
Brugghhhh
Nania jatuh tertelungkup di lantai saat sebuah kaki dengan sengaja menghadang di depan pintu. Dia yang baru akan keluar dari kamar mandi sama sekali tak menyangka kalau akan di serang seperti ini.
"Upssss, lucu sekali ya menyaksikan langsung bagaimana seekor katak yang sok kecantikan jatuh mencium lantai kamar mandi yang busuk ini!" olok Krystal sambil menutup mulut. Dia lalu terbahak-bahak melihat ujung hidung Nania yang tergores. "Hahahaha, hei lihat hidung bunga kampus ini. Sepertinya implan yang dia pakai menggunakan bahan kualitas jelek sehingga melukai kulit aslinya. Ahahhaha!"
Biji mata Nania langsung membulat besar begitu mendengar olok-olokan Krystal. Mengabaikan segerombol nenek gayung yang masih terus menertawakannya, Nania berusaha bangun kemudian berlari menuju cermin. Dia lalu berteriak sekuat mungkin mendapati ujung kulit hidungnya yang terkelupas.
"AAAAAAAAAAAAAA!"
Nania murka. Dia menoleh ke arah Krystal yang tertawa semakin kencang setelah mendengar suara teriakannya. Tak terima, dengan marah Nania membanting tas branded miliknya kemudian menghampiri Krystal dan juga teman-temannya.
"Dasar brengsek! Aku pikir kau akan bertambah semakin pintar setelah mendapat sanksi skorsing kemarin. Ternyata dugaanku salah. Kali ini kau benar-benar sudah sangat kelewatan, Krystal. Kau membuat wajahku menjadi cacat!" amuk Nania dengan sorot mata berapi-api. Setelah itu di cengkeramnya kuat leher Krystal hingga membuatnya kesulitan bernafas.
"Uhuk-uhuk, a-apaan kau, N-Nania. Le-lepas!" ucap Krystal terbata sambil terus menepuk tangan Nania yang sedang mencekiknya. Dia lalu melirik ke samping, mencoba meminta pertolongan dari teman-temannya yang lain.
Tanggap akan adanya bahaya, salah satu teman Krystal tanpa ragu memukul kepala Nania menggunakan tas. Dan bukannya membuat cekikan tangan Nania lepas, hal itu malah membuatnya semakin bertambah marah. Menggunakan satu tangan yang lain Nania mendorong wajah temannya Krystal hingga terdorong membentur dinding. Setelah itu dia menunjuk nenek gayung lainnya yang ingin ikut melakukan serangan.
"Selangkah saja kalian berani maju mendekat, aku bersumpah akan merontokkan gigi kalian semua. Kalian jangan lupa ya kalau aku adalah atlet bela diri di kampus ini. Jadi bukan hal sulit untukku membuat kalian semua babak belur. Mengerti?" gertak Nania penuh penekanan.
Berhasil. Gertakan Nania berhasil memukul mundur para nenek gayung yang lain. Kini tinggallah Krystal yang masih terus berjuang melepaskan diri dari cengkeraman tangan Nania. Sungguh, tak sekalipun dia menyangka kalau Nania akan seberani ini balik menyerangnya. Padahal tindakan ini Krystal lakukan karena mendengar perkataan mahasiswa lain kalau Nania tidak di izinkan melakukan penyerangan dalam bentuk apapun saat berada di lingkungan kampus. Tapi sekarang? Sekarang Krystal sudah hampir mati di tangannya. Apa mungkin dia salah mendengar informasi?
Sial. Kalau cekikan ini tidak segera terlepas lama-lama aku bisa mati karena kesulitan bernafas. Dan juga ada apa dengan mereka. Kenapa mereka semua malah takut pada ancaman Nania? Brengsek. Dari sebanyak temanku memang hanya Sintia saja yang paling setia. Yang lainnya tidak. Cuihhh.
"Kenapa diam, hem? Sudah hampir sekarat? Iya?" tanya Nania sembari menyeringai evil. Di tatapnya dekat-dekat wajah Krystal hingga hembusan nafasnya terasa mengenai kulit. "Jangan kau kira aku akan terus bersikap lembut padamu ya, Krys. Kau ... hanya karena pria yang kau suka tidak mau membalas perasaanmu kau sampai nekad bertindak sejauh ini. Sebegitu murahannya kah dirimu?"
__ADS_1
"Le-lepas!"
"Lepas?" Nania terkekeh. "Oke kalau memang itu yang kau minta!"
Dugggg
Krystal langsung berdiri sempoyongan sesaat setelah kepalanya dibenturkan ke tembok oleh Nania. Tak mau jatuh pingsan, dengan cepat tangan Krystal meraih tubuh salah satu temannya kemudian bersender di sana sambil mengerjapkan mata. Pusing.
"Bagaimana? Enak?" tanya Nania sarkas. "Itulah yang aku rasakan saat kau menjegal kakiku tadi. Lihat, gara-gara ulahmu sekarang kulit hidungku sampai terkelupas. Awas saja kalau sampai meninggalkan bekas luka yang tidak bisa dihilangkan, aku bersumpah akan menangkapmu lalu membuat luka yang sama juga di wajahmu. Dasar setan kau, Krystal!"
"Ja-jaga mulutmu, gadis liar. Ka-kau pikir kau itu siapa hah ingin menyakitiku!" sahut Krystal sambil menahan sakit. Bahkan suaranya masih terbata, tapi dia tak mau mengalah. Enak saja Nania mengancam ingin melukai wajahnya. Huh.
"Apa kau bilang? Liar?"
Teman-teman Krystal langsung waspada saat Nania maju mendekati mereka. Gerombolan nenek gayung itu kemudian beringsut menjauh, tak membiarkan Nania berada dalam jarak yang dekat. Melihat hal lucu itupun membuat Nania jadi terpikir untuk mengerjai mereka. Dan kebetulan dia mendengar suara derap kaki mendekat ke arah kamar mandi.
"Krystal, aku tahu kau marah karena kejadian waktu itu. Tapikan yang membongkar perbuatan kalian bukan aku, melainkan para mahasiswa yang lain. Jadi aku mohon tolong berhentilah membully-ku. Aku sudah tidak kuat lagi!" ucap Nania memohon sambil menggosok-gosokkan telapak tangan di depan dada. Lancar sekali sandiwara ini. Hahai.
"Nania, kau ... kau kenapa jadi seperti ini? Rencana apalagi yang ingin kau lakukan?" cecar Krystal syok melihat sikap Nania yang tiba-tiba berubah seratus delapan puluh derajat. Aneh sekali gadis ini. Bukankah barusan dia memperlihatkan sikap yang begitu brutal ya? Tapi kenapa bisa berubah dalam waktu singkat? Apa yang sebenarnya terjadi?
"A-aku, aku ....
Nania pura-pura tergagap. Oh, jelas. Telinganya yang tajam telah menangkap sinyal bisik-bisik tetangga dari arah belakang. Dan betapa bodoh Krystal dan teman-temannya yang masih belum menyadari hal tersebut. Kalau saja mereka sadar, mereka pasti akan langsung tahu penyebab mengapa Nania bersikap seperti ini. Tapi ya sudahlah. Begini malah jauh lebih baik karena Nania jadi mempunyai hiburan dikala Susan dan Tasya tidak berada di sampingnya.
"Kau kenapa, sialan. Jangan menakutiku!" hardik Krystal habis kesabaran.
__ADS_1
"Yakkk Krystal, apa yang sedang kau lakukan pada Nania? Kau membully-nya lagi ya!"
Sontak suara bentakan dari arah belakang Nania membuat tubuh Krystal dan teman-temannya kaku di tempat. Bagaimana tidak kaku. Ada sekitar empat mahasiswi tengah menatap garang pada mereka sambil merekam video. Fiks, Nania menjebaknya lagi. Anak satu ini benar-benar sangat sialan sekali. Arrrgggggg.
"Nania, apa yang terjadi? Kau baik-baik saja 'kan?"
"Aku baik-baik saja. Tapi ... kulit hidungku terkelupas karena tadi Krystal menjegal kakiku saat keluar dari toilet. Lihat, sekarang aku jadi buruk rupa 'kan?" jawab Nania seraya memperlihatkan luka yang masih mengeluarkan sedikit darah. Lukanya sih tidak terlalu sakit, tapi rekeningnya yang pasti akan menjerit kesakitan saat diminta untuk membayar uang tagihan perawatan dan juga kecantikan. Ya ampun, gara-gara masalah darurat ini Nania jadi harus berpikir keras untuk menentukan sugar daddy mana yang akan dia peras uangnya.
"Ya ampuun! Krystal, kau ini benar-benar ya. Apa masih belum cukup juga kejahatan yang kau lakukan tempo hari? Masih harus ya melukai Nania sampai seperti ini?" hardik salah satu mahasiswi dengan penuh amarah.
"Kami sama sekali tidak melakukan apapun pada Nania. Saat aku dan teman-temanku masuk ke kamar mandi, Nania sudah jatuh terduduk di lantai. Kami ... kami sama sekali tidak sedang membully-nya. Sungguh!" sahut Krystal mencoba untuk membela diri. Dia lalu menggeretakkan gigi saat tak sengaja melihat Nania yang sedang tersenyum tipis.
Brengsek! Aaaarrrgghhh, Nania. Awas kau ya!
"Sudah-sudah jangan di perpanjang lagi. Aku tidak mau keributan ini sampai di dengar oleh dekan. Kasihan Krystal dan teman-temannya kalau harus di hukum lagi. Mereka kan baru sehari masuk ke kampus!" ucap Nania melerai dengan di barengi ekpresi sedih dan teraniaya. Seperti biasa. Hehehe.
"Tapi mereka ....
"Tidak apa-apa. Yang sudah terjadi biarlah terjadi, aku tidak mau mempermasalahkannya lagi. Lebih baik sekarang kalian temani aku ke ruang kesehatan saja ya. Jujur, aku masih sedikit takut di sana nanti akan ada orang yang tiba-tiba menyerangku lagi. Kalian mau 'kan?"
"Ya ampun, selain cantik kau juga sangat baik hati sekali, Nania. Haihhh, tapi ya sudahlah kalau memang itu maumu. Dan kau Krystal, lihat. Kalau bukan karena Nania, aku pasti sudah menyerahkan bukti rekaman video ini ke pihak kampus. Dasar senior kejam. Bisa-bisanya ya membully juniornya sendiri. Huh!"
Rasanya ingin sekali Krystal menghunus pedang kemudian mencincang tubuh Nania menjadi tujuh ratus potongan kecil-kecil saat melihatnya memamerkan jari tengah di belakang punggung ketika akan keluar dari dalam kamar mandi. Dia yang kala itu masih merasa pusing hanya bisa mengumpat kasar sambil memukuli dinding karena harus kalah lagi dari gadis murahan itu.
"Arrrggghhh, kau benar-benar sangat brengsek, Nania! Aku membencimu!!!!"
__ADS_1
***