


“Stttt, diamlah. Kau kenapa berisik sekali sih!” omel Rhea kesal. Dia kemudian tersenyum saat sepatu yang tadi di cobanya telah terpasang sempurna di kaki pelayan yang sedang ketakutan. “Cantik. Kaki kita sama cantiknya saat memakai sepatu ini. Iya ‘kan?”


“I-iya. Cantik sekali,” sahutnya.

__ADS_1


“Sepatunya untukmu saja. Aku sudah tidak tertarik untuk membelinya!”


Dan begitu Rhea selesai bicara, seorang pria berpakaian rapi tiba-tiba datang menghampiri. Pria ini lalu melayangkan tatapan marah pada pelayan yang masih syok atas apa yang terjadi. Rhea kesal, tentu saja. Sengaja dia membelikan sepatu itu adalah untuk menyenangkan hati pelayan yang masih belum dia ketahui namanya, tapi pria ini malah seenak jidat mengintimidasi. Tak terima melihatnya, segera Rhea pasang badan untuk membela.


“Tuan, kenapa kau memelototinya seolah dia adalah maling yang baru ketahuan mencuri? Sepatu itu aku yang membelikannya, jadi kau tidak perlu memasang wajah garang seperti ini. Tidak ramah sekali!”


“Sebelumnya saya minta maaf atas sikap kurang ajar karyawan saya, Nona. Dia masih baru di sini, jadi belum terlalu mengerti bagaimana cara melayani customer dengan baik. Mohon anda tidak salah menyikapi perkataan saya!” sahut si pria dengan mimik wajah yang begitu angkuh. Dia kemudian kembali melayangkan tatapan tak suka pada pelayan yang kini tengah menundukkan kepala.


“Oh, jadi dia pelayan baru ya?”


“Benar, Nona.”


“Kalau begitu pecat saja dia!” ucap Rhea dengan sarkas.


“No-Nona, tolong jangan bicara seperti itu pada manager. S-saya sangat membutuhkan pekerjaan ini. Tolong tarik kembali kata-kata anda, Nona. Saya mohon,” ucap si pelayan menghiba. Dia sudah hampir menangis saking takut akan di pecat.


“Tapi manager, saya ….


“Aku bilang pergi ya pergi. Kau di pecat!”


Rhea hanya diam menonton betapa pria ini sangat arogan dengan langsung memecat si pelayan baru itu tanpa ada niat untuk membela. Terbersit rasa perih ketika melihat air mata menetes mengiringi pelayan tersebut. Namun, tujuan Rhea melakukan hal ini bukanlah untuk mempersulitnya. Akan tetapi ….


“Pelayan itu siapa namanya?” tanya Rhea.


“Namanya Indar, Nona. Dia baru seminggu bekerja di toko ini.”

__ADS_1


“Indar. Nama yang cukup lucu. Aku suka.” Rhea menghela nafas. Dia dengan sengaja menunggu sampai pelayan bernama Indar itu muncul. Dan begitu melihatnya keluar, Rhea langsung berjalan menghampiri kemudian merangkul bahunya. “Hai Indar, sekarang kan kau sudah tidak bekerja di toko sepatu ini lagi. Bagaimana kalau kau bekerja di perusahaan kakakku saja. Kebetulan di sana sedang membutuhkan pegawai untuk di tempatkan di kantin kantor. Kau mau tidak?”


Indar yang tadinya sedang sedih mendadak seperti ketiban durian runtuh saat Rhea menawarkan pekerjaan baru kepadanya. Segera dia menyeka air mata kemudian menatap penuh rasa tak percaya pada wanita baik hati yang baru saja mengulurkan tangan untuk membantu.


“No-Nona, in-ini saya tidak salah dengar ‘kan?” tanya Indar memastikan kebenaran tersebut. Jantungnya berdegub kuat sekali. Sungguh.


“Tentu saja tidak, Indar. Lagipula untuk apa aku membohongi seseorang yang baru saja di pecat dengan tidak hormat hanya karena mendapat hadiah dari pelanggan toko. Jika aku adalah pemilik tempat ini, aku pasti akan langsung memecat orang-orang arogan yang telah memandang sebelah mata kepadamu. Hanya karena kau berpenampilan tidak sebaik mereka, lantas mereka berhak memperlakukanmu seolah kau adalah kotoran? Ini tidak adil. Itulah kenapa aku membuatmu dipecat agar aku bisa menempatkanmu di pekerjaan yang lebih bisa menghargai kerja kerasmu!” jawab Rhea dengan lantang menyindir manager dan juga para pelayan toko lainnya. Tadi saat Rhea sedang memilih sepatu, dia tak sengaja mendengar gunjingan mereka yang menyebut kalau pelayan yang sedang melayaninya sama sekali tak cocok untuk bekerja di sana. Jadi ya sudah sekalian saja Rhea membuatnya tidak bekerja di sini lagi. Jujur, dia terpana akan sikap polos gadis ini yang tak segan memujinya cantik dengan tatapan yang begitu berbinar. Rhea terpesona. Itu yang membuatnya yakin untuk membantunya. Indar gadis baik, dia percaya itu.


“Nona, anda salah paham. Saya tidak bermaksud seperti itu pada Indar. Sungguh,” ucap si manager ketakutan. Sikap berani wanita ini membuatnya panik.


“Sudah, kau tidak perlu menjadi penjilat di hadapanku. Oya, berapa harga sepatu yang di pakai oleh temanku?” sahut Rhea malas meladeni. Dia kemudian terpikir untuk membalas gunjingan para pelayan yang kini tengah menunduk takut. Sambil terus merangkul Indar, Rhea membawanya berjalan mengelilingi rak sepatu kemudian mengambil beberapa. “Nah, Indar. Kau cobalah semua sepatu yang aku ambil. Tenang saja. Mulai sekarang kau punya aku yang kaya raya. Jadi berbelanjalah sesuka hati dan bungkam mulut mereka yang telah menghinamu. Kalau mereka berani macam-macam, aku yang akan menggantikanmu untuk mematahkan tulang rahang mereka. Oke?”


Indar hanya bisa ternganga syok mendengar perkataan Rhea. Mimpi apa dia semalam sampai bisa bertemu dengan orang sebaik wanita ini. Tak mau di anggap tidak tahu diri, sambil menahan tangis Indar mulai mencoba satu-persatu sepatu yang berjejer rapi di lantai.


Ya Tuhan, bahkan bekerja sampai matipun aku tidak akan mungkin sanggup untuk membeli sepatu yang di jual di toko ini. Terima kasih. Terima kasih karena telah mempertemukanku dengan orang sebaik Rhea. Terima kasih.


“Hei kalian. Kenapa kalian hanya berdiri saja di sana. Ayo cepat layani temanku mencoba sepatu. Bagaimana sih. Tidak becus sekali kalian!” teriak Rhea sambil menatap sinis ketika tidak ada satupun pelayan yang datang untuk melayani Indar.


“B-baik, Nona.”


“Cepat sedikit. Jangan tahunya hanya menggunjing orang saja. Di sini kalian itu di bayar untuk bekerja ya, bukan untuk bermalas-malasan seperti itu. Tahu?”


Hahaha, rasakan. Ini akibatnya menindas orang yang tidak bersalah. Hmmm, kalau Nania melihat betapa beringasnya aku saat membalas mereka, dia pasti akan memuji penuh bangga padaku. Yeyyy.


Sambil terus tersenyum senang, Rhea mengawasi para pelayan yang sedang membantu Indar mencoba sepatu. Dan Rhea sama sekali tidak sadar kalau sejak tadi ada mata yang mengawasinya tak jauh dari pintu masuk toko. Galang, dokter sekaligus bos muda itu tampak menyunggingkan senyum lucu melihat bagaimana Rhea menindas manager dan para pelayan toko yang telah berlaku tidak adil kepada salah satu karyawan. Sikapnya yang tak kenal takut mengingatkan Galang pada Nania, gadis seksi yang mulutnya sangat luar biasa beracun.

__ADS_1


“Jovan, kau mungkin beruntung bisa mendapatkan gadis seperti Nania. Tapi sepertinya keberuntungan itu juga akan datang pada hidupku. Tunggu dan lihatlah bagaimana nanti aku akan menjadikan Rhea sebagai ratuku!” gumam Galang sesaat sebelum dia memutuskan untuk pergi dari sana.


***


__ADS_2