
📢📢📢 BOM KOMENTARNYA BESTIE 💜
***
"Jovan kemana ya? Tumben sekali dia belum menghubungiku," gumam Nania heran sambil menatap layar ponselnya.
Setelah pulang dari menjenguk Tasya, Nania memutuskan untuk langsung pulang ke rumah saja. Dia mengabaikan rengekan Susan yang ingin mengajaknya pergi menonton. Alasannya satu, Nania merindukan bantal gulingnya. Juga karena dia yang merasa cukup lelah setelah beberapa hari ini rutin menebar pesona kesana kemari. Biasalah, namanya juga bunga kampus, sayangkan kalau kecantikannya tidak di sedekahkan? 😁
"Apa aku datangi rumahnya saja ya? Ah, tidak-tidak. Nanti dia besar kepala jika tahu aku menyukainya, dan juga bagaimana dengan nasib harga diriku nanti jika dunia tahu aku mendekati pria lebih dulu. Semua orang pasti akan tertawa dan mengolok-olokku. Heumm!" ucap Nania bermonolog dengan dirinya sendiri.
Saat Nania sedang memikirkan Jovan yang tak kunjung menghubunginya, seseorang datang mengetuk pintu kamar. Dengan raut wajah malas Nania bergerak turun dari ranjang kemudian berjalan gontai menuju pintu lalu membukanya.
"Kak Lusi, ada apa? Tolong jangan memintaku melakukan apa-apa dulu ya, mood-ku sedang sangat buruk sekarang," ucap Nania ketika melihat sang kakak hendak bicara.
Lusi terperangah heran mendengar ucapan Nania. Dan di detik selanjutnya Lusi di buat semakin heran akan tingkah Nania yang tiba-tiba memeluknya.
"Kak Lusi, sepertinya aku telah kehilangan sugar daddy-ku. Seharian ini Jovan tidak menghubungiku. Bagaimana kalau dia lari ke pelukan gadis lain sebelum sempat aku mencicipi uangnya. Kan sayang,"
"Nania-Nania, kau ini bicara apa sih. Sembarangan saja," sahut Lusi sembari mengusap pelan punggung Nania. Dia bingung apakah harus marah atau malah tertawa mendengar pengakuan Nania yang takut di tingal pergi oleh Jovan hanya karena belum sempat mencicipi uangnya.
"Aku bicara sesuai dengan fakta yang terjadi, Kak. Buktinya sekarang Jovan hilang tanpa kabar. Padahal ya, selama ini dia begitu rutin menguntit keseharianku lewat akun media sosial. Tapi hari ini, zonk. Sugar daddy-ku hilang tak berbekas!" keluh Nania tanpa melepaskan pelukan dari tubuh sang kakak. Dia benar-benar sedang kehilangan sekarang.
"Siapa bilang Jovan hilang tanpa kabar?" tanya Lusi seraya tersenyum kecil.
"Tentu saja aku yang bilang, Kak Lusi. Bagaimana sih," jawab Nania kesal.
__ADS_1
"Kalau benar Jovan hilang tanpa kabar, lalu siapa yang sedang menunggumu di ruang tamu, hem?"
Kening Nania langsung mengerut begitu mendengar perkataan sang kakak. Setelah itu dia mengurai pelukan, menatap lekat wajah cantik kakaknya yang sedang tersenyum-senyum tidak jelas.
Kak Lusi kenapa ya? Seperti orang yang sedang cacingan saja, ujar Nania dalam hati.
"Keluar dan pergilah ke ruang tamu. Jovan sedang menunggumu di sana," ucap Lusi sembari mencolek dagu Nania. Gemas.
"Aku malas, Kak. Kan tadi aku sudah bilang kalau mood-ku sedang buruk, jadi suruh orang itu pergi saja. Aku tidak mau menemuinya,"
Dan begitu Nania selesai bicara, dia langsung tersadar kalau kakaknya baru saja menyebut na Jovan. Secepat kilat Nania langsung berlari keluar, meninggalkan kakaknya yang sedang tertawa sambil menggelengkan kepala.
"Sudah sebesar ini kau masih saja kekanakan, Nania. Hmmm,"
"Jo, bersiaplah. Pembuat onar itu sudah datang," ucap Luyan sambil menghela nafas. Dia yakin sekali kalau Nania pasti akan langsung bersikap kegenitan pada Jovan.
"Tidak apa-apa, Paman. Malah ini yang aku tunggu-tunggu sejak kembali ke negara ini," sahut Jovan santai.
Dan tak lama kemudian, Nania benar-benar muncul kemudian langsung menghambur ke arah Jovan. Tanpa merasa malu Nania pun memeluk Jovan tepat di hadapan ayahnya. Dia tak peduli.
"Nania, jaga sikapmu. Jovan adalah tamu di rumah ini, kau tidak boleh tidak sopan kepadanya. Paham!" tegur Luyan sedikit tak suka melihat cara Nania berinteraksi dengan Jovan. Biar bagaimana pun Nania adalah seorang gadis, rasanya kurang pantas melihatnya sembarangan memeluk laki-laki seperti ini.
"Tamu apa si, Ayah. Nantinya Jovan juga akan menjadi bagian dari keluarga kita. Iya kan, Jo?" sahut Nania sambil mengurai pelukannya. Dia lalu duduk di sebelah Jovan kemudian menggaet lengannya tanpa merasa ragu sedikit pun.
Luyan hanya bisa menarik nafas panjang melihat keagresifan Nania. Luyan benar-benar sudah tidak tahu lagi harus bagaimana cara menjinakkan anak bungsunya ini. Sedangkan Jovan, dia malah terlihat sangat bahagia akan respon Nania yang langsung berlari ke pelukannya. Jujur, tadinya dia merasa canggung karena saat ini Paman Luyan sedang duduk di hadapan mereka. Akan tetapi Jovan juga tidak bisa menolak perlakuan Nania yang begitu manis. Jadi ya sudah, seperti inilah mereka sekarang. Duduk bersebelahan dengan tangan Nania yang bergelayut manja di lengannya.
__ADS_1
"Jovan, pakaianmu formal sekali. Apa kau baru saja kembali dari kantor?" tanya Nania penasaran. Dia cukup tahu kalau jas yang di pakai oleh Jovan adalah jas keluaran terbaru dari rumah mode ternama.
"Iya kau benar. Aku memang baru pulang dari kantor lalu memutuskan untuk mampir kemari," jawab Jovan. "Hari ini Ayah meresmikan aku sebagai penggantinya. Dan mulai besok aku sudah mulai aktif bekerja di perusahaan!"
"Uwahhhh, benarkah itu?"
Mata Nania langsung berbinar terang begitu dia tahu kalau sekarang Jovan telah resmi menjadi seorang bos. Sungguh, ini adalah jackpot terbesar yang pernah Nania dengar. Dia pikir Jovan masih harus menunggu beberapa lama sebelum diminta untuk menggantikan posisi ayahnya di kantor. Siapa yang akan menyangka kalau malam ini Nania benar-benar telah menemukan sugar daddy beserta dengan tambang uangnya. Tuhan begitu baik hati sekali bukan? Hohoho, tentu saja. Siapa dulu ciptaannya, Nania.
"Nania, apa kau senang dengan statusku yang sekarang?" tanya Jovan dengan hati yang sudah meleleh melihat Nania yang semakin manja padanya setelah tahu kalau dia telah menjadi seorang bos. Kalau saja tak ingat ada Paman Luyan di sana, Jovan pasti sudah mencium gadis cantik ini. Sayang hal itu tidak bisa dia lakukan sekarang. Hmmm.
"Tentu saja aku sangat senang, Jovan. Bayangkan saja. Kau tampan dan sekarang kau adalah seorang bos. Dengan begini masa depanku sudah pasti bisa terjamin dengan sangat baik. Benar tidak, Ayah?" sahut Nania seraya melemparkan pertanyaan pada sang ayah. Dia bahagia sekali.
"Nania, jangan seperti itu. Jovan bukan ....
"Ssstttt, Ayah, stop memberiku nasehat. Okey?" sela Nania sambil menempelkan jari telunjuk ke depan bibirnya. "Sedari kami masih sekolah, Jovan itu sudah tahu kalau aku telah menandainya sebagai suami masa depanku. Dan kebetulan sekali dia sangat sesuai dengan kriteria yang ku inginkan, yaitu sugar daddy yang tampan dan kaya raya. Sangat sempurna. Lagipula ya Ayah. Tidak akan ada wanita yang mau menikah dengan laki-laki bermasa depan suram. Karena apa? Karena sekarang adalah zamannya apa-apa selalu di beli dengan uang. Memangnya Ayah mau melihatku menikah kemudian hidup susah dengan pasanganku? Tidak 'kan?"
"Tapi kan tidak begini juga, Nania. Jovan bisa beranggapan buruk tentangmu kalau kau seterus-terang ini di hadapannya," jawab Luyan mulai frustasi menghadapi Nania.
"Paman, aku malah senang dengan cara berpikir Nania. Memang sudah sewajarnya untuk seorang wanita mencari pasangan yang sudah mapan. Aku sama sekali tidak keberatan di sebut sebagai sugar daddy oleh Nania. Toh tujuanku menjadi kaya dan sukses adalah agar kami bisa bersama. Iya 'kan, Nania?" sahut Jovan tanpa ragu bicara seperti itu di hadapan Paman Luyan. Masa bodo. Dia benar-benar tidak peduli dengan cara Nania menyebutnya. Karena yang paling penting Nania mau memilihnya. Itu sudah lebih dari cukup untuk Jovan.
"Tentu saja. Akan sangat bodoh jika aku sampai menolak pria sesempurna dirimu, Jo," jawab Nania sambil tersenyum semringah.
Melihat kekompakan Jovan dan Nania, membuat Luyan hanya bisa mengeluh di dalam hati. Dia tidak mengerti kenapa sikap Nania bisa begitu berbeda dari kedua kakaknya. Jovan juga. Luyan sungguh heran melihatnya yang begitu bahagia di juluki sebagai sugar daddy oleh Nania. Dia gagal untuk mengerti cara berpikir dari kedua anak ini. Sungguh.
******
__ADS_1