
📢📢📢 BOM KOMENTARNYA BESTIE 💜
***
"Jo, Ayah ingin bicara denganmu. Duduklah, jangan pergi dulu!" ucap Ardan seraya menatap Jovan yang sedang berjalan menuju pintu.
Jovan adalah putraku, sedangkan Krystal adalah anak sahabatku. Pada siapa aku harus memilih? Dulu aku pernah hampir kehilangan Jovan gara-gara aku yang terlalu egois, tapi apa iya aku sanggup membiarkannya berpacaran dengan Nania yang bukan siapa-siapa? Apa kata Kendy dan Aileen nanti? ujar Ardan dalam hati.
"Ayah, waktuku sudah sangat mepet. Bisakah kita bicara setelah aku pulang nanti?" tanya Jovan sambil melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Sebentar saja, Jo. Dan Ayah harus mendapatkan jawabannya detik ini juga," jawab Ardan sebisa mungkin bicara dengan hati-hati. Dia tidak ingin putranya ini sampai merasa tersinggung.
Menyadari gurat kehati-hatian di wajah sang ayah membuat Jovan langsung tanggap pembicaraan macam apa yang akan mereka bahas. Sambil menghela nafas panjang, Jovan akhirnya mengabulkan apa yang di inginkan oleh ayahnya. Dia dengan wajah yang masam dan juga dingin berjalan menuju sofa, tak mengindahkan keberadaan sang ibu yang memang sedang duduk di sana.
"Jo, kau mau pergi kemana?" tanya Silvi.
"Ibu, aku tahu Ayah dan Ibu sebenarnya sudah tahu kalau aku ingin pergi menemui Nania. Jadi tolong jangan bersikap seolah kalian tidak tahu apa-apa. Itu terlalu palsu untukku!" jawab Jovan tanpa basa basi.
__ADS_1
"Jo, jangan begitu, sayang. Ya memang benar Ayah dan Ibu sudah tahu kalau kau itu ingin pergi menemui Nania. Tapi kami ...
"Bu, sudahlah!" sela Jovan langsung memotong perkataan ibunya. "Hari sudah semakin malam dan Nania sudah menunggu kedatanganku. Lebih baik sekarang Ayah dan Ibu segera beritahu aku hal apa yang ingin kalian bicarakan. Kalian harus tahu kalau sangatlah sulit untukku bisa mendapatkan cinta Nania. Jadi tolong kalian jangan sampai menjadi penghalang dalam hubungan kami. Aku mencintainya, dan hanya Nania satu-satunya wanita yang aku inginkan!"
Ardan dan Silvi saling melempar pandangan saat mendengar penegasan Jovan. Sulit, sepertinya sudah tidak ada celah untuk mereka meminta Jovan agar mau membuka hatinya untuk Krystal. Sebenarnya bisa saja Ardan mengancam Jovan dengan cara akan mencabut posisinya sebagai pewaris seluruh bisnis keluarga. Akan tetapi Ardan masih ingat kalau hal ini sama sekali bukan masalah bagi putranya itu. Jovan bahkan pernah terang-terangan mengatakan bahwa dia tidak keberatan bekerja pada perusahaan yang selama ini menjadi musuh bebuyutan perusahaan mereka. Dan dari sini Ardan sudah bisa menarik kesimpulan kalau keputusan putranya itu tidak akan bisa dirubah meski di ancam sekalipun. Ibarat kata, hanya akan sia-sia saja karena Jovan tidak takut untuk keluar dari rumah ini.
"Apa hal yang ingin Ayah dan Ibu bicarakan berhubungan dengan Krystal?" tanya Jovan. Dia bosan menunggu seperti ini.
"Hmmm, Jo. Sebenarnya sekarang ini posisi Ayah sangatlah terjepit. Kau adalah anak kebanggaan Ayah. Sedangkan Krystal, dia adalah anak dari teman lama Ayah. Ayah dan Paman Kendy memang pernah membuat rencana untuk menjodohkan kalian berdua. Namun melihatmu yang bahkan lebih memilih untuk menjadi musuh dengan keluargamu sendiri, Ayah rasa Ayah lebih memilih untuk di benci oleh Paman Kendy dan Bibi Aileen saja. Cukup sekali itu Ayah hampir kehilanganmu, tidak dengan kali ini. Jadi ....
"Jadi Ayah memilih untuk membiarkanmu menjalin hubungan dengan Nania ketimbang Ayah harus melihatmu bekerja pada perusahaan yang selama ini menjadi musuh bebuyutan keluarga kita. Kau terlalu berharga jika harus di tukar dengan semua itu, Jo. Kau adalah putra Ayah, kau kebanggaan keluarga ini!" lanjut Ardan dengan pasti.
Sebuah senyum penuh kelegaan langsung menghiasi bibir Jovan begitu dia mendengar kalau orangtuanya telah memberikan restu atas hubungannya dengan Nania. Malam ini Jovan benar-benar sedang kejatuhan bulan. Dia mendapat dua keuntungan sekaligus. Yaitu gagalnya perjodohan antara dia dengan Krystal, juga dengan kerelaan orangtuanya dalam memberikan restu pada kisah cintanya dengan Nania.
"Jovan, Ibu pun setuju dengan keputusan Ayahmu. Ibu memang sangat ingin berbesan dengan ibunya Krystal. Akan tetapi jika hal ini malah menyakitimu hatimu, maka Ibu lebih memilih untuk berbesan dengan orang lain saja. Ayah dan Ibu kini semakin tua, dan yang sangat kami inginkan adalah melihatmu dan juga melihat adikmu hidup bahagia dengan pilihan masing-masing. Ibu merestui hubunganmu dengan Nania, sayang," ucap Silvi penuh ketulusan. Hatinya terasa begitu membuncah melihat senyum bahagia di bibir putranya.
"Ayah, Ibu. Nania adalah gadis terbaik yang pernah aku kenal. Di balik sikapnya yang terlalu terus terang dan juga brutal, dia sebenarnya adalah seorang gadis yang penuh dengan kasih sayang. Nania di besarkan di tengah-tengah keluarga yang sederhana dan juga penuh cinta kasih, jadi aku berani jamin kalau Ayah dan Ibu tidak akan mungkin menyesal jika memiliki menantu seperti dia. Sungguh!" ucap Jovan sambil menatap bergantian ke arah ibu dan ayahnya.
__ADS_1
"Benarkah?" ledek Silvi sembari menyeka matanya yang sudah tergenangi cairan bening. Hatinya begitu haru menyaksikan bagaimana Jovan begitu menggebu saat menceritakan tentang Nania.
"Tentu saja. Mungkin kalian pernah mendengar dari Rhea dan juga Krystal kalau di kampus Nania itu di kenal dengan image gadis seksi yang begitu menggemari para sugar daddy. Fakta itu sangat benar, tapi sugar daddy yang di incar oleh Nania adalah orang-orang sukses seperti aku. Dan untuk sampai di posisi ini aku harus rela berjauhan dengan Nania selama bertahun-tahun. Aku belajar banyak tentang arti kehidupan dari Nania, dan sampai detik ini aku masih belum bisa melupakan kejadian di mana Nania menyebutku sebagai seorang pengecut karena aku memilih untuk menyakiti diri sendiri saat mendengar Ayah dan Ibu ingin bercerai. Dari situ aku mulai meng-intropeksi diri, mencari tahu di mana letak kesalahanku sampai aku tidak bisa menerima keputusan kalian dulu. Dan semakin aku mengenal Nania, aku jadi semakin tahu kalau semua permasalahan yang muncul dalam hidupku adalah karena aku yang kurang dalam hal bersyukur. Aku lupa bahwa apa yang aku miliki sekarang hanyalah titipan Tuhan. Dan itu adalah kesalahan terbesar yang pernah aku lakukan dalam hidup ini Ayah, Ibu!" jelas Jovan mengenang betapa berartinya seorang Nania dalam hidupnya.
"Untuk saat ini Ayah dan Ibu memang belum mengenal Nania secara dekat. Akan tetapi setelah mendengar pengakuanmu, Ibu jadi penasaran siapa sebenarnya Nania. Entah kenapa Ibu jadi merasa kalau Nania itu bukan berasal dari keluarga sembarangan. Benar tidak, Jo?" tanya Silvi yang begitu takjub akan sifat seorang Nania. Dia jadi merasa sangat penasaran pada gadis itu.
Sebelum menjawab, Jovan bangkit dari duduknya. Dia lalu menatap kedua orangtuanya sambil tersenyum, bersiap untuk memberitahukan fakta luar biasa tentang kekasihnya yang seksi itu.
"Ayah, Ibu. Nania adalah anak dari sepasang suami-istri yang berasal dari pedesaan. Dia memiliki dua orang kakak perempuan yang kedua-keduanya sudah menikah dengan orang berstatus tinggi. Kakak pertama Nania bernama Lusi, beliau adalah seorang desainer pakaian anak-anak dan sudah memiliki butik sendiri. Suami Kak Lusi bernama Kak Gleen, dia adalah seorang pembisnis besar. Ayah tidak mungkin tidak mengenal siapa Kak Gleen bukan?" tanya Jovan. "Lalu kakak keduanya bernama Luri, dia adalah sahabatku yang juga adalah seorang dokter. Luri di persunting oleh pewaris dari salah satu keluarga ternama di Jepang, yaitu pewaris dari Eiji Group. Dan kedua mertua Luri adalah kerabat dekat dari pemilik Group Ma, Nyonya Liona dan Tuan Greg. Ayah dan Ibu pasti kenal siapa mereka bukan?"
Ardan dan Silvi langsung ternganga syok begitu mengetahui latar belakang keluarga Nania. Sungguh, mereka sama sekali tidak pernah menyangka kalau kekasihnya Jovan berada dalam lingkup orang-orang yang tidak boleh sembarangan di sentuh. Luar biasa, ini benar-benar sangat luar biasa.
"Ayah, Ibu. Nania, Kak Lusi, dan juga Luri adalah tiga orang perempuan yang sangat pantas untuk di perjuangkan. Bukan karena siapa mereka, tapi karena mereka memiliki apa yang orang lain tidak miliki. Ketiga perempuan ini adalah malaikat tak bersayap, dan aku akan menjadi orang beruntung selajutnya jika aku berhasil mempersunting Nania. Tolong percaya padaku. Suatu saat nanti Nania pasti akan membawa keberuntungan yang sangat besar untuk keluarga kita. Dia adalah berlian yang sangat amat berharga Ayah, Ibu. Sungguh!"
Setelah berkata seperti itu Jovan langsung pergi meninggalkan kedua orangtuanya yang masih syok setelah mengetahui siapa Nania. Dengan di iringi senyum yang sangat manis, Jovan pun melajukan mobil menuju rumah Nania. Dia sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan bidadarinya. Hehehe.
*******
__ADS_1